Ada Simbol Penolakan Prabowo Terhadap Gibran yang Lebih Keras dari Posisi Duduk

wartaekonomi.co.id
57 menit lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Budayawan Mohamad Sobary menilai terdapat simbol penolakan Presiden Prabowo Subianto terhadap Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang lebih keras daripada sekadar posisi duduk dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Senin (20/7/2026).

Dalam sidang tersebut, Gibran tidak lagi duduk di samping Prabowo, melainkan sejajar dengan para Menteri Koordinator. 

"Bagi Presiden Prabowo wakilnya itu symbol of nothing ya. Nothing lah. Prabowo sudah mengginikan itu melalui simbol tidak boleh duduk dekat dia tadi," ujarnya dalam Forum Keadilan TV, dikutip Sabtu (25/7).

Sobary menambahkan, simbol penolakan yang lebih tegas terlihat ketika Prabowo tidak mengajak Gibran dalam kegiatan blusukan bertemu rakyat.

"Tidak boleh ikut (ketika presiden bertemu rakyat) itu lebih keren lagi lebih keras simbol penolakannya itu lebih keras, meskipun mungkin Prabowo juga tidak terlalu bermain simbol macam itu," ucap Sobary.

Ia menilai ada semacam politik bawah sadar atau insting yang dimainkan Prabowo yang menganggap bahwa Gibran sebagai anak kecil hanya menghalang-halangi jalannya.

"Six sense, six sense-nya Prabowo. Comen sense-nya Prabowo mengatakan ini bocah cah cilik ini ngalang-ngalangi ngeribeti. Ditaruh di belakang dia narik-narik gondeli memberati di belakang ditaruh di depan dia ngalang-ngalangi. Itu anunya ungkapannya," ujarnya.

Sobary menegaskan bahwa Prabowo seolah ingin menunjukkan tidak ada hubungan langsung antara tugasnya sebagai presiden dengan peran Gibran sebagai wakil presiden.

"Jangan dekat-dekat sama gue. Gue enggak ada hubungan sama dia. Tugas-tugas gue harian itu enggak ada hubungan dengan tugas dia. Tugas gue tugas gua. Enggak perlu ada dia. Ngapain? Kaya gitu bung kira-kira," tandasnya.

Baca Juga: 'Dia Itu Boneka Bung', Kritik Pedas Budayawan soal Kekosongan Gibran

Sementara itu, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi memberikan klarifikasi resmi terkait posisi duduk Gibran. Ia menegaskan bahwa perubahan tata letak meja sidang murni karena kebutuhan teknis operasional, bukan karena adanya keretakan politik.

"Kalau saudara-saudara kemarin perhatikan adalah bapak presiden berada di tengah-tengah. Dan kalau yang dipertanyakan adalah posisi dari bapak wakil presiden, kalau menurut kami ini hanya masalah kebutuhan teknis semata, tidak ada hal-hal lain yang mungkin perlu dikhawatirkan," ujar Prasetyo.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Purbaya Tegaskan Insentif Pajak 0% PFII Bukan Potential Loss, Justru Tarik Investasi Besar
• 20 jam lalu
0
thumb
Indonesia Lobi AS agar Tarif Section 301 Lebih Kompetitif
• 1 jam lalu
0
thumb
Hajime Moriyasu Pamit dari Timnas Jepang, Piala Asia 2027 Jadi Panggung Perpisahan
• 23 jam lalu
0
thumb
BRI Life Hadirkan Asuransi Savara, Siapkan Dana Pendidikan hingga Pensiun
• 17 jam lalu
0
thumb
Kurangi Impor BBM Bensin, Ini Strategi Pertamina Patra Niaga
• 2 jam lalu
0
Berhasil disimpan.