PDIP: Jangan Coba-Coba Pecah Belah NU Demi Ambisi Kekuasaan

liputan6.com
7 jam lalu
Cover Berita

Liputan6.com, Jakarta - Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan (PDIP), Hasto Kristiyanto, mengajak seluruh pihak menjaga keutuhan Nahdlatul Ulama (NU) dari berbagai upaya kooptasi dan intervensi politik praktis menjelang pelaksanaan Muktamar NU.

Menurut Hasto, secara historis NU memiliki kontribusi besar terhadap perjalanan bangsa. Berbekal visi kebangsaan, kesadaran geopolitik, serta tradisi Islam rahmatan lil 'alamin, NU menjadi salah satu organisasi yang turut membentuk jati diri Indonesia.

Advertisement

BACA JUGA: Membaca Arah Dukungan Nahdliyin Jateng di Bursa Ketum PBNU

"NU terlalu besar untuk dilibatkan dalam tarik-menarik kepentingan politik praktis. Jangan pernah coba-coba memecah belah NU demi ambisi kekuasaan. NU itu milik Indonesia dan dunia yang ditakdirkan dengan jiwa keislaman serta konsepsi pemikiran yang luar biasa," kata Hasto dalam keterangannya, Jumat (24/7/2026).

Hasto juga mengaku mengagumi pemikiran visioner para pendiri NU yang menurutnya tercermin dalam filosofi logo organisasi tersebut.

“Logo NU sangat membumi, visioner dan futuristik. Apalagi dengan kontribusi patriotismenya melalui Resolusi Jihad di dalam perjuangan mengusir bala tentara Sekutu yang ditunggangi NICA untuk menjajah kembali Indonesia," ujarnya.

Ia menilai sinergi antara nilai kebangsaan dan agama harus diawali dengan pemahaman sejarah yang benar mengenai pendirian NU dan PNI. Menurut Hasto, pemahaman tersebut penting sebagai bekal menghadapi berbagai persoalan yang tengah dihadapi Indonesia, mulai dari tantangan fiskal, moneter, pertumbuhan sektor riil, hingga persoalan penegakan hukum.

“Kasus mantan Jampidsus Febri dan upaya penyelamatannya adalah contoh nyata kegelapan hukum. Dengan menggali pemikirannya, maka sinergi NU dan PDI Perjuangan akan memperkuat cahaya Sembilan Bintang yang terdapat dalam logo NU menjadi cahaya kemanusiaan, keadilan, dan keberanian di dalam menyuarakan kebenaran," kata Hasto.

Hasto menambahkan, filosofi logo NU beserta maknanya juga kerap diajarkan di Sekolah Partai PDI Perjuangan. Menurutnya, simbol peta Indonesia yang utuh di atas bola dunia mencerminkan tekad Islam sebagai rahmatan lil 'alamin.

Ia juga mengingatkan pentingnya meneladani konsistensi perjuangan Bung Karno dan Megawati Soekarnoputri yang menempatkan Pancasila sebagai landasan membangun tata dunia baru sekaligus menjadi inspirasi bagi pembelaan terhadap bangsa-bangsa tertindas.

"Kembali ke Khittah 1926 adalah benteng ideologis dan moral agar elit NU tidak ikut dalam tarik-menarik kepentingan politik praktis. Siapa pun yang mencoba mengooptasi atau memecah belah NU demi ambisi kuasa akan menerima karma politik dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Mari kita jadikan NU sebagai penjaga moral, pembawa kerukunan, kebenaran, keadilan, dan pencerah bagi bangsa di tengah berbagai kegelapan yang terjadi saat ini," tambah Hasto.

 


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Cegah Investasi Bodong, Bank Mandiri Taspen Edukasi Masyarakat Kenali Produk Resmi Perbankan
• 12 jam lalu
0
thumb
Troy Pantaouw Juru Bicara IKN Berpulang, Pernah Berkarier di Suara Surabaya hingga Satgas Covid-19
• 46 menit lalu
0
thumb
Tantang DPMM FC, Tampines Rovers Siap Tampilkan Gaya Bermain Singapura di Piala Presiden 2026
• 23 jam lalu
0
thumb
BNNP Kepri musnahkan ratusan vape etomidate dan sabu 3,3 kg
• 23 jam lalu
0
thumb
Jadwal Bentrok dengan Pramusim Eropa, Justin Hubner Tak Dilepas Klub ke Timnas Indonesia untuk Piala AFF 2026
• 15 jam lalu
0
Berhasil disimpan.