jpnn.com, JAKARTA - Pengamat politik Ubedilah Badrun menilai pernyataan Presiden RI Prabowo Subianto yang memberi label Londo Ireng bagi jurnalis, aktivis, dan pengamat menyesatkan dan bermotif negatif.
"Menyesatkan, karena antara makna Londo Ireng yang sebenarnya dengan konteks yang ia sebutkan melekatkan sesuatu yang keliru pada subyek yang disebutkan," kata Ubed sapaaan Ubedilah Badrun melalui layanan pesan, Senin (27/7).
BACA JUGA: Pernyataan Prabowo Soal Londo Ireng Bisa Berujung Kemunduran Demokrasi
Dia mengatakan makna substantif Londo Ireng berarti pengkhianat negara.
Sementara itu, jurnalis, aktivis, dan pengamat bekerja di area profesional berbasis keilmuan.
BACA JUGA: Prabowo Seharusnya Terima Kasih ke Aktivis Hingga Jurnalis, Bukan Melabeli Londo Ireng
"Jadi, diksi Londo Ireng yang dilekatkan kepada jurnalis, aktivis, dan pengamat itu pelabelan yang sangat keliru dan menyesatkan," kata Ubed.
Selain itu, kata dia, dalam logika bahasa kekuasaan, setiap narasi yang diproduksi penguasa sesungguhnya selalu memiliki motif.
BACA JUGA: Prabowo Sebut Wartawan Londo Ireng, Guntur PDIP: Berbahaya Bagi Demokrasi
"Dengan logika itu maka narasi londo ireng yang diucapkan Presiden memiliki motif tertentu," ujarnya.
Ubed mengatakan motif Prabowo bisa ditafsirkan bahwa Kepala Negara ingin melakukan stigma negatif terhadap jurnalis, aktivis, dan pengamat.
"Ya, sekaligus bisa ditafsirkan melakukan kontrol atau represi verbal terhadap jurnalis, aktivis, dan pengamat. Komunikasi publik Presiiden Prabowo kualitasnya makin buruk," katanya.
Sebelumnya, Presiden RI Prabowo Subianto menuding masih ada Londo Ireng di Indonesia yang sekarang memakai identitas sebagai jurnalis hingga LSM.
Londo Ireng sendiri adalah istilah dari bahasa Jawa (gabungan Londo yang berarti orang Belanda dan Ireng yang berarti hitam).
Istilah itu diartikan sebagai orang Indonesia yang saat itu mengabdi terhadap Belanda atau bangsa lain.
Prabowo menyampaikan itu saat memberikan sambutan dalam Peringatan Hari Lahir ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Jakarta Convention Center, pada Kamis (23/7) malam.
Mulanya, Prabowo menyebutkan bahwa ada media yang masih sering mencari-cari kesalahan pemerintah termasuk soal pembangunan sekolah.
“Ada juga media-media yang, walaupun sudah diperbaiki 67 ribu sekolah, dia cari sekolah yang belum diperbaiki, dia taruh di halaman pertama. Dia kira kami enggak ngerti,” ujar Prabowo.
Meski begitu, dia mengaku tidak akan menyebutkan nama media yang dimaksud tersebut.
“Ini negara demokrasi, kami tidak antikritik, tetapi kita bukan anak kecil," ujarnya.
Dia menuding bahwa masih ada orang Indonesia yang senang mengabdi dan berbakti kepada bangsa lain.
“Itu yang dahulu disebut Londo Ireng, ya, yang ikut Belanda perang melawan kita. Londo-londo Ireng ini sampai sekarang masih ada. Hanya dia sekarang pakai baju lain. Wartawan, jurnalis, apa itu, pengamat, LSM,” tuturnya. (ast/jpnn)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Prabowo Tuding Masih Ada Londo Ireng di Indonesia, Jadi Jurnalis, Pengamat, hingga LSM
Redaktur : Dedi Sofian
Reporter : Aristo Setiawan





Komentar (0)