Meski cuaca siang di kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, terasa terik, antusiasme anak-anak yang mengikuti sesi mendongeng di Festival Hari Anak 2026 tak surut. Mereka tampak duduk rapi sambil mendengarkan setiap cerita yang dibawakan oleh Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof Stella Christie, pada Minggu (26/7).
Dalam kesempatan tersebut, Prof Stella hadir ditemani putranya, Bayu Czech (9), yang turut menjadi pendengar di antara anak-anak lainnya.
Sebelum memulai dongeng, Prof Stella mengajak anak-anak berdialog ringan. Suasana pun terasa hangat dan interaktif. Sesekali ia melempar pertanyaan yang langsung disambut antusias oleh para peserta.
"Dongeng adalah metode bonding, sekaligus menambah kecerdasan untuk anak," ujar Prof Stella di acara festival hari anak, Minggu (26/7).
Ekspresi wajah dan intonasi yang penuh penghayatan membuat anak-anak larut dalam setiap alur cerita. Tawa dan jawaban spontan dari para peserta beberapa kali terdengar selama sesi berlangsung.
Mengingatkan Pentingnya Berbakti kepada Orang TuaDongeng pertama yang dibawakan adalah kisah rakyat Malin Kundang. Lewat cerita tersebut, Prof Stella mengajak anak-anak memahami pentingnya menghormati dan tidak durhaka kepada orang tua.
Tak hanya mendengarkan, anak-anak juga diajak berdiskusi mengenai pesan moral yang terkandung dalam cerita sehingga suasana mendongeng terasa lebih hidup.
Dongeng Karya Putranya Angkat Makna Menerima PerbedaanDongeng kedua berjudul Hibernasi dan Kemampuan Spesial Diri Sendiri, merupakan karya Bayu Czech yang terinspirasi dari pengalaman pribadinya saat bersekolah di China.
Cerita tersebut mengisahkan seorang anak bernama Lintang yang hidup di sebuah negeri tempat semua orang memiliki kemampuan untuk berhibernasi. Berbeda dengan orang-orang di sekitarnya, Lintang justru tidak bisa berhibernasi.
Karena dianggap berbeda, orang tuanya meminta Lintang untuk tidak menceritakan kemampuannya kepada siapa pun. Namun ketika ia tetap bercerita kepada teman-temannya, Lintang justru diejek dan dikucilkan.
Hingga suatu hari, gempa bumi besar melanda saat seluruh penduduk sedang berhibernasi. Hanya Lintang yang tetap terjaga. Ia kemudian bekerja keras memperbaiki berbagai kerusakan dan membantu memulihkan desanya seorang diri.
Saat musim semi tiba, seluruh penduduk terkejut melihat desa mereka telah kembali pulih. Mereka akhirnya menyadari bahwa Lintanglah yang telah menyelamatkan semua orang.
Meski begitu, masih ada sebagian orang yang justru menuduh Lintang sebagai penyebab bencana tersebut. Pada akhirnya, Lintang memilih hidup di gunung sambil berpegang pada keyakinannya sendiri.
Melalui dongeng tersebut, Bayu ingin menyampaikan pesan bahwa setiap anak memiliki keunikan yang tidak perlu disembunyikan. Seseorang juga tidak perlu hidup demi mendapatkan pengakuan dari orang lain.
"Dengarkan suara hati sendiri," menjadi pesan penutup yang disampaikan dalam kisah tersebut.
Lewat dua cerita yang dibawakannya, Prof Stella menunjukkan bahwa mendongeng bukan sekadar hiburan, tetapi juga menjadi cara menyampaikan nilai-nilai kehidupan, membangun kedekatan antara orang tua dan anak, serta menumbuhkan rasa percaya diri pada anak sejak dini.






Komentar (0)