VIVA – "Dirty Coffee satu, Coffee O Black satu, dua teh manis," ucap Bayu dengan suara lantang dari balik meja kasir. "Hoo... hoo... yeee!" sahut beberapa orang yang sibuk menyiapkan pesanan.
Entah sudah berapa kali yel-yel tersebut menggema setiap kali Bayu membacakan daftar pesanan dari para pembeli yang terus berdatangan. Suasana di dalam stan UMKM Stadion Si Jalak Harupan, Kab, Bandung, Sabtu malam WIB, 25 Juli 2026 itu nyaris tak pernah benar-benar sepi.
VIVA benar-benar menyaksikan momen itu penuh kegirangan. Dinginnya udara, aroma kopi yang baru digiling bercampur dengan harum dimsum yang sedang dimasak membuat suasana semakin syahdu.
Di depan meja kasir, antrean terus mengular. Sementara di belakangnya, tangan-tangan para pekerja bergerak tanpa henti, mulai dari meracik minuman, mengemas makanan, hingga menyerahkan pesanan kepada pelanggan. "Bisa pakai qris kang," tanya seorang pembeli.
"Oh bisa kang, mau cash mau qris bisa," saut Bayu.
- Robbi Yanto / VIVA
Sesekali Bayu harus meninggikan suaranya agar terdengar di tengah riuhnya percakapan pengunjung dan musik yang mengalun dari area stadion. Meski wajahnya mulai dibasahi keringat, senyum tak pernah lepas.
Baginya, ramainya pembeli justru menjadi tanda bahwa usaha yang dijalankan hari itu membuahkan hasil. "Alhamdulillah a, dari tadi sore belum sempat istirahat," ucapnya saat menyiapkan pesanan saya.
Bagi para pelaku UMKM, hiruk-pikuk turnamen pramusim sepak bola bergengsi ini bukan sekadar tentang pertandingan di atas lapangan. Piala Presiden 2026 menjadi panggung kedelapan tahun beruntun sebagai panggung ekonomi kerakyatan.
Produk mereka dikenal lebih luas, dagangan laris manis, dan omzet yang biasanya didapat dalam beberapa hari, kini bisa diraih hanya dalam hitungan jam. Tak hanya keuntungan pribadi bagi pemilik UMKM, Piala Presiden juga membuka lapangan pekerjaan bagi peramu minuman dan makanan.
Ya, Piala Presiden memang khusus diselenggarakan untuk menghidupkan ekosistem ekonomi bawah. Ketua Steering Committee (SC) Piala Presiden 2026 Maruarar Sirait mengatakan, sudah seharusnya sepakbola menjadi panggung hiburan yang memberdayakan.
- Istimewa
"Kita berusaha yang terbaik untuk menjaga arahan Presiden Prabowo. Nomor satu, benar-benar transparan, jadi kita diaudit oleh PricewaterhouseCoopers (PwC), auditor yang levelnya internasional. Yang kedua, kita tidak menggunakan uang negara," kata Maruarar.






Komentar (0)