Percaya Saran Medis ChatGPT Hampir Merenggut Nyawanya, Seorang Pria Florida Gugat OpenAI

erabaru.net
57 menit lalu
Cover Berita

EtIndonesia.com Kecerdasan buatan (AI) kembali menjadi sorotan dalam dunia medis. Seorang pria di negara bagian Florida, Amerika Serikat, mengaku hampir kehilangan nyawanya setelah mempercayai diagnosis dan saran medis yang diberikan oleh ChatGPT. Karena pengobatannya tertunda, ia akhirnya mengalami emboli paru (pulmonary embolism) yang hampir berakibat fatal. Pria tersebut kemudian menggugat OpenAI beserta CEO-nya, Sam Altman, ke pengadilan.

Para ahli mengingatkan bahwa AI hanya dapat digunakan sebagai referensi informasi, bukan sebagai pengganti diagnosis maupun penilaian tenaga medis profesional. Jika mengalami masalah kesehatan, masyarakat dianjurkan segera mencari pertolongan medis.

Menurut laporan tersebut, pria bernama Scott Winters mengajukan gugatan ke Pengadilan Tinggi San Francisco terhadap OpenAI dan CEO perusahaan, Sam Altman.

Dalam dokumen gugatan disebutkan bahwa Winters pernah menggunakan chatbot ChatGPT untuk menanyakan gejala seperti pusing dan tekanan darah yang tidak stabil. Menurut gugatan, ChatGPT memberikan tanggapan yang meremehkan tingkat keparahan kondisinya dan menyarankan agar ia beristirahat serta memantau kondisinya terlebih dahulu.

Beberapa minggu kemudian, Winters mengalami emboli paru masif yang disebabkan oleh pembekuan darah dan sempat berada dalam kondisi yang mengancam jiwa.

Ia menuduh bahwa saran yang diberikan ChatGPT membuatnya menunda mencari pertolongan medis.

Winters juga menyatakan bahwa ChatGPT mengetahui dirinya adalah seorang pendeta, sehingga dalam jawabannya AI menyertakan unsur-unsur bernuansa agama yang membuatnya semakin percaya pada saran tersebut.

Bukan Kasus Pertama

Laporan tersebut menyebutkan bahwa ini bukan pertama kalinya AI memicu kontroversi.

Pada Mei lalu, sepasang suami istri di Texas juga menggugat OpenAI. Mereka menuduh ChatGPT memberikan saran berbahaya terkait penggunaan obat kepada putra mereka yang berusia 19 tahun, yang kemudian meninggal dunia akibat overdosis obat.

Selain itu, sebelumnya juga pernah terjadi berbagai kasus lain yang melibatkan AI, seperti:

Tanggapan OpenAI

OpenAI menyatakan bahwa ChatGPT hanyalah alat bantu untuk menyusun dan menyajikan informasi, serta tidak dimaksudkan untuk menggantikan penilaian profesional.

Para ahli juga mengingatkan bahwa meskipun AI sangat membantu dan praktis, jawabannya tidak selalu benar. Terutama dalam persoalan yang menyangkut kesehatan, keselamatan, atau keputusan penting lainnya, pengguna tidak boleh sepenuhnya bergantung pada AI dan tetap harus meminta nasihat dari tenaga profesional.

Laporan oleh Li Wei, NTD Television


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Tanpa Baju Tahanan dan Borgol, Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Dibawa ke Rutan KPK
• 13 jam lalu
0
thumb
Kejagung: Febrie Adriansyah Masih Terima Gaji Meski Jadi Tersangka Kasus Asabri
• 20 jam lalu
0
thumb
Inul Daratista Ungkap Honor Miliaran dari Stasiun TV Akhirnya Diurus
• 6 jam lalu
0
thumb
Kapal AS Tembak Target Misterius di Tetangga RI, Jutaan Orang Tewas
• 2 jam lalu
0
thumb
Viral Xpander Tutup Pelat Nomor Pakai Lakban, Polisi Hanya Beri Teguran
• 18 jam lalu
0
Berhasil disimpan.