Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, merespons cepat keluhan terkait kondisi fisik sejumlah sekolah di Jakarta, khususnya Sekolah Dasar Negeri (SDN) 09 Kebayoran Lama yang roboh dan proyek SDN 01 Cipete Utara yang terbengkalai. Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta akhirnya memutuskan untuk merevitalisasi 11 sekolah pada tahun anggaran ini.
Pramono menjelaskan, awalnya Pemprov DKI Jakarta telah mengalokasikan anggaran tahun 2026 untuk merevitalisasi 22 sekolah yang terdiri dari tingkat SD, SMP, dan SMA. Namun, karena adanya pemotongan Dana Bagi Hasil (DBH), jumlah sekolah yang dapat dieksekusi terpaksa dipangkas menjadi hanya tujuh sekolah.
Dalam daftar prioritas tersebut, SDN 09 Kebayoran Lama awalnya berada di urutan kedelapan, sehingga nyaris tidak masuk dalam program revitalisasi tahun ini.
"SD Negeri 9 di Kebayoran Lama itu nomor 8. Kemarin setelah dilaporkan oleh dinas terkait, yakni Dinas Pendidikan dan juga Citata (Cipta Karya, Tata Ruang, dan Pertanahan), maka saya memutuskan untuk ditambah empat yang akan diselesaikan di tahun ini. Jadi ada tujuh, tambah empat, jadi ada 11 sekolah," kata Pramono Anung dikutip dari Metro Hari Ini, Metro TV, Minggu 26 Juli 2026.
Baca Juga :
Pramono bakal Sanksi Tegas Swasta Buang Sampah Ilegal di JakartaGubernur DKI Jakarta itu juga memastikan bahwa sisa 11 sekolah lainnya yang tertunda pembangunannya akan diselesaikan secara bertahap pada tahun anggaran berikutnya.
Selain masalah di Kebayoran Lama, Pramono juga mengambil keputusan tegas terkait proyek pembangunan SDN 01 Cipete Utara yang sempat mangkrak. Ia memastikan Pemprov DKI Jakarta tidak akan melanjutkan wacana pembangunan sekolah dengan konsep mixed-use yang direncanakan menjulang hingga 20 lantai.
Fokus Pemprov DKI saat ini adalah menyelesaikan pembangunan gedung sekolah reguler agar fasilitas pendidikan tersebut dapat segera dimanfaatkan oleh para siswa dan guru.
"Terkait di Cipete, awalnya itu murni untuk renovasi atau membangun sekolah baru bagi SDN 01 Cipete. Namun, di tengah jalan kemudian ada keinginan untuk mixed-use membangun ke atas sampai dengan 20 lantai. Tetapi dalam perjalanannya, kontraktornya berubah lagi untuk fokus membangun hanya SD negeri itu," jelas Pramono.





Komentar (0)