Membaca Identitas Koleksi Ilmiah: Peran DNA Barcoding

kumparan.com
9 jam lalu
Cover Berita

Di balik lemari penyimpanan museum, herbarium, dan pusat koleksi biodiversitas, tersimpan jutaan cerita tentang kehidupan di bumi. Setiap spesimen yang tersusun rapi bukan sekadar benda mati, melainkan rekaman perjalanan evolusi, biologi, perubahan lingkungan, dan keberagaman makhluk hidup yang pernah ada.

Namun, ada satu pertanyaan penting yang selalu menyertai keberadaan koleksi ilmiah tersebut: apakah identitas setiap spesimen benar-benar sudah tepat?

Mengenal DNA Barcoding: Teknologi Modern untuk Verifikasi dan Validasi Koleksi IlmiahMembuka Kembali Identitas Spesimen Melalui Jejak DNA

Koleksi ilmiah merupakan fondasi penting dalam penelitian keanekaragaman hayati. Spesimen yang tersimpan dalam museum, herbarium, bank genetik, maupun pusat koleksi biologis menjadi sumber informasi untuk memahami evolusi, distribusi organisme, hingga perubahan lingkungan dari masa ke masa. Namun, salah satu tantangan terbesar dalam pengelolaan koleksi ilmiah adalah memastikan bahwa setiap spesimen telah diidentifikasi secara tepat dan tervalidasi secara akurat.

Kesalahan identifikasi taksonomi dapat terjadi akibat keterbatasan karakter morfologi, perubahan bentuk organisme selama proses preservasi, kemiripan antarspesies (cryptic species), maupun keterbatasan jumlah ahli taksonomi. Kondisi tersebut menyebabkan data koleksi ilmiah berpotensi mengalami ketidakakuratan yang dapat memengaruhi penelitian lanjutan (Hebert et al., 2003). Salah satu pendekatan modern yang mampu membantu mengatasi permasalahan tersebut adalah DNA barcoding.

DNA barcoding merupakan metode identifikasi organisme menggunakan potongan pendek DNA standar yang berfungsi sebagai “kode batang biologis” suatu spesies. Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh Hebert et al. (2003), yang mengusulkan penggunaan sekuens gen mitokondria cytochrome c oxidase subunit I (COI) sebagai penanda universal untuk identifikasi hewan. Melalui perbandingan sekuens DNA dengan basis data referensi, suatu spesimen dapat diverifikasi berdasarkan kesesuaian pola genetiknya.

DNA Barcoding sebagai Alat Verifikasi Koleksi Ilmiah

Dalam konteks koleksi ilmiah, DNA barcoding berperan sebagai metode verifikasi dan validasi identitas spesimen. Verifikasi dilakukan dengan memastikan bahwa nama ilmiah yang melekat pada suatu spesimen sesuai dengan informasi genetik yang dimilikinya. Sementara itu, validasi dilakukan melalui pembandingan data molekuler dengan spesimen pembanding atau referensi terpercaya yang tersedia dalam basis data internasional.

Tahapan utama DNA barcoding meliputi beberapa proses, yaitu ekstraksi DNA, amplifikasi gen target menggunakan teknik Polymerase Chain Reaction (PCR), pengurutan DNA (DNA sequencing), analisis bioinformatika, dan pencocokan hasil dengan basis data genetik seperti Barcode of Life Data System (BOLD Systems) dan GenBank.

Pada koleksi museum atau herbarium, DNA barcoding memberikan peluang besar untuk melakukan pemeriksaan ulang terhadap spesimen lama yang sebelumnya hanya berdasarkan karakter morfologi. Spesimen yang mengalami kerusakan fisik atau kehilangan beberapa karakter diagnostik masih dapat dianalisis melalui fragmen DNA yang tersimpan dalam jaringan tubuhnya (Hajibabaei et al., 2007).

Mengapa DNA Barcoding Penting bagi Koleksi Biologi?

Koleksi ilmiah tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan spesimen, tetapi juga sebagai sumber data biodiversitas jangka panjang. Oleh karena itu, akurasi identitas spesimen menjadi faktor utama dalam menghasilkan penelitian yang dapat dipercaya.

Beberapa manfaat utama DNA barcoding dalam pengelolaan koleksi ilmiah antara lain:

1. Mengurangi Kesalahan Identifikasi Spesies

Identifikasi berbasis morfologi terkadang sulit dilakukan terutama pada organisme yang memiliki kemiripan bentuk. DNA barcoding mampu membedakan spesies berdasarkan variasi genetik sehingga membantu menemukan kesalahan determinasi sebelumnya (Hebert & Barrett, 2005).

Sebagai contoh, beberapa kelompok serangga, ikan, dan tumbuhan memiliki spesies yang secara morfologi hampir tidak dapat dibedakan. Dengan pendekatan molekuler, spesies tersebut dapat dipisahkan berdasarkan jarak genetiknya.

2. Memperkuat Data Koleksi dan Basis Data Biodiversitas

Integrasi antara data spesimen fisik dan informasi DNA menghasilkan koleksi ilmiah yang lebih lengkap. Setiap spesimen tidak hanya memiliki informasi lokasi, waktu koleksi, dan karakter morfologi, tetapi juga memiliki identitas genetik yang dapat digunakan untuk penelitian berikutnya.

Menurut Hebert et al. (2004), pembangunan perpustakaan DNA barcode (DNA barcode library) menjadi langkah penting dalam dokumentasi biodiversitas global karena menyediakan referensi molekuler bagi berbagai organisme.

3. Mendukung Penemuan Spesies Baru

DNA barcoding juga membantu mengungkap keberadaan spesies yang sebelumnya belum dikenali. Perbedaan genetik yang konsisten antara kelompok organisme dapat menjadi indikasi awal adanya spesies baru (candidate species) yang kemudian dapat dikonfirmasi melalui kajian taksonomi lebih lanjut (Meyer & Paulay, 2005).

4. Melestarikan Informasi Spesimen Lama

Spesimen koleksi yang dikumpulkan puluhan hingga ratusan tahun lalu tetap memiliki nilai ilmiah. Melalui pendekatan DNA barcoding, informasi genetik dari spesimen lama dapat dimanfaatkan kembali untuk menjawab pertanyaan ilmiah modern seperti perubahan distribusi spesies, kepunahan lokal, dan dinamika populasi.

Tantangan Penerapan DNA Barcoding

Meskipun memiliki banyak keunggulan, penerapan DNA barcoding dalam koleksi ilmiah masih menghadapi beberapa tantangan. Tantangan tersebut antara lain koleksi yang sudah disimpan dalam formalin tentu memerlukan ekstraksi tertentu ataupun optimasi dalam analisisnya (Ruane & Austin, 2017 ; Holleley & Hahn, 2025).

Selanjutnya adalah keterbatasan basis data referensi yang belum mencakup seluruh keanekaragaman hayati dunia. Basis data yang tidak lengkap dapat menyebabkan kesalahan interpretasi ketika suatu sekuens DNA dibandingkan dengan referensi yang belum tervalidasi.

Selain itu, variasi genetik dalam satu spesies (intraspecific variation) maupun kedekatan genetik antarspesies (interspecific similarity) dapat menyebabkan hasil identifikasi menjadi kurang jelas. Oleh sebab itu, DNA barcoding tidak dimaksudkan untuk menggantikan identifikasi taksonomi konvensional, melainkan menjadi metode pendukung yang memperkuat proses determinasi spesies (DeSalle et al., 2005).

Pendekatan terbaik saat ini adalah menggabungkan data morfologi, ekologi, dan molekuler dalam konsep integrative taxonomy. Pendekatan ini memungkinkan identifikasi organisme dilakukan secara lebih komprehensif dan akurat.

Masa Depan Koleksi Ilmiah Berbasis Molekuler

Perkembangan teknologi genomik membuka peluang besar bagi transformasi koleksi ilmiah menjadi pusat data biodiversitas modern. DNA barcoding menjadi salah satu teknologi penting yang menjembatani koleksi tradisional dengan era digital melalui penyediaan informasi genetik yang dapat diakses oleh peneliti di seluruh dunia.

Di masa depan, kombinasi antara koleksi fisik, data digital, dan informasi genomik akan menghasilkan sistem dokumentasi biodiversitas yang lebih kuat. Museum, herbarium, dan lembaga penelitian tidak lagi hanya menyimpan spesimen, tetapi juga menyimpan “identitas genetik” kehidupan yang dapat digunakan untuk konservasi, pemantauan lingkungan, dan penelitian evolusi.

Dengan demikian, DNA barcoding bukan sekadar metode identifikasi, tetapi merupakan instrumen penting dalam memastikan bahwa setiap spesimen koleksi ilmiah memiliki identitas yang benar, data yang valid, dan nilai ilmiah yang berkelanjutan.

Daftar Pustaka

DeSalle, R., Egan, M. G., & Siddall, M. (2005). The unholy trinity: Taxonomy, species delimitation and DNA barcoding. Philosophical Transactions of the Royal Society B: Biological Sciences, 360(1462), 1905–1916. https://doi.org/10.1098/rstb.2005.1722

Hajibabaei, M., Singer, G. A. C., Hebert, P. D. N., & Hickey, D. A. (2007). DNA barcoding: How it complements taxonomy, molecular phylogenetics and population genetics. Trends in Genetics, 23(4), 167–172. https://doi.org/10.1016/j.tig.2007.02.001

Hebert, P. D. N., Cywinska, A., Ball, S. L., & deWaard, J. R. (2003). Biological identifications through DNA barcodes. Proceedings of the Royal Society B: Biological Sciences, 270(1512), 313–321. https://doi.org/10.1098/rspb.2002.2218

Hebert, P. D. N., Ratnasingham, S., & deWaard, J. R. (2004). Barcoding animal life: Cytochrome c oxidase subunit 1 divergences among closely related species. Proceedings of the Royal Society B: Biological Sciences, 270(Suppl 1), S96–S99. https://doi.org/10.1098/rsbl.2003.0025

Hebert, P. D. N., & Barrett, R. D. H. (2005). Understanding biodiversity through DNA barcodes. Proceedings of the Royal Society B: Biological Sciences, 360(1462), 1829–1830. https://doi.org/10.1098/rstb.2005.1727

Holleley, C. E., & Hahn, E. E. (2025). Reframing Formalin: A Molecular Opportunity Enabling Historical Epigenomics and Retrospective Gene Expression Studies. Molecular Ecology Resources, 25. https://doi.org/10.1111/1755-0998.14065

Meyer, C. P., & Paulay, G. (2005). DNA barcoding: Error rates based on comprehensive sampling. PLoS Biology, 3(12), e422. https://doi.org/10.1371/journal.pbio.0030422

Ruane, S., & Austin, C. C. (2017). Phylogenomics using formalin‐fixed and 100+ year‐old intractable natural history specimens. Molecular Ecology Resources, 17. https://doi.org/10.1111/1755-0998.12655

Penulis Andina Ramadhani Putri Pane & Siti Mardlijah, Peneliti pada Direktorat Pengelolaan Koleksi Ilmiah (DPKI), BRIN.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Kesaksian Ketua RT di Tengah Misteri Kematian Sutrimo, Terkapar Tak Sadarkan Diri di Depan Klinik
• 1 jam lalu
0
thumb
5 Buah untuk Bantu Kontrol Gula Darah yang Sehat
• 8 jam lalu
0
thumb
Media Massa Diharapkan Terus Junjung Etika Jurnalistik
• 3 jam lalu
0
thumb
Bentrokan Besar di Jalan Tambak Dipicu Masalah Nasi Uduk
• 8 jam lalu
0
thumb
KPK Geledah Sejumlah Lokasi di Bengkulu, Uang Tunai Rp4 Miliar Disita
• 15 jam lalu
0
Berhasil disimpan.