Prahara Pulau Emas dalam Bingkai Kamera

kompas.id
4 jam lalu
Cover Berita

Bencana hidrometeorologi yang melanda Pulau Sumatera akhir tahun lalu menyisakan memori tentang duka. Ribuan foto yang dihasilkan para pewarta pun menjadi saksi kengerian dampak bencana itu, tapi sekaligus juga sebagai bahan refleksi mitigasi yang berharga untuk generasi selanjutnya.

Sebagian foto itu dipilih dan diabadikan dalam buku berjudul “Prahara Pulau Emas” yang diluncurkan di Omah Petroek, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta, Sabtu (25/7/2026) sore. Buku foto karya Pewarta Foto Indonesia (PFI) itu didukung Yayasan Riset Visual Matawaktu dan PT PLN (Persero).

Kurator buku sekaligus perwakilan PFI Danu Kusworo, dalam diskusi dan pameran foto saat peluncuran buku, mengatakan, penyusunan buku ini dilakukan dalam waktu kurang dari satu bulan. Total foto yang dikurasi sebanyak lebih kurang 350 dan dipilih sebanyak 140 foto untuk ditampilkan dalam buku.

Foto-foto ini merekam kejadian bencana banjir bandang dan tanah longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada November 2025. Bencana hidrometeorologi itu menimbulkan lebih dari 1.000 korban tewas dan ratusan ribu warga lainnya mengungsi akibat kehilangan rumah atau rumahnya rusak parah.

Selain menampilkan tentang kerusakan dan dampak-dampak langsung bencana, Danu mengatakan, foto-foto dalam buku ini juga merekam aspek perjuangan para penyintas disertai kisah-kisah kemanusiaan di baliknya. Ada pula soal upaya pemulihan dan optimisme harapan yang muncul pascabencana.

Danu menceritakan, mayoritas dari 48 fotografer yang menyumbangkan karya dalam buku ini adalah jurnalis foto media massa yang ditugaskan meliput bencana tersebut oleh kantor masing-masing. Mereka juga tergabung sebagai anggota dalam PFI.

Baca JugaBencana di Sumatera dan Ilusi Kapasitas Negara

Dia menjelaskan, setiap ada bencana besar di Indonesia, PFI selalu menyiapkan buku foto untuk diterbitkan pascabencana. Hal ini telah dimulai saat bencana gempa dan tsunami Aceh pada 2004.

“Sejak itu PFI sudah menerbitkan tujuh buku tentang bencana di Indonesia,” ucap pewarta foto Harian Kompas/Kompas.id tersebut.

Hal sama pun dilakukan PFI ketika bencana banjir dan longsor melanda ketiga provinsi di Sumatera tersebut. Mereka menginformasikan kepada para anggota yang bertugas di ketiga provinsi terdampak untuk membuat foto tersendiri selain foto-foto yang dikirim ke kantor media masing-masing.

Danu mengungkapkan, selain sebagai dokumentasi peristiwa besar di negeri ini, buku tersebut sekaligus menjadi pengingat bagi generasi selanjutnya tentang risiko bencana yang bisa melanda kapan saja. “Ini penting untuk upaya mitigasi bencana di masa depan,” tuturnya.

Baca JugaBencana Sumatera, Terlalu Mahal untuk Dilewatkan Tanpa Pembelajaran

Sementara itu, menurut pendiri Yayasan Riset Visual Matawaktu, Oscar Motuloh, para wartawan yang bertugas di lokasi bencana di Sumatera mewakili mata dunia. Hal ini penting untuk menyajikan fakta-fakta lapangan kepada publik tentang apa yang terjadi.

Hadirnya buku ini pun menjadi salah satu cara para pewarta foto mengembalikan karya-karya mereka ke masyarakat. Hal tersebut seperti yang mereka lakukan pula pada tujuh buku sebelumnya.

“Banyak orang yang gampang lupa. Padahal, kita hidup di negeri ‘cincin api’ yang rawan bencana. Inilah pentingnya dokumentasi agar kita tak mudah lupa dan lebih sadar tentang potensi bencana di masa depan,” ujarnya.

Judul buku foto ini, kata Oscar yang juga merupakan anggota Dewan Etik PFI, mewakili situasi yang terjadi di Sumatera. Sumatera di masa lampau dikenal dengan nama Suwarnadwipa, bahasa sanskerta yang berarti “pulau emas”.

Ini seolah menjadi peringatan bagi kita tentang pentingnya menghargai alam semesta.

“Adapun prahara yang dimaksud adalah bencana, bisa bermakna bencana alam maupun bencana yang diciptakan manusia,” tutur Oscar.

“Emas” yang diburu orang selama ratusan tahun di Sumatera memunculkan prahara melalui kerusakan alam. Hal tersebut salah satunya tampak dari gelondongan-gelondongan kayu yang terbawa arus banjir dari hulu, yang juga banyak terabadikan dalam foto-foto di buku ini.

Kerusakan alam itu pun pada gilirannya ditengarai memperparah dampak bencana di ketiga provinsi tersebut. “Ini seolah menjadi peringatan bagi kita tentang pentingnya menghargai alam semesta,” kata Oscar.

Selain pewarta foto, buku ini juga menampilkan karya-karya foto dari para petugas PLN di lapangan. Mereka bertugas memulihkan sistem kelistrikan yang lumpuh akibat bencana, termasuk di tempat-tempat terisolasi yang tak bisa diakses jurnalis.

Baca JugaFotografi Perjalanan Pewarta Foto Kompas

Executive Vice President Komunikasi Korporat dan Tanggung Jawab Sosial Lingkungan PT PLN (Persero) Gregorius Adi Trianto menceritakan, awalnya foto-foto yang diambil para petugas itu hanya dimaksudkan sebagai dokumentasi internal PLN.

Namun, setelah bencana berlalu, muncul pemikiran agar foto-foto tersebut tak hanya berakhir di media sosial atau pemberitaan. Foto-foto itu akan memiliki nilai lebih sebagai pembelajaran sejarah bagi generasi selanjutnya ketika diabadikan dalam buku.

Gregorius pun mendiskusikan ini dengan Yayasan Riset Visual Matawaktu dan PFI, yang ternyata memiliki visi senada. Ketiganya lalu menjalin kolaborasi yang melahirkan buku “Prahara Pulau Emas” ini.

Salah satu foto dramatis yang dihasilkan petugas PLN adalah saat pemindahan sebuah menara jaringan transmisi di Desa Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, Aceh. Menara itu terancam tumbang oleh sinkhole atau tanah ambles sebagai dampak bencana hidrometeorologi.

Baca JugaBanjir Sumatera Bencana Ekologi, Menandai Malaadaptasi Krisis Iklim

Petugas PLN, Afrizal Saputra, memotret enam petugas yang sedang membongkar menara itu di ketinggian. Jurang sinkhole raksasa tampak begitu dekat di latar belakang.

Gregorius menjelaskan, menara harus segera dipindahkan karena setiap hari sinkhole itu mengikis tanah di sekitarnya dan terus mendekati lokasi menara. Jika menara itu putus, dampaknya bisa merembet ke pasokan listrik di seluruh jaringan. “Waktu pemindahan menara itu, belum ada media yang sampai ke lokasi,” ujarnya.

Pendiri Omah Petroek, Sindhunata, menggarisbawahi arti penting buku dan pameran foto “Prahara Pulau Emas” ini dalam mengingatkan kita agar tidak gegabah terhadap alam. Peran pewarta foto pun menjadi vital dalam mendokumentasikan peristiwa tersebut.

“Kalau tidak ada foto-foto seperti ini, kita tidak akan ingat betapa rusaknya alam karena kelakuan kita sendiri dan betapa susahnya manusia (akibat hal tersebut),” ujar wartawan senior tersebut.

Menurut rencana, pameran foto ”Prahara Pulau Emas” itu juga akan digelar di Padang, Sumatera Barat, pada 27-31 Juli 2026. Setelah itu, berlanjut ke Aceh pada 3-8 Agustus 2026 dan Medan, Sumatera Utara, pada 10-15 Agustus 2026.

Baca JugaPeluncuran Buku Foto Prahara Pulau Emas


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Pentingnya Aktivasi Rekening Program Indonesia Pintar Sebelum ke Bank
• 1 jam lalu
0
thumb
Inul Daratista Mengaku Belum Dapat Honor dari Stasiun TV, sang Pedangdut Desak Baim Wong Ikut Buka Suara
• 22 jam lalu
0
thumb
5 dari 100 Penduduk Angkatan Kerja Indonesia Masih Menganggur di 2026, Jakarta Masuk Daftar
• 12 jam lalu
0
thumb
Kuasa Hukum Richard Lee Soroti Kejanggalan Surat Kuasa Pelapor di Persidangan
• 7 jam lalu
0
thumb
Jubir Otorita IKN Meninggal, Keluarga Ungkap Punya Riwayat Darah Tinggi
• 1 jam lalu
0
Berhasil disimpan.