JAKARTA, KOMPAS.TV - Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai Bank Indonesia (BI) menghadapi tantangan ekonomi yang semakin kompleks di tengah gejolak global dan tekanan domestik.
Menurut Josua, tantangan ekonomi saat ini tidak dapat disamakan dengan masa pandemi Covid-19 karena penyebab dan dampaknya berbeda.
"Kalau kita bicara konteks ekonominya sendiri, krisis pandemi Covid-19 dan kondisi saat ini merupakan kondisi yang tidak bisa kita bandingkan satu per satu, baik dari sisi penyebab maupun dampaknya," kata Josua dalam wawancara dengan Kompas TV, Senin (27/7/2026).
Baca Juga: Mundur dari Gubernur BI, Segini Harta Kekayaan Perry Warjiyo
Ia menjelaskan, tekanan ekonomi saat ini lebih banyak dipicu faktor eksternal, terutama konflik geopolitik di Timur Tengah yang memengaruhi perekonomian global.
Sementara dari dalam negeri, tantangan datang dari kenaikan biaya produksi, melemahnya daya beli masyarakat, hingga menurunnya kontribusi sektor manufaktur.
Dalam menghadapi tekanan tersebut, Josua menilai langkah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan pada periode sebelumnya merupakan kebijakan yang tepat untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Namun, menurutnya, warisan kebijakan Perry Warjiyo tidak hanya sebatas kenaikan suku bunga. Salah satu terobosan penting adalah penerbitan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang dinilai berhasil menarik aliran modal asing ke pasar keuangan domestik.
Baca Juga: Prabowo Panggil Mendiktisaintek ke Istana, Bahas Apa?
"SRBI menjadi salah satu kebijakan penting. Aliran modal asing masih membukukan inflow di instrumen tersebut sehingga mampu menahan capital outflow dari pasar keuangan domestik dan membantu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah," ucap Josua.
Penulis : Dina Karina Editor : Tito-Dirhantoro
Sumber : Kompas TV
- tantangan bank indonesia
- kebijakan moneter bi
- gubernur bi mundur
- perry warjiyo
- destry damayanti






Komentar (0)