Pantau - Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus Chief Executive Officer Danantara Indonesia Rosan Roeslani menyatakan proyek hilirisasi yang dikembangkan PT Vale Indonesia mampu menghasilkan nilai tambah yang lebih tinggi sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global.
Rosan mengatakan pengembangan kawasan industri berbasis hilirisasi menjadi bagian dari strategi membangun ekosistem kendaraan listrik nasional.
Ia menjelaskan pengembangan tersebut ditujukan untuk menciptakan lapangan kerja, memperkuat kemandirian industri nasional, serta mendukung target transisi energi.
Rosan mengungkapkan, "Proyek hilirisasi Vale menempatkan standar baru dalam kolaborasi internasional yang selaras dengan kepentingan nasional, yakni membangun kedaulatan sumber daya, membuka lapangan kerja, serta menciptakan nilai tambah tinggi yang mendukung agenda Net Zero Emissions."
Proyek HPAL Sambalagi Masuki Tahap PentingPercepatan hilirisasi nikel dinilai menjadi faktor penting dalam memperkuat rantai pasok industri kendaraan listrik nasional melalui pembangunan fasilitas pengolahan berteknologi tinggi.
Selain meningkatkan nilai tambah mineral di dalam negeri, percepatan hilirisasi juga diharapkan memperluas investasi, menciptakan lapangan kerja baru, serta menggerakkan perekonomian daerah.
Salah satu indikator percepatan tersebut adalah kemajuan pembangunan fasilitas High Pressure Acid Leaching (HPAL) Sambalagi milik PT Vale Indonesia yang merupakan anggota Holding Industri Pertambangan Indonesia MIND ID.
Fasilitas HPAL Sambalagi yang berlokasi di Morowali, Sulawesi Tengah, merupakan bagian dari Indonesia Growth Project (IGP) Morowali dengan nilai investasi sekitar 2 miliar dolar AS.
Proyek tersebut telah memasuki tahapan penting setelah kedatangan komponen utama autoclave.
Fasilitas itu dibangun dengan tiga jalur produksi dan ditargetkan mencapai first mechanical completion pada akhir 2026.
Pengamat Sebut HPAL Jadi Kebutuhan StrategisPengamat tambang dan energi Ferdy Hasiman menilai pembangunan fasilitas HPAL kini menjadi kebutuhan strategis bagi industri nikel seiring meningkatnya permintaan bahan baku baterai kendaraan listrik di tingkat global.
Menurut Ferdy, perusahaan yang mampu mengembangkan fasilitas pemrosesan mineral akan memiliki daya saing lebih tinggi dibandingkan perusahaan yang masih mengandalkan ekspor bahan mentah atau produk dengan nilai tambah rendah.
Ferdy mengatakan, "Sebagian besar belanja modal perusahaan tambang saat ini memang diarahkan untuk pembangunan HPAL karena fasilitas ini akan menjadi tulang punggung ekosistem kendaraan listrik. Sejauh ini, MIND ID melalui Vale termasuk yang paling agresif mengembangkan proyek tersebut."
Ferdy menambahkan pemerintah bersama Danantara Indonesia terus mempercepat agenda hilirisasi melalui dukungan investasi pada proyek-proyek strategis.
Ia menilai konsistensi investasi menjadi faktor penting untuk menjaga daya saing Indonesia di tengah persaingan global dalam industri baterai dan kendaraan listrik.
Ferdy mengatakan, "Beberapa perusahaan nikel swasta memang tidak terlalu agresif dalam dua tahun terakhir, kemungkinan dipengaruhi dinamika regulasi. Karena itu, keberlanjutan proyek-proyek hilirisasi menjadi penting untuk menjaga momentum investasi."
Dampak ekonomi proyek hilirisasi diharapkan semakin dirasakan di daerah penghasil nikel, khususnya Sulawesi Tengah.
Selain mendorong pertumbuhan industri, pengembangan kawasan industri dinilai mampu memperluas peluang usaha bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), meningkatkan aktivitas ekonomi masyarakat di sekitar kawasan industri, memperbesar penyerapan tenaga kerja, serta mendorong tumbuhnya rantai pasok lokal yang melibatkan pelaku usaha domestik.





Komentar (0)