TABLOIDBINTANG.COM - Bagaimana anak-anak membayangkan kota ideal? Jawabannya dituangkan dalam berbagai gambar yang menampilkan transportasi nyaman, ruang publik aman, udara bersih, hingga akses yang bisa digunakan semua orang.
Gambaran tersebut muncul dalam kegiatan "Kota Ajaib" yang digelar ITDP Indonesia bersama Komunitas Buibu Baca Buku dan didukung Clean Mobility Collective Southeast Asia (CMCSEA) di Taman Bendera Pusaka, Jakarta, dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional.
Lewat sesi menggambar, anak-anak menghadirkan berbagai imajinasi tentang kota masa depan. Qiana (8), misalnya, membayangkan halte dengan informasi kedatangan bus dan fasilitas parkir sepeda.
Nakami (9) menggambar jalur khusus pejalan kaki dan penyandang disabilitas netra serta kereta yang melintas di atas air. Sementara Raditya (10) menghadirkan bus listrik, kereta yang terhubung langsung ke bangunan, dan jalanan yang rindang.
Ada pula imajinasi tentang toko kue yang buka 24 jam hingga halte dengan papan hitung mundur kedatangan bus.
Suara Anak untuk Kota yang Lebih Ramah
Wakil Koordinator Staf Khusus Gubernur Provinsi DKI Jakarta, Yustinus Prastowo, menilai karya-karya tersebut menunjukkan bagaimana anak memiliki gambaran tentang kota ideal yang layak dipertimbangkan dalam perencanaan.
"Anak-anak punya imajinasi tentang bagaimana kota ideal menurut mereka, dan itu perlu menjadi bagian dari perencanaan yang baik. Kesadaran mereka terhadap kualitas udara dan ruang kota justru sangat menarik," ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima tabloidbintang.com.
Menurut Yustinus, Pemprov DKI Jakarta berupaya memperkuat fasilitas yang sudah tersedia, termasuk pengembangan Transjakarta dengan target 10.000 bus listrik pada 2030.
Revitalisasi ruang publik seperti RPTRA, perbaikan trotoar, peningkatan aksesibilitas, serta penambahan shelter juga terus dilakukan.
Deputi Direktur ITDP Indonesia, Deliani Siregar, mengatakan tema "Kota Ajaib" dipilih karena anak memiliki perspektif berbeda dalam melihat ruang kota.
"Kami melihat anak-anak memiliki perhatian yang luar biasa terhadap detail yang sering terlewat oleh orang dewasa. Mereka memandang kota dari tinggi mata sekitar 95 sentimeter, sehingga pengalaman mereka terhadap ruang kota juga berbeda," jelas Deliani Siregar.
Direktur Asia Tenggara ITDP Indonesia, Gonggomtua Sitanggang, menilai kota yang ramah anak dan kelompok rentan akan memberikan manfaat bagi seluruh masyarakat.
Momentum transisi menuju bus listrik juga dinilai menjadi kesempatan untuk memastikan fasilitas inklusif, seperti ruang bagi stroller dan barang bawaan.
Sebanyak 16 karya anak kemudian dipajang di delapan armada bus listrik Transjakarta Koridor 1 selama satu bulan.
Melalui kegiatan ini, ITDP Indonesia berharap perspektif anak dapat menjadi masukan dalam mewujudkan transportasi yang inklusif, ramah lingkungan, dan berpusat pada kebutuhan masyarakat.





Komentar (0)