Mendongeng bukanlah sekadar menghibur atau mengisi waktu di kelas, melainkan strategi pembelajaran yang perlu dikuasai oleh setiap guru, terutama di jenjang pendidikan anak usia dini atau PAUD. Guru harus mampu menghadirkan cerita sebagai media belajar yang interaktif.
Dalam kurikulum pendidikan nasional, mendongeng harus dihadirkan oleh guru dalam pembelajaran di kelas secara mendalam. Sebab, cerita dongeng mampu membangkitkan imajinasi, memperkaya kosakata, menumbuhkan empati dan perkembangan berpikir, serta sekaligus menanamkan karakter dengan cara menyenangkan yang mudah diterima anak.
Ketua Himpunan Ketua Umum Pengurus Pusat Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Indonesia (PP HIMPAUDI) Betti Nuraini mengatakan, fase PAUD berlangsung perkembangan otak anak yang sangat pesat, rasa ingin tahu tumbuh tanpa batas, kemampuan bahasa berkembang dengan cepat, dan fondasi karakter mulai terbentuk. Di tengah perkembangan teknologi, guru dan orangtua memiliki tanggung jawab untuk memastikan anak tetap mendapatkan pengalaman didongengkan.
”Untuk itu, kita memiliki tanggung jawab ikut memastikan bahwa anak kita tetap memperoleh pengalaman belajar yang kaya akan interaksi, komunikasi, dan kedekatan emosional melalui mendongeng,” kata Betti di Jakarta, Senin (27/7/2026).
Mendongeng juga dinilai efektif untuk menanamkan berbagai nilai karakter, mulai dari kejujuran, tanggung jawab, keberanian, kepedulian, kerja sama, disiplin, rasa syukur, cinta lingkungan, hingga penghargaan terhadap keberagaman. Nilai-nilai tersebut dapat disampaikan secara lebih alami karena anak tidak merasa sedang digurui.
Hal yang jauh lebih penting adalah kemampuan guru membangun interaksi dengan anak. Mendongeng yang interaktif menjadikan anak bukan sekadar pendengar, tetapi bagian dari cerita. Anak dapat diajak bertanya, menebak, menirukan suara tokoh, bergerak bersama, menunjukkan ekspresi, hingga menyampaikan pendapat. Dengan demikian, anak terlibat secara aktif, baik melalui pikiran, perasaan, maupun tindakan.
”Rasanya tidak ada anak Indonesia yang tidak menyukai dongeng, maka gurunya harus suka mendongeng karena itu bukan sekadar mengisi waktu atau menghibur anak semata, mendongeng merupakan proses pendidikan yang utuh,” ucapnya.
Pendiri komunitas Ayo Dongeng Indonesia, Mochamad Ariyo Faridh Zidni atau Kak Aio menjelaskan, mendongeng pada dasarnya merupakan seni dalam komunikasi. Guru PAUD sebenarnya memiliki modal dasar untuk menjadi pendongeng karena setiap hari mereka sudah terbiasa berkomunikasi, menyampaikan gagasan, pengalaman, maupun perasaan.
Guru tidak dituntut menjadi pendongeng profesional, melainkan kemampuan untuk menghadirkan cerita sebagai media belajar yang interaktif.
Namun, dalam mendongeng, komunikasi tidak hanya dilakukan melalui kata-kata. Nada suara, volume, kecepatan berbicara, tatapan mata, ekspresi wajah, gerakan tangan, dan posisi tubuh harus diperhatikan saat guru mendongeng di kelas.
Unsur-unsur tersebut digunakan untuk memperkuat emosi dan pesan dalam cerita. Ekspresi dan gerakan bahkan dapat dibuat lebih besar atau dilebih-lebihkan agar lebih menarik perhatian anak. Dengan demikian, guru tidak hanya menyampaikan cerita, tetapi juga menghadirkan pengalaman yang dapat dilihat, didengar, dan dirasakan oleh anak.
”Makanya itu mendongeng tanpa interaksi itu pasti akan sulit sekali karena mendongeng itu bukan main teater, drama, atau monolog. Tetapi guru PAUD pasti bisa mendongeng karena guru PAUD sama seperti orang-orang lain, setiap hari pasti menyampaikan sesuatu,” kata Kak Aio.
Interaksi dengan anak saat mendongeng dapat dibangun melalui tiga tahap utama, yaitu pembukaan, penyampaian cerita, dan penutupan. Pada bagian pembukaan, guru dapat menggunakan lagu, tepuk tangan, atau gerakan tari.
Lagu yang sudah dikenal anak dapat dimodifikasi liriknya agar sesuai dengan kegiatan mendongeng. Guru juga dapat mengajak anak melakukan gerakan sederhana sebagai pemanasan sebelum cerita dimulai.
Pada tahap penyampaian cerita, anak dapat diajak menirukan gerakan tokoh atau memberikan respons tertentu setiap kali mendengar kata tertentu. Misalnya, cerita tentang perlombaan kelinci dan siput, guru dapat menggunakan tangan untuk membentuk karakter masing-masing tokoh. Anak kemudian diajak menirukan bentuk tersebut.
Sementara itu, pada bagian penutupan, interaksi tidak berhenti ketika cerita selesai. Guru dapat mengulang kembali bagian yang paling menarik atau menjadi rangkuman cerita lalu membahasnya bersama anak-anak.
”Yang utama teknik interaksi dalam penutup itu adalah membahas pesan cerita dan perasaan mereka sepanjang mendengarkan dongengnya. Apa yang mereka rasakan dan apa yang mereka dapatkan gitu,” ucapnya.
Selain itu, dongeng juga harus disajikan dalam waktu singkat 5-10 menit, beralur maju, menghindari cabang cerita yang membingungkan, konflik tunggal yang jelas, serta mengulang kata kunci dan ritme untuk memperkuat ingatan.
Kak Aio menegaskan, mendongeng masih sangat relevan digunakan sebagai salah satu media pembelajaran bagi anak-anak di tengah teknologi yang kian canggih. Tutur cerita dalam mendongeng membuat anak-anak berimajinasi dan berkreativitas sehingga guru harus bisa menjembatani tutur dengan kondisi saat ini.
Direktur Guru PAUD dan Pendidikan Nonformal di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Saiful Bari menambahkan, secara sistemik melalui kurikulum pendidikan nasional, pemerintah terus memberikan kesempatan belajar kepada semua guru untuk meningkatkan kompetensi bercerita.
”Guru tidak dituntut menjadi pendongeng profesional, melainkan kemampuan untuk menghadirkan cerita sebagai media belajar yang interaktif, sehingga turut mendukung tujuan belajar anak-anak,” kata Saiful.






Komentar (0)