Mundurnya Perry Warjiyo dari Gubernur BI Dikhawatirkan Picu Volatilitas Pasar Jangka Pendek

idxchannel.com
5 jam lalu
Cover Berita

Ekonom menilai pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo dikhawatirkan memicu gejolak jangka pendek di pasar keuangan.

Mundurnya Perry Warjiyo dari Gubernur BI Dikhawatirkan Picu Volatilitas Pasar Jangka Pendek. (Foto: iNews Media Group)

IDXChannel - Ekonom sekaligus Guru Besar Universitas Airlangga (Unair), Prof. Rahma Gafmi, menilai pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo berpotensi memicu gejolak jangka pendek di pasar keuangan.

Menurut Rahma, pelaku pasar diperkirakan bersikap hati-hati hingga ada kepastian mengenai arah kebijakan bank sentral ke depan.

Baca Juga:
IHSG Turun usai Gubernur BI Perry Warjiyo Mundur, Simak Sederet Saham Pemberat

“Pengunduran diri mendadak Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo berpotensi memberikan dampak psikologis dan volatilitas jangka pendek pada pasar keuangan Indonesia, rupiah, IHSG, dan pasar SBN,” kata Rahma dalam risetnya, Senin (27/7/2026).

Rahma menambahkan, pasar kemungkinan merespons kabar tersebut dengan sikap wait and see. Pergantian pimpinan bank sentral di tengah tekanan ekonomi global dan pelemahan nilai tukar rupiah dinilai dapat memicu spekulasi terhadap keberlanjutan bauran kebijakan moneter.

Baca Juga:
Mensesneg Ungkap Alasan Perry Warjiyo Mundur dari Gubernur BI

Selain itu, Rahma menjelaskan, tekanan terhadap rupiah selama ini dipengaruhi faktor eksternal, mulai dari penguatan dolar AS hingga dampak konflik global yang mengganggu rantai pasok energi.

Di sisi lain, kebijakan BI juga mendapat sorotan karena dinilai belum mampu meredam gejolak nilai tukar secara optimal.

Baca Juga:
Perry Warjiyo Mengundurkan Diri dari Gubernur BI

Meski demikian, ia menilai kerja Bank Indonesia selama ini sudah maksimal dalam menghadapi tekanan eksternal. Menurutnya, upaya stabilisasi moneter semestinya diimbangi kebijakan fiskal yang selaras.

“Sejatinya kerja keras Bank Indonesia sudah maksimal karena menghadapi external shock yang tidak bisa dihindari. Namun, tidak didukung kebijakan fiskal yang linier dengan target Bank Indonesia,” ujarnya.

Rahma mengatakan, penunjukan Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti sebagai pelaksana tugas gubernur menjadi langkah penting untuk menjaga kesinambungan kebijakan. Kehadiran figur internal diharapkan mampu meredam gejolak dan memberikan sinyal stabilitas kepada investor.

Namun, ia mengingatkan langkah tersebut belum tentu langsung mengembalikan kepercayaan pasar. Investor, kata dia, masih akan mencermati efektivitas kebijakan lanjutan BI dalam menjaga stabilitas rupiah dan mengendalikan inflasi.

“Investor asing akan memantau kredibilitas dan kesinambungan kebijakan makroekonomi. Reaksi pasar sangat bergantung pada seberapa cepat pemerintah dan Bank Indonesia mengomunikasikan stabilitas transisi kepemimpinan ini,” kata Rahma.

Adapun Rahma memaparkan sejumlah poin krusial yang melatarbelakangi situasi tersebut. Faktor utama dipicu oleh depresiasi mendalam mata uang Garuda, di mana nilai tukar rupiah sempat mengalami tekanan hebat hingga mendekati level Rp17.600 hingga Rp18.150 per dolar AS. 

Kondisi ini memicu kekhawatiran luas terhadap stabilitas harga barang impor, pembengkakan beban utang luar negeri, hingga penurunan daya beli masyarakat.

Tekanan tersebut kian diperparah oleh dinamika global, termasuk eskalasi konflik AS-Iran yang mengganggu jalur logistik energi di Selat Hormuz, memicu lonjakan harga minyak dunia, serta memperkuat dominasi dolar AS secara global.

Meski BI telah menggelar berbagai instrumen stabilisasi seperti operasi moneter, lelang repo, hingga intervensi pasar, kebijakan tersebut mendapat sorotan tajam dari Komisi XI DPR RI karena dinilai kurang cepat dan optimal.

Namun, Rahma menilai ketegangan antara legislatif dan otoritas moneter tersebut sejatinya kurang adil bagi BI, mengingat gejolak yang terjadi didominasi oleh external shock serta ketidakselarasan dari kebijakan fiskal pemerintah sendiri.

“Padahal sejatinya kerja keras Bank Indonesia selaku Bank Sentral sudah maksimal dan all-out, karena memang dinamika eksternal shock yang tidak dapat kita hindari, serta tidak didukung oleh kebijakan otoritas fiskal yang linier dengan goal target Bank Indonesia,” tegas Rahma.

(Febrina Ratna Iskana)


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Pembangunan Jalan Strategis Makassar-Maros Dimulai, Dorong Konektivitas dan Aktivitas Ekonomi
• 19 jam lalu
0
thumb
Manfaat Scalp Massager dan Cara Menggunakannya
• 8 jam lalu
0
thumb
Pemprov DKI sebut daya beli masyarakat masih terjaga
• 9 jam lalu
0
thumb
Jay Idzes Kirim Dukungan untuk Timnas Indonesia di Piala AFF 2026: Hati Saya Bersama Garuda
• 10 jam lalu
0
thumb
Warga Parappa Keluhkan Bau Tak Sedap Dapur SPPG Sinar Jaya Reski di Sanrobone
• 6 jam lalu
0
Berhasil disimpan.