jpnn.com, JAKARTA - Pengamat komunikasi politik dari Nusakom Pratama Institut Ari Junaedi menyebut Londo Ireng yang diucap Presiden Prabowo Subianto sebenarnya memiliki makna negatif, yakni kolaborator asing untuk menghancurkan bangsa sendiri.
Ari mengatakan label Londo Ireng seharusnya tidak bisa dialamatkan ke jurnalis, pengamat, dan aktivis LSM yang kerap mengkritisi program pemerintahan.
BACA JUGA: Prabowo Sebut Wartawan Londo Ireng, Guntur PDIP: Berbahaya Bagi Demokrasi
"Tidak bisa menyamaratakan pihak-pihak yang kritis terhadap penyimpangan dan kejanggalan di setiap program dan kebijakan pemerintah selalu ditanggapi dengan sarkas," kata dia melalui layanan pesan, Sabtu (25/7).
Ari menuturkan pihak yang kritis terhadap kebijakan pemerintah sebenarnya peduli dan menaruh kecintaan luar biasa dengan negara.
BACA JUGA: Prabowo Tuding Masih Ada Londo Ireng di Indonesia, Jadi Jurnalis, Pengamat, hingga LSM
Dia mengatakan ada sisi kontradiksi ketika diksi negatif terus dipakai pemerintahan Prabowo ke para pengkritik dalam kehidupak berdemokrasi.
"Seharusnya Prabowo berterima kasih ke para jurnalis, pengamat, dan aktivis LSM yang masih rajin memberikan kritik, karena presiden butuh penyeimbang antara informasi yang meninabobokan dengan informasi kritis dari pihak yang berada di luar pemerintahan," kata Ari.
BACA JUGA: Pengamat Nilai Prabowo Tak Perlu Bangun Universitas Baru, Cukup Perkuat Kampus
Penulis disertasi Pola Komunikasi Pelarian Politik Tragedi 1965 di Mancanegara itu sendiri menilai konteks pidato Prabowo memang perlu pembenahan dari lingkar terdekatnya.
"Presiden harus mau mendengar kritik dari luar, menghilangkan penyampaian tuduhan kontra produktif serta menghindari pidato spontan di setiap acara resmi kepresidenan," ujar Ari.
Sebelumnya, Presiden RI Prabowo Subianto menuding masih ada Londo Ireng di Indonesia yang sekarang memakai identitas sebagai jurnalis hingga LSM.
Londo Ireng sendiri adalah istilah dari bahasa Jawa (gabungan Londo yang berarti orang Belanda dan Ireng yang berarti hitam).
Istilah ini diartikan sebagai orang Indonesia yang saat itu mengabdi terhadap Belanda atau bangsa lain.
Prabowo menyampaikan itu saat memberikan sambutan dalam Peringatan Hari Lahir ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Jakarta Convention Center, pada Kamis (23/7) malam.
Mulanya, Prabowo menyebutkan bahwa ada media yang masih sering mencari-cari kesalahan pemerintah termasuk soal pembangunan sekolah.
“Ada juga media-media yang, walaupun sudah diperbaiki 67 ribu sekolah, dia cari sekolah yang belum diperbaiki, dia taruh di halaman pertama. Dia kira kami enggak ngerti,” ujar Prabowo.
Walau begitu, dia mengaku tak akan menyebutkan nama media yang dimaksud tersebut.
“Ini negara demokrasi, kami tidak antikritik, tetapi kita bukan anak kecil," ujarnya.
Dia menuding bahwa masih ada orang Indonesia yang senang mengabdi dan berbakti kepada bangsa lain.
“Itu yang dahulu disebut Londo Ireng, ya, yang ikut Belanda perang melawan kita. Londo-londo Ireng ini sampai sekarang masih ada. Hanya dia sekarang pakai baju lain. Wartawan, jurnalis, apa itu, pengamat, LSM,” tuturnya. (ast/jpnn)
Kamu Sudah Menonton Video Terbaru Berikut ini?
BACA ARTIKEL LAINNYA... Seloroh Prabowo, Dasco-Muhaimin-Bahlil seperti Pemimpin Kancil
Redaktur : Dedi Sofian
Reporter : Aristo Setiawan





Komentar (0)