Teheran: Iran menyatakan komunikasi dengan Amerika Serikat (AS) masih terus berlangsung, namun Teheran menilai belum ada kondisi yang memungkinkan kedua negara kembali berunding.
Dalam wawancara dengan stasiun televisi Austria ORF, Minggu, 26 Juli 2026, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei mengatakan prioritas pemerintah saat ini adalah mempertahankan kedaulatan, keutuhan wilayah, dan rakyat Iran.
"Kami terus bertukar pesan, tetapi prioritas kami saat ini adalah mempertahankan kedaulatan, keutuhan wilayah, dan rakyat Iran," kata Baqaei, dikutip dari Anadolu.
Baqaei menuduh Washington berulang kali merusak upaya diplomasi melalui aksi militernya. Menurutnya, serangan AS telah menghancurkan kondisi yang diperlukan untuk melanjutkan perundingan serta melanggar berbagai kesepahaman yang sebelumnya telah dicapai.
Ia juga menyebut serangan terbaru AS sebagai kelanjutan dari "perang ilegal" terhadap Iran.
Mengenai Selat Hormuz, Baqaei mengatakan Iran tetap menjalankan tanggung jawabnya menjaga keamanan pelayaran internasional. Namun, ia menegaskan Teheran tidak akan membiarkan jalur pelayaran strategis itu digunakan untuk mengancam keamanan nasional Iran.
Baqaei turut menyalahkan AS dan Israel atas meningkatnya ketegangan di kawasan. Menurutnya, operasi militer kedua negara telah memperburuk situasi keamanan regional.
Terkait kesepakatan nuklir 2015, Baqaei menilai negara-negara Eropa gagal memenuhi komitmennya setelah AS menarik diri dari perjanjian tersebut. Ia mengatakan negara-negara Eropa "berutang besar" kepada Iran karena tidak menjalankan kewajibannya.
Ketegangan antara AS dan Iran meningkat dalam beberapa pekan terakhir setelah kedua negara saling melancarkan aksi militer. Presiden AS Donald Trump sebelumnya juga menyatakan nota kesepahaman (MoU) dengan Iran telah berakhir.
Di sisi lain, Axios melaporkan Trump telah menginstruksikan militer AS untuk tidak melancarkan serangan baru terhadap Iran, mengakhiri hampir dua pekan operasi pengeboman harian. Laporan tersebut mengutip sumber yang mengetahui keputusan itu.
Baca juga: Trump Tunda Serangan ke Iran untuk Kali Kedua, Beri Ruang untuk Diplomasi





Komentar (0)