Sekolah Beratap Terpal, Beralas Tanah di Perbatasan Berau

kompas.id
5 jam lalu
Cover Berita

Sebanyak 50 siswa berseragam duduk di kursi kayu di bawah atap dan dinding terpal biru. Tiang bambu menyangga ruang kelas darurat beralaskan tanah itu. Di sanalah murid-murid SDN 001 Birang Filial, Kecamatan Gunung Tabur, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, belajar.

Sekolah tersebut merupakan sekolah cabang (filial) yang berjarak sekitar 50 kilometer dari sekolah induknya. Kegiatan belajar mengajar dilakukan di bangunan darurat tersebut pada Kamis (23/7/2026) dan Jumat (24/7/2026).

Kepala SDN 001 Birang, Maimunah, mengatakan, sebelumnya para siswa belajar di rumah warga yang dipinjamkan untuk kegiatan belajar mengajar sejak akhir 2023. Pemilik rumah meminjamkannya secara sukarela tanpa biaya.

Namun, pada Juli 2026, rumah tersebut akan digunakan untuk keperluan pemilik. Warga dan orangtua siswa akhirnya bergotong royong membangun tenda darurat agar siswa tetap bisa belajar. Sebab, tak ada bangunan lain yang bisa digunakan.

”Kami langsung mengadakan rapat darurat bersama Dinas Pendidikan Kabupaten Berau di tenda tersebut,” kata Kepala SDN 001 Birang Maimunah, dihubungi dari Balikpapan, Sabtu (25/7/2026).

Dari hasil rapat dengan orangtua, Pemkab Berau memberi opsi agar para siswa difasilitasi untuk belajar di sekolah induk. Sekolah induk berjarak sekitar 50 kilometer atau satu jam perjalanan dari sekolah filial.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Berau Mardiatul Idalisah mengatakan, pihaknya berencana mengerahkan satu bus untuk mobilisasi siswa pergi-pulang. Ia memastikan hal ini tak dipungut biaya alias gratis.

”Untuk detailnya, kami akan rapatkan dengan para pejabat. Insya Allah malam ini (sudah ada hasilnya),” ujar Mardiatul.

Sejarah sekolah filial

SDN 001 Birang Filial berada di perbatasan Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, dengan Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara. Tepatnya, sekolah tersebut berada di Jalan Poros Berau-Bulungan pada kilometer 43.

Sebelum tahun 2023, kendati tinggal di Kabupaten Berau, warga di sana menyekolahkan anak-anak mereka di provinsi tetangga di Kabupaten Bulungan. Para orangtua berlangganan antar jemput sekolah anak dengan mobil Rp 500.000 per bulan.

”Biaya itu memberatkan orangtua. Ada yang anaknya tiga sehingga harus membayar Rp 1,5 juta per bulan,” ujar Maimunah.

Akhirnya, warga di tepian Kecamatan Gunung Tabur itu memohon kepada Pemkab Berau untuk menyediakan fasilitas belajar mengajar di desa. Lantaran belum ada lahan untuk pembangunan sekolah, sejak akhir 2023 siswa tersebut dimasukkan SDN 001 Birang, sekolah terdekat dengan tempat tinggal warga.

Lantaran desa itu berjarak sekitar 50 km atau satu jam perjalanan dengan sekolah induk, dibuatlah konsep sekolah jauh atau filial. Seorang warga kemudian meminjamkan rumahnya untuk keperluan belajar mengajar anak-anak, sambil menunggu bangunan sekolah tersedia.

Baca JugaSepiring Gizi dan Kelas yang Roboh

Pada 2026, sebanyak tiga guru SDN 001 Birang mengajar 50 murid kelas satu sampai kelas enam di sana. Pemerintah belum bisa membangun sekolah lantaran belum tersedianya lahan.

”Pembangunan belum bisa dilaksanakan karena status legalitas lahan KBK (kawasan budidaya kehutanan),” kata Mardiatul.

Pihak sekolah dan Pemkab Berau sebenarnya sudah berkomunikasi dengan perusahaan pemegang izin KBK tersebut. Pihak perusahaan menawarkan meminjamkan lahan untuk kegiatan belajar mengajar.

Namun, pihak sekolah dan Pemkab Berau khawatir kegiatan belajar siswa terganggu ketika lahan tersebut di kemudian hari akan digunakan perusahaan. Mardiatul mengatakan, penyelesaian jangka panjang akan terus dicari agar siswa bisa bersekolah dekat dengan rumah.

Aras (40), salah satu wali murid, berharap ada solusi terbaik agar para siswa bisa belajar dengan tenang dan nyaman. Jika jauh dari rumah atau belajar di bawah terpal, ia khawatir anak tak bisa memahami pelajaran karena ruang belajar yang tidak nyaman.

”Kalau bisa, saya minta tolong, bagaimanapun caranya diperbaiki (ruang belajar bagi siswa),” ujarnya.

Opsi belajar di rumah

Menanggapi kekhawatiran orangtua, sebagai kepala sekolah, Maimunah akan membahas teknis kegiatan belajar mengajar 50 siswa di sekolah filial tersebut.

Dari pembahasan awal, agar anak-anak tidak lelah pergi-pulang ke sekolah induk, ada opsi dua hari belajar tatap muka dan tiga hari belajar di rumah.

Hal itu diharapkan membuat siswa tidak kelelahan akibat perjalanan pergi-pulang sekolah dua jam per hari. Konsep belajar di rumah, kata Maimunah, pihak sekolah akan menugaskan seorang guru ke rumah para siswa.

Secara teknis, siswa satu tingkatan berkumpul di satu rumah warga dan proses belajar berjalan. ”Satu guru untuk membagikan tugas dan memberi pelajaran. Apabila anak-anak kurang paham, kurang mengerti, nanti ditanyakan lagi waktu belajar tatap muka,” kata Maimunah.

Ia yang baru menjabat sebagai kepala sekolah kurang dari tiga bulan ini sedang berupaya mencari solusi praktis agar siswa bisa belajar di sekitar desa. Ia mengatakan, pihak desa akan membantu mencari alternatif lahan untuk sekolah.

Baca JugaSekolah Rusak di Jakarta Tampar Pramono, Tim Investigasi Dibentuk

Ia, warga, dan sejumlah pejabat pun dalam dua bulan ini berupaya mengumpulkan sumbangan atas nama pribadi untuk membangun tempat belajar bagi anak-anak, sambil menunggu keputusan anggaran dari Pemkab Berau.

”Mudah-mudahan terlaksana agar anak-anak bisa belajar dengan nyaman,” kata Maimunah.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
WNA Diduga Diskriminasi WNI di Komunitas Lari Bali, Polisi dan Imigrasi Selidiki | SAPA MALAM
• 23 jam lalu
0
thumb
Khofifah Lepas Kontingen LKS Nasional 2026, Targetkan Jatim Juara Umum Empat Kali Beruntun
• 2 jam lalu
0
thumb
Apindo Waspadai Risiko Tarif Baru AS, Industri Padat Karya Paling Rentan
• 4 jam lalu
0
thumb
Soroti Kasus Eks Jampidsus Febrie Adriansyah, Hendardi: Ancaman Terhadap Supremasi Hukum
• 4 jam lalu
0
thumb
Di RI Ada 13 Lokasi Megathrust, Kepala BMKG Kasih Peringatan Keras
• 6 jam lalu
0
Berhasil disimpan.