Sebagai urat nadi kehidupan dan ikon wisata Palembang, Sungai Musi kini merintih oleh kepungan sekitar 90 ton sampah setiap harinya. Tanpa langkah nyata, realitas memilukan itu bukan sekadar mengancam keberlanjutan hidup masyarakat, melainkan juga jadi tamparan keras bagi marwah budaya sungai ”Bumi Sriwijaya”.
Mentari baru merayap naik, menyinari riak kecoklatan Sungai Musi di kawasan 7 Ulu, Seberang Ulu I, Palembang, Sumatera Selatan, Sabtu (25/7/2026). Alih-alih lengang, pagi itu justru riuh rendah oleh suara ratusan warga yang memecahkan kesunyian tepian sungai.
Mereka tidak sedang berekreasi. Sebaliknya, sekitar 400 orang yang terdiri dari pelajar, mahasiswa, pegiat komunitas, hingga masyarakat umum itu tengah berjibaku dalam lumpur dan tumpukan sampah. Itulah potret nyata kepedulian demi memulihkan wajah sungai kebanggaan Palembang tersebut.
Mereka membaur dalam kegiatan The Guardians of The River bertajuk ”Aksi Bersih Sungai Palembang 2026”. Diinisiasi oleh Indonesia Creative Cities Network (ICCN) Sumsel dan penyedia jasa tur wisata Jejak Rasa Palembang, aksi tersebut bukan sekadar seremoni menyambut Hari Sungai Nasional pada 27 Juli. Itu adalah wujud keprihatinan mendalam atas kronisnya pencemaran sampah di Sungai Musi.
Di antara kerumunan relawan, tampak Muslih Umami (21), mahasiswa Teknik Sipil pada Institut Teknologi Sumatera (Itera) Lampung. Pemuda asal Indralaya, Kabupaten Ogan Ilir, itu bercerita, sejak pagi buta dirinya telah berangkat dengan bersepeda motor demi tiba di lokasi aksi sekitar pukul 07.00 WIB.
Setibanya di tepi sungai itu, sempat tebersit rasa khawatir. Ia membayangkan jijik menceburkan diri ke kubangan lumpur dan tumpukan sampah. Akan tetapi, kepedulian terhadap kelestarian Sungai Musi jauh lebih besar sehingga pelan-pelan memupus rasa khawatirnya.
”Sampah yang paling banyak di sini gelas plastik minuman dan berbagai bungkus kebutuhan pokok. Tapi, yang paling menjijikkan dan membuat saya tidak habis pikir adalah banyak bekas popok bayi yang dibuang ke sini,” ujar Muslih dengan nada getir.
Bagi Muslih, membuang sampah ke Sungai Musi sama halnya mengotori halaman rumah sendiri. Realitas itu tidak hanya membuat miris, tetapi juga sangat memalukan. Bahkan, Muslih terpaksa menelan ludah dan bermuka tebal saat teman-teman kuliahnya kerap mengejek kondisi Sungai Musi yang jorok.
Itu pula yang menjadi alasan utama Muslih mendedikasikan waktu libur kuliahnya untuk mengikuti aksi tersebut dan membuang jauh-jauh rasa jijiknya. Dengan semangatnya, Muslih berhasil mengumpulkan sampah sebanyak empat kantong plastik besar dengan bobot 5-10 kilogram per kantong.
”Saya harap aksi seperti ini menjadi pintu pembuka kesadaran masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan. Pemerintah juga harus terus menggencarkan sosialisasi ke masyarakat dan menyediakan tempat sampah yang memadai. Kalau masyarakat sadar, kita tidak perlu terus mengulang kegiatan bersih-bersih seperti ini lagi ke depannya,” tegas Muslih.
Gerakan masif yang sukses mengangkat ratusan kilogram sampah dalam waktu sekitar 2,5 jam itu bermula dari keresahan Rere Gita (27), inisiator aksi sekaligus pendiri Jejak Rasa Palembang. Selama ini, Rere rutin membawa 30 hingga 100 wisatawan menyusuri Sungai Musi dengan perahu ketek tradisional setiap akhir pekan, antara hari Sabtu atau Minggu.
Para wisatawan tersebut bukan hanya pelancong lokal, melainkan pula turis nasional asal Jakarta dan Bandung, serta turis mancanegara asal Malaysia, Korea Selatan, hingga Jerman. Sebagai magnet utama, tepian Sungai Musi menjadi destinasi yang wajib disinggahi.
Saya harap aksi seperti ini menjadi pintu pembuka kesadaran masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan.
Mereka biasanya berkunjung ke sentra pembuatan pempek di kawasan 7 Ulu dan menyantap bersama-sama kuliner tersebut di tepian sungai. Namun, setiap kali sungai surut, hamparan sampah di pinggirannya spontan merusak estetika.
Saat menyaksikan tumpukan sampah tersebut, sebagian wisatawan langsung melontarkan keluhan tajam. ”Pernah ada tamu bertanya secara sarkas, ’apa betul kita akan makan di sekitar tumpukan sampah ini?’ Pertanyaan itu benar-benar menusuk jantung saya,” kenang Rere.
Semula, Rere hanya bisa mengelak. Akan tetapi, rentetan komplain membuatnya nekat mengunggah video sarkas di Tiktok dengan narasi ”pantai keren di tengah Kota Palembang” yang faktanya hanyalah tumpukan sampah. Video tersebut meledak ditonton sekitar 740.000 kali dan menuai berbagai komentar, tak terkecuali yang mencibir Palembang.
Dari situlah, Rere berkolaborasi dengan Koordinator Daerah ICCN Sumsel Muhammad Hafidz Alfurqan untuk melaksanakan aksi pembersihan. Respons masyarakat melampaui ekspektasi. Dari diharapkan 100 peserta, ternyata ada 1.000-an orang yang mendaftar.
Akhirnya, hanya sekitar 400 relawan diloloskan setelah melalui seleksi ketat. ”Antusiasme warga mengikuti aksi ini menandakan masih ada kepedulian masyarakat terhadap pelestarian Sungai Musi. Semoga ini menjadi pemantik kepedulian yang lebih luas,” kata Rere.
Rere mengatakan, Sungai Musi adalah jantung kehidupan, urat nadi perekonomian, dan ikon wisata bagi Palembang ataupun Sumsel. Kalau Sungai Musi tercemar sampah, hal itu akan memicu efek domino yang mengkhawatirkan.
Pernah ada tamu bertanya secara sarkas, apa betul kita akan makan di sekitar tumpukan sampah ini?
Dampak yang mulai terasa antara lain populasi ikan endemik yang kian langka, saluran air tersumbat sehingga meningkatkan risiko banjir, sampai menimbulkan citra buruk untuk sektor pariwisata. ”Jadi, kalau bukan kita, siapa lagi yang akan menyelamatkan Musi? Kalau bukan sekarang, sampai kapan kita membiarkan Musi merana?” tutur Rere.
Pemerintah Kota Palembang tidak menafikan krisis lingkungan yang terjadi di Sungai Musi. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Palembang Akhmad Mustain menjabarkan, potensi timbulan sampah di Palembang berkisar 0,7 hingga 1 kilogram per kapita setiap harinya. Dengan jumlah penduduk sekitar 1,8 juta jiwa, total potensi timbulan sampah rata-rata mencapai 1.500 ton per hari.
Ironisnya, daya angkut sampah masih 960-990 ton per hari. Berdasarkan kajian DLH pada 2023, sisa sampah yang tidak terangkut berakhir mencemari lingkungan, dengan sekitar 90 ton sampah per hari bermuara ke perairan Sungai Musi.
”Kendala terbesar yang kami hadapi ada pada defisit armada pengangkut sampah. Untuk kondisi ideal, kita membutuhkan 225 armada truk pengangkut. Namun, yang operasional memutari Palembang saat ini hanya berjumlah 148 unit. Setidaknya, kita butuh anggaran sekitar Rp 75 miliar hingga Rp 100 miliar untuk mencapai target ideal tersebut,” papar Mustain.
Masalah itu semakin pelik di permukiman padat pesisir sungai. Jalanan berupa lorong sempit yang tidak memungkinkan truk masuk. Pemerintah telah menyediakan 487 tempat penampungan sementara (TPS) dengan jarak terjauh dari permukiman rata-rata sekitar 1 kilometer. Hanya saja, warga sering kali enggan untuk membawa sampah ke TPS.
Di sisi lain, warga kerap menolak keberadaan TPS di sekitar tempat tinggalnya karena tidak ingin terganggu bau sampah. Bersama pihak kecamatan dan kelurahan, ada solusi pengadaan petugas untuk menjemput sampah dari rumah-rumah warga dengan konsekuensi membayar retribusi Rp 15.000 per bulan. Akan tetapi, banyak warga menolaknya karena dianggap memberatkan.
Warga cenderung memilih solusi instan dengan membuang sampah sembarang, terutama ke sungai. ”Logikanya sederhana. Masyarakat sanggup mengantar anaknya ke sekolah setiap hari. Tapi, untuk menahan sampahnya dan membawa ke TPS, mereka tidak sanggup. Mereka lebih memilih jalan pintas dengan membuang sampah dari jendela atau ke bawah rumah yang langsung ke sungai, atau membuangnya ke jalanan. Itu pekerjaan rumah paling besar dalam penanganan sampah di sini, bagaimana caranya membangun kesadaran masyarakat,” ujar Mustain.
Kendati demikian, Mustain memastikan pemerintah tidak tinggal diam. Target penambahan armada pengangkut sampah terus diupayakan lewat APBD dan dana bantuan gubernur. DLH Palembang pun merintis kerja sama dengan pihak ketiga untuk menjangkau penarikan sampah di permukiman padat, khususnya di pesisir sungai. Kerja sama itu diharapkan bisa menekan biaya retribusi.
Selain memperbaiki infrastruktur, langkah progresif yang ditempuh adalah penegakan hukum tegas. Sejak Mei, pemerintah menerapkan sanksi denda Rp 500.000 per orang bagi pembuang sampah sembarangan. Sejauh ini, ada lima warga yang diseret ke persidangan dan divonis bersalah.
Ada warga yang bersedia membayar denda dan ada yang memilih sanksi pengganti berupa kerja sosial membersihkan rumah ibadah selama tiga hari berturut-turut. ”Masalah penanganan sampah di sini kompleks karena berkaitan dengan infrastruktur dan kesadaran masyarakat. Mengatasinya butuh waktu, tenaga, dan anggaran besar. Tapi, kami berkomitmen untuk segera menyelesaikannya,” ucap Mustain.
Aksi bersih-bersih oleh The Guardians of The Rivers diharapkan menjadi titik balik bagi penyelamatan Sungai Musi. Sebab, pemulihan urat nadi kehidupan Palembang tersebut menuntut sinergi antara kesadaran masyarakat dan langkah nyata pemerintah dalam pengelolaan sampah. Menjaga kelestarian Musi adalah tanggung jawab kolektif yang mutlak dilakukan mulai sekarang demi keberlanjutan masa depan peradaban sungai di Bumi Sriwijaya.






Komentar (0)