JAKARTA, KOMPAS.TV - Presiden Prabowo Subianto diingatkan bahwa jurnalis, lembaga swadaya masyarakat (LSM), akademisi, dan kelompok-kelompok kritis merupakan pengingat negara, bukan musuh yang harus diberi stigma.
Pengingat itu disampaikan Koalisi Pers Mahasiswa se-DIY bersama Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta menyusul pernyataan Prabowo yang menyebut wartawan, jurnalis, pengamat, dan LSM sebagai "londo ireng".
Pesan tersebut disampaikan dalam aksi bertajuk "Jurnalis Bukan Musuh Negara" di Bundaran Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Minggu (26/7/2026).
Dalam aksi itu, Koalisi Pers Mahasiswa se-DIY dan AJI Yogyakarta juga mengecam ucapan Prabowo serta mendesaknya menyampaikan klarifikasi dan permintaan maaf kepada komunitas pers.
"Jurnalis dan LSM dan para akademisi lainnya itu adalah sebagai pengingat, bukan sebagai musuh negara," kata Divisi Advokasi AJI Yogyakarta Askar Aristoteles Mukhaer.
Askar mengatakan aksi tersebut merupakan upaya mengingatkan Prabowo bahwa kritik yang disampaikan jurnalis, LSM, dan akademisi merupakan bagian dari demokrasi.
Baca Juga: Prabowo: Londo Ireng Sekarang Masih Ada Hanya Pakai Baju Lain, Wartawan, Pengamat
Menurutnya, kelompok-kelompok tersebut menjalankan fungsi menyuarakan persoalan publik dan mengawasi jalannya pemerintahan, bukan memusuhi negara.
Ia menilai pelabelan "londo ireng" terhadap jurnalis dan kelompok kritis justru menunjukkan sikap antikritik yang dapat melemahkan nilai-nilai demokrasi.
Menurut Askar, jurnalis memiliki peran penting menyampaikan persoalan yang terjadi di masyarakat agar menjadi perhatian pemerintah.
Penulis : Danang Suryo Editor : Tito-Dirhantoro
Sumber : Kompas TV
- Prabowo Subianto
- Londo Ireng
- AJI Yogyakarta
- Pers Mahasiswa
- Kebebasan Pers
- Jurnalis






Komentar (0)