Londo Ireng adalah Anak Negeri yang Mewarisi Sifat Penjajah

republika.co.id
1 jam lalu
Cover Berita

REPUBLIKA.CO.ID, Secara teoretis, nasionalisme sebagai konsep politik adalah ideologi negara-bangsa (nation-state) yang bersifat oriented-action (berorientasi kepada tindakan). Dalam format modern, nasionalisme berasal dari Eropa berupa perkawinan antara pemikiran Hegel (Jerman) dan Rousseau (Prancis). Hegel seperti mendewakan negara, sedangkan Rousseau membesar-besarkan gagasan tentang bangsa.

Watak dasar nasionalisme adalah ''perasaan anti''. Di Eropa antiabsolutisme dan dominasi gereja, sedangkan di negara-negara terjajah, termasuk Indonesia, bercorak antikekuasaan dan penjajahan asing. Dilihat dari perkembangannya, ada tiga corak nasionalisme: formatif, prestise, dan ekspansif.

Baca Juga
  • Prabowo: Dukungan untuk Kemerdekaan Palestina tak Bisa Ditawar
  • Presiden Prabowo Ungkap Rp1.000 Triliun Kebocoran Anggaran, Tegaskan Akan Dihentikan
  • Gubernur Jenderal VOC Peras Rakyat Lewat Pajak, Ada Pajak Rambut, Kuku Panjang, Judi dan Pelacuran
Corak terakhir ini tidak lain dari imperialisme modern yang ingin menguasai bangsa dan negara lain. Corak pertama dan kedua lebih berkonsentrasi pada masalah-masalah domestik dalam upaya konsolidasi untuk mengukuhkan jatidiri sebuah bangsa, atau dalam teori Bung Karno dikenal dengan ''pembangunan bangsa dan pembangunan karakter bangsa''.

Secara filosofis, nasionalisme mengajarkan doktrin tentang kesetiaan tertinggi setiap warga negara harus diberikan kepada negara-bangsa. ''Baik buruk adalah bangsa dan negara saya, dan oleh sebab itu saya harus membelanya.'' Maka, dari doktrin inilah kemudian muncul ungkapan ''berkorban untuk ibu pertiwi, berkorban untuk bangsa dan negara''.

.rec-desc {padding: 7px !important;}  

Di kalangan tentara, doktrin cinta bangsa ini seakan-akan telah jadi agama. Jika pada masa penjajahan dulu, ada kelompok Islam yang menolak nasionalisme, sebenarnya bertolak dari dimensi filosofisnya ini, di mana Tuhan sebagai sesembahan tertinggi seakan-akan telah kehilangan tempat dalam kehidupan manusia, bukan karena coraknya yang antipenjajahan asing.

Perkara melawan penjajahan asing ini, sudah sejak zaman VOC di awal abad ke-17, komunitas Muslim tidak pernah berhenti melancarkan perlawanan, sekalipun tidak pernah menang, karena yang dihadapi adalah manusia Barat modern yang rakus dengan teknologi perangnya yang sudah mulai canggih. Perbandingannya adalah ibarat pistol air melawan bedil bermesiu.

Loading...
.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;}
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
@font-face { font-family: "LPMQ"; src: url("https://static.republika.co.id/files/alquran/LPMQ-IsepMisbah.ttf") format("truetype"); font-weight: normal; font-style: normal } .arabic-text { font-family: "LPMQ"; font-weight: normal !important; direction: rtl; text-align: right; font-size: 2.5em !important; line-height: 49px !important; }

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Tolak Aturan Kadar Nikotin dan Tar, APTI Minta Perlindungan ke Presiden Prabowo
• 3 jam lalu
0
thumb
Mari Datang dan Nikmati, Ruang Interaksi Baru di Gramedia Jalma Pandanaran
• 20 jam lalu
0
thumb
Kebakaran Pabrik di Jombang, 6 Unit Damkar Dikerahkan Padamkan Kobaran Api
• 9 jam lalu
0
thumb
Cekcok dengan Satpam, Sopir dan Penumpang Alphard Ternyata Polisi Polda Jabar
• 20 jam lalu
0
thumb
Surya Paloh Ajak Masyarakat Perkuat Karakter Bangsa dan Jaga Demokrasi
• 5 jam lalu
0
Berhasil disimpan.