tvOnenews.com - Program sayembara tangkap begal yang digagas Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi terus menjadi sorotan publik.
Kebijakan yang menawarkan hadiah mulai dari Rp5 juta hingga Rp50 juta bagi warga yang berhasil menangkap pelaku kejahatan itu menuai dukungan, namun juga mendapat sejumlah kritik.
Salah satu kritik datang dari Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan (Menko Kumham Imipas) Yusril Ihza Mahendra.
Menurut Yusril, kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih dikhawatirkan membuat masyarakat tergiur mengejar hadiah sayembara.
Ia juga mengingatkan adanya potensi orang yang tidak bersalah menjadi korban karena dituduh sebagai pelaku begal.
"Kalau boleh saya menyampaikan nasihat, dengan segala hormat kepada Pak Gubernur Jawa Barat, sebaiknya jangan membuka sayembara seperti ini," ujar Yusril.
- Antara
Menanggapi kritik tersebut, Dedi Mulyadi mengaku menghargai seluruh masukan yang disampaikan masyarakat maupun para pejabat.
Ia menyebut kritik tersebut menjadi bahan evaluasi sekaligus kesempatan untuk menjelaskan tujuan sebenarnya dari program sayembara.
"Saya mengucapkan terima kasih kepada masyarakat yang memberikan kritik untuk sayembara tangkap begal, tangkap maling, tangkap copet, tangkap rampok. Yang mengkhawatirkan satu, main hakim sendiri, dua lahirlah drama begal pura-pura jadi begal untuk mendapatkan sayembara," kata Dedi Mulyadi, dilansir dari media sosial resminya.
Ia juga menyampaikan apresiasi secara khusus kepada Yusril Ihza Mahendra yang telah memberikan pandangannya terkait kebijakan tersebut.
"Saya juga berterima kasih kepada Pak Menko Hukum dan HAM Profesor Yusril, kebanggaan saya. Saya sampaikan beberapa hal alasan argumentatif dari sayembara ini," ujarnya.
- YouTube/KANG DEDI MULYADI CHANNEL
Menurut Dedi, tujuan utama sayembara bukan untuk mendorong masyarakat bertindak sendiri, melainkan mengurangi praktik main hakim sendiri yang selama ini kerap berujung pada kematian pelaku kejahatan.
"Yang pertama, sayembara ini justru untuk mencegah terjadinya upaya main hakim sendiri yang berujung kematian. Karena selama ini ketika maling ditangkap, cenderung menghakimi bahkan sampai meninggal. Saya banyak menangani masalah ini dan bisa dilihat dari media sosial yang saya miliki," jelasnya.
Dedi mengaku telah berkali-kali menangani kasus pelaku pencurian yang meninggal dunia akibat diamuk massa.





Komentar (0)