Kecerdasan Buatan Masuk ke Dunia Akuntansi, Apakah Akuntan Akan Tergantikan?

kumparan.com
9 jam lalu
Cover Berita

Kecerdasan buatan dalam dunia akuntansi mulai mengubah cara perusahaan mencatat transaksi, memeriksa data, menyusun laporan, hingga mendeteksi kejanggalan keuangan. Pekerjaan yang dahulu membutuhkan waktu berjam-jam kini dapat diselesaikan lebih cepat dengan bantuan perangkat lunak dan otomatisasi.

Perubahan ini menimbulkan kekhawatiran, terutama di kalangan mahasiswa dan pekerja bidang akuntansi. Ketika mesin mampu menghitung, mengelompokkan transaksi, dan membaca ribuan data dalam waktu singkat, apakah perusahaan masih membutuhkan akuntan?

Kekhawatiran tersebut cukup beralasan. Namun, masuknya kecerdasan buatan atau artificial intelligence bukan berarti seluruh pekerjaan akuntan akan hilang. Hal yang lebih mungkin terjadi adalah perubahan jenis pekerjaan, keterampilan, dan tanggung jawab yang harus dimiliki seorang akuntan.

Kecerdasan Buatan dalam Dunia Akuntansi

Kecerdasan buatan merupakan teknologi yang memungkinkan sistem komputer melakukan tugas yang biasanya membutuhkan kemampuan manusia, seperti mengenali pola, memahami bahasa, mempelajari data, dan menghasilkan rekomendasi.

Dalam akuntansi, teknologi ini dapat digunakan untuk membaca dokumen transaksi, mengelompokkan pengeluaran, mencocokkan data rekening bank, memeriksa faktur, serta membantu menemukan transaksi yang tidak biasa.

Contoh sederhananya dapat ditemukan dalam proses pencatatan keuangan. Dahulu, staf akuntansi harus memasukkan data transaksi satu per satu. Saat ini, sistem dapat mengambil informasi dari nota atau faktur digital, kemudian memasukkannya ke dalam kategori yang sesuai.

Pada bidang audit, AI juga dapat membantu memeriksa data dalam jumlah jauh lebih besar. Auditor tidak hanya bergantung pada beberapa sampel transaksi, tetapi dapat menggunakan analisis data untuk mengenali pola dan menentukan bagian yang memiliki risiko lebih tinggi.

International Federation of Accountants atau IFAC menyebut bahwa kecerdasan buatan membuka peluang sekaligus membawa risiko baru bagi profesi akuntan. Penggunaan AI perlu disertai tata kelola, pengawasan, dan pertimbangan etika yang memadai.

Pekerjaan Rutin Paling Mudah Diotomatisasi

Tidak semua pekerjaan akuntansi memiliki tingkat risiko otomatisasi yang sama. Pekerjaan yang berulang, memiliki aturan jelas, dan menggunakan format data yang seragam lebih mudah digantikan atau dibantu oleh sistem.

Beberapa tugas tersebut meliputi:

1. memasukkan data transaksi;

2. mencocokkan saldo;

3. membuat perhitungan berulang;

4. mengelompokkan dokumen;

5. menyusun laporan standar;

6. memeriksa kelengkapan data.

World Economic Forum dalam Future of Jobs Report 2025 menempatkan pekerjaan administrasi akuntansi, pembukuan, dan penggajian di antara pekerjaan yang diperkirakan mengalami penurunan akibat otomatisasi dan perubahan teknologi. Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa banyak perusahaan berencana mengurangi tenaga kerja pada bagian yang tugasnya dapat diotomatisasi oleh AI.

Namun, penurunan kebutuhan terhadap pekerjaan rutin tidak sama dengan hilangnya seluruh profesi akuntan. Teknologi biasanya menggantikan sebagian tugas, bukan seluruh peran seseorang.

Sebuah kalkulator dapat menggantikan proses menghitung secara manual, tetapi tidak dapat secara otomatis menentukan keputusan bisnis yang paling tepat. Begitu pula dengan AI. Sistem dapat mengolah data dengan cepat, tetapi tetap membutuhkan manusia untuk menilai apakah hasilnya masuk akal dan sesuai dengan kondisi perusahaan.

AI Cepat Mengolah Data, tetapi Tidak Selalu Memahami Konteks

Kecerdasan buatan bekerja berdasarkan data, pola, dan instruksi yang diberikan. Kualitas hasilnya sangat bergantung pada kualitas informasi yang masuk ke dalam sistem.

Apabila data perusahaan tidak lengkap, salah, atau mengandung bias, hasil analisis AI juga dapat menyesatkan. Sistem mungkin menghasilkan jawaban yang terlihat meyakinkan, padahal tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya.

Akuntansi tidak hanya berkaitan dengan perhitungan matematis. Banyak persoalan membutuhkan pertimbangan profesional.

Sebagai contoh, akuntan perlu menilai apakah suatu biaya harus diakui sebagai beban atau aset, apakah estimasi kerugian sudah wajar, serta apakah informasi tertentu perlu diungkapkan dalam laporan keuangan. Keputusan tersebut tidak selalu dapat diselesaikan hanya dengan mengikuti satu rumus.

Akuntan juga perlu memahami keadaan perusahaan, karakter transaksi, ketentuan yang berlaku, dan dampak keputusan terhadap pengguna laporan keuangan.

AI dapat membantu menyediakan informasi, tetapi tanggung jawab atas keputusan tetap berada pada manusia.

Apakah Akuntan Akan Tergantikan?

Jawabannya bergantung pada cara akuntan merespons perubahan teknologi.

Akuntan yang hanya mengandalkan kemampuan memasukkan data dan melakukan perhitungan dasar menghadapi risiko lebih besar. Sebaliknya, akuntan yang mampu menggunakan teknologi, menganalisis informasi, dan memberikan pertimbangan bisnis akan tetap dibutuhkan.

Ikatan Akuntan Indonesia menilai bahwa teknologi seperti AI dan analitik data telah mengubah profesi akuntansi dari pekerjaan pencatatan tradisional menuju peran yang lebih strategis. Otomatisasi memberi kesempatan kepada akuntan untuk berfokus pada analisis, perencanaan keuangan, dan pemberian saran kepada manajemen.

Dengan demikian, pertanyaannya bukan hanya “apakah AI akan menggantikan akuntan?”, tetapi juga “akuntan seperti apa yang berisiko digantikan?”

Akuntan yang menolak mempelajari teknologi mungkin akan tertinggal. Namun, akuntan yang mampu bekerja bersama teknologi justru dapat menjadi lebih produktif dan bernilai bagi perusahaan.

Peran Akuntan Akan Menjadi Lebih Strategis

Ketika pekerjaan rutin mulai ditangani sistem, akuntan dapat mengalokasikan lebih banyak waktu untuk pekerjaan yang membutuhkan analisis dan pertimbangan.

Akuntan dapat berperan dalam menjelaskan kondisi keuangan perusahaan kepada manajemen, menyusun perencanaan, mengidentifikasi risiko, serta membantu menentukan strategi bisnis.

Sebagai contoh, AI dapat menunjukkan bahwa biaya produksi meningkat. Namun, akuntan tetap perlu mencari tahu penyebabnya. Peningkatan tersebut dapat berasal dari naiknya harga bahan baku, pemborosan produksi, perubahan kurs, atau rendahnya efisiensi tenaga kerja.

Sistem dapat menghasilkan grafik dan angka, tetapi akuntan harus menerjemahkannya menjadi informasi yang dapat digunakan untuk mengambil keputusan.

Dalam posisi ini, akuntan tidak lagi hanya berfungsi sebagai pencatat kejadian masa lalu. Akuntan dapat menjadi mitra manajemen yang membantu perusahaan merencanakan masa depan.

IAI juga menekankan bahwa digitalisasi bukan hanya ancaman, melainkan peluang bagi akuntan untuk mengembangkan peran strategis dengan tetap berlandaskan etika, kompetensi, dan konektivitas.

Tantangan Etika dalam Penggunaan AI

Penggunaan AI di bidang akuntansi tidak hanya menimbulkan persoalan teknis. Terdapat pula masalah etika dan keamanan yang perlu diperhatikan.

Data akuntansi biasanya mengandung informasi sensitif, seperti pendapatan, utang, transaksi pelanggan, gaji karyawan, dan strategi perusahaan. Mengunggah data tersebut ke dalam aplikasi AI tanpa perlindungan yang memadai dapat menimbulkan risiko kebocoran informasi.

Akuntan juga tidak boleh menerima hasil AI tanpa melakukan pemeriksaan. Sebuah sistem dapat menghasilkan angka, analisis, atau kesimpulan yang salah.

Apabila kesalahan tersebut masuk ke dalam laporan perusahaan, dampaknya dapat merugikan investor, kreditur, pemerintah, dan pihak lainnya.

Selain itu, penggunaan AI dapat menimbulkan pertanyaan mengenai tanggung jawab. Ketika sistem membuat kesalahan, siapa yang harus bertanggung jawab? Pengembang teknologi, perusahaan, atau akuntan yang menggunakan hasilnya?

Dalam profesi akuntansi, tanggung jawab profesional tidak dapat dialihkan sepenuhnya kepada mesin. Akuntan tetap wajib memastikan bahwa informasi yang digunakan dapat dipercaya.

Karena itu, AI seharusnya diperlakukan sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti penilaian profesional.

Keterampilan Baru yang Harus Dimiliki Akuntan

Perubahan teknologi membuat akuntan perlu memperluas kemampuan di luar pencatatan dan perhitungan.

Pertama, akuntan perlu memahami teknologi digital. Mereka tidak harus menjadi programmer, tetapi perlu mengetahui cara kerja sistem, sumber data, keterbatasan aplikasi, serta risiko penggunaannya.

Kedua, kemampuan analisis data menjadi semakin penting. Akuntan harus mampu membaca pola, membandingkan informasi, dan menjelaskan arti suatu perubahan angka.

Ketiga, kemampuan komunikasi tidak boleh diabaikan. Hasil analisis keuangan yang rumit harus dapat diterjemahkan menjadi penjelasan sederhana bagi manajemen atau pemilik usaha.

Keempat, akuntan perlu menjaga kemampuan berpikir kritis. Setiap jawaban yang dihasilkan AI harus diuji, dibandingkan, dan diperiksa kembali.

Kelima, etika profesi tetap menjadi dasar utama. Teknologi dapat berubah dengan cepat, tetapi prinsip integritas, objektivitas, kehati-hatian, dan kerahasiaan tetap harus dijaga.

Bahkan, semakin canggih teknologi yang digunakan, semakin penting pula kehadiran manusia yang mampu memastikan bahwa teknologi tersebut digunakan secara benar.

Dampaknya bagi Mahasiswa Akuntansi

Bagi mahasiswa, hadirnya AI tidak seharusnya menjadi alasan untuk menghindari jurusan akuntansi. Perubahan tersebut justru dapat menjadi dorongan untuk mempersiapkan keterampilan yang lebih sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.

Mahasiswa tidak cukup hanya menghafal jurnal atau rumus. Pemahaman mengenai konsep dasar tetap penting, tetapi harus dilengkapi dengan kemampuan menggunakan perangkat lunak akuntansi, mengolah data, memahami sistem informasi, dan membuat analisis.

AI dapat digunakan sebagai alat belajar. Mahasiswa dapat memanfaatkannya untuk menjelaskan konsep, membuat latihan, atau membantu mengembangkan ide. Namun, hasil dari AI tetap perlu dibandingkan dengan buku, standar, peraturan, dan sumber resmi.

Ketergantungan berlebihan terhadap AI justru dapat melemahkan kemampuan berpikir. Apabila setiap tugas langsung diserahkan kepada mesin, mahasiswa mungkin memperoleh jawaban, tetapi tidak memahami proses di baliknya.

Karena itu, penggunaan AI dalam pendidikan akuntansi sebaiknya tetap menempatkan mahasiswa sebagai pihak yang berpikir, memeriksa, dan mengambil kesimpulan.

AI Tidak Memiliki Empati dan Tanggung Jawab Moral

Salah satu keunggulan manusia yang sulit digantikan adalah kemampuan memahami situasi sosial dan moral.

Seorang akuntan mungkin menghadapi tekanan dari atasan untuk mengubah angka, menyembunyikan kerugian, atau membuat laporan terlihat lebih baik. Dalam keadaan seperti itu, persoalannya bukan lagi mengenai kemampuan menghitung.

Akuntan harus menentukan sikap berdasarkan etika dan tanggung jawab kepada publik.

AI dapat menjelaskan aturan, tetapi tidak menanggung akibat moral dari suatu keputusan. Mesin tidak memiliki reputasi profesional, hati nurani, atau tanggung jawab hukum seperti manusia.

Selain itu, akuntan sering berkomunikasi dengan klien, pemilik usaha, auditor, regulator, dan karyawan. Interaksi tersebut membutuhkan kepercayaan, empati, dan kemampuan memahami kondisi masing-masing pihak.

Hal-hal tersebut membuat peran manusia tetap penting di tengah perkembangan teknologi.

Bekerja Bersama AI, Bukan Melawannya

Kehadiran kecerdasan buatan memang akan mengurangi kebutuhan terhadap beberapa pekerjaan rutin. Namun, teknologi juga menciptakan kebutuhan baru.

Perusahaan membutuhkan orang yang mampu mengawasi sistem, memeriksa kualitas data, menilai hasil analisis, menjaga keamanan informasi, serta memastikan penggunaan AI sesuai etika.

Akuntan yang memahami teknologi dapat bekerja lebih cepat dan menghasilkan analisis yang lebih mendalam. Mereka tidak perlu menghabiskan terlalu banyak waktu untuk pekerjaan administratif yang berulang.

Waktu tersebut dapat digunakan untuk membantu manajemen memahami risiko dan peluang perusahaan.

Dengan demikian, AI dan akuntan tidak selalu harus ditempatkan sebagai dua pihak yang saling menggantikan. Keduanya dapat saling melengkapi.

AI memiliki keunggulan dalam kecepatan dan kemampuan memproses data. Sementara itu, akuntan memiliki kemampuan memahami konteks, menilai kewajaran, berkomunikasi, dan bertanggung jawab atas keputusan.

Masa Depan Profesi Akuntan

Perkembangan kecerdasan buatan tidak dapat dihentikan. Perusahaan akan terus mencari cara untuk meningkatkan efisiensi dan mengurangi kesalahan.

Profesi akuntan juga akan terus berubah. Beberapa jenis pekerjaan mungkin berkurang, tetapi peran baru dapat muncul dalam analisis data, audit teknologi, tata kelola AI, keamanan sistem, pengendalian internal, dan konsultasi bisnis.

Akuntan masa depan kemungkinan tidak lagi menghabiskan sebagian besar waktunya untuk memasukkan data. Mereka akan lebih banyak memeriksa sistem, menilai risiko, dan menerjemahkan data menjadi keputusan.

Oleh sebab itu, kecerdasan buatan tidak otomatis mengakhiri profesi akuntan. AI justru menjadi ujian mengenai seberapa jauh profesi ini mampu beradaptasi.

Akuntan tidak akan tergantikan hanya karena mesin dapat menghitung lebih cepat. Namun, akuntan yang tidak mau belajar menggunakan teknologi dapat tergantikan oleh akuntan lain yang mampu memanfaatkannya.

Pada akhirnya, masa depan profesi akuntansi tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan AI. Masa depan tersebut juga ditentukan oleh kesiapan manusia untuk terus belajar, menjaga etika, dan menghadirkan nilai yang tidak dapat diberikan oleh mesin.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Bank Sentral Asia Pasifik Perkuat Tata Kelola Adopsi AI, Sepakat Tingkatkan Pengawasan
• 14 jam lalu
0
thumb
Peringati Kudatuli, PDIP Kota Yogya Gelar Layanan Kesehatan Gratis bagi Lansia
• 10 jam lalu
0
thumb
Pjs Gubernur Bank Indonesia: Pasar Tidak Perlu Panik
• 1 jam lalu
0
thumb
PKS Dorong Pemerintah Optimalkan Wakaf Produktif dan Industri Halal Lewat MMS III
• 3 jam lalu
0
thumb
ESSA Tangguhkan Pengembangan Proyek Sustainable Aviation Fuel
• 1 jam lalu
0
Berhasil disimpan.