Wall Street Beragam: Dow Jones Raup Cuan, Nasdaq Malah Tertekan

metrotvnews.com
57 menit lalu
Cover Berita

New York: Bursa saham Amerika Serikat (AS) di Wall Street ditutup beragam pada perdagangan Jumat waktu setempat, setelah pelaku pasar mencermati penerapan tarif impor baru, tingginya imbal hasil obligasi, kenaikan harga minyak, serta tekanan pada saham-saham berbasis kecerdasan buatan (AI).

Mengutip Xinhua, Sabtu, 25 Juli 2026, indeks Dow Jones Industrial Average menguat 0,46 persen ke level 51.947,25. Sementara itu, S&P 500 naik tipis 0,05 persen menjadi 7.411,98. Berbeda dengan dua indeks tersebut, Nasdaq Composite melemah 0,64 persen ke posisi 24.975,82.

Dari 11 sektor utama dalam indeks S&P 500, sebanyak 10 sektor ditutup di zona hijau. Sektor real estat memimpin kenaikan dengan penguatan 2,36 persen, disusul sektor material yang naik 1,44 persen. Sebaliknya, sektor teknologi menjadi satu-satunya sektor yang melemah dengan penurunan sebesar 0,88 persen.

Meski perdagangan Jumat mencatatkan penguatan terbatas, ketiga indeks utama masih membukukan pelemahan secara mingguan. Hal tersebut dipicu aksi jual terhadap kelompok saham teknologi berkapitalisasi besar atau Magnificent Seven, yang secara kolektif kehilangan hampir USD800 miliar nilai kapitalisasi pasar pada Kamis akibat meningkatnya kekhawatiran terhadap besarnya belanja AI.
 

Baca Juga :

Ini Alasan Trump Getok Tarif Impor ke 60 Mitra Dagang Utama AS
  Tarif impor baru AS mulai berlaku
Pemerintah Amerika Serikat mulai memberlakukan tarif impor sebesar 10 persen hingga 12,5 persen terhadap barang dari puluhan negara pada Jumat. Kebijakan tersebut diterapkan berdasarkan Pasal 301 Undang-Undang Perdagangan 1974.

Tarif baru mulai berlaku setelah kebijakan tarif sementara sebesar 10 persen untuk seluruh dunia berakhir pada pukul 00.01 waktu setempat pada hari yang sama. Pemerintahan Presiden AS Donald Trump sebelumnya menerapkan tarif sementara tersebut setelah Mahkamah Agung membatalkan kebijakan tarif yang lebih luas pada Februari.

Di sisi makroekonomi, data S&P Global Flash Purchasing Managers' Index (PMI) menunjukkan aktivitas bisnis AS tumbuh pada laju tercepat dalam delapan bulan sepanjang Juli. Kinerja tersebut didorong oleh penyelenggaraan Piala Dunia FIFA.


(Ilustrasi Wall Street. Foto: iStock)
  Saham Intel dan American Express tertekan
Dari sisi emiten, saham Intel turun hampir 8 persen meski laporan keuangan kuartal II perseroan melampaui ekspektasi analis Wall Street. Sementara itu, Verizon Communications dan NextEra Energy membukukan laba yang melampaui proyeksi pasar. Namun, pendapatan kedua perusahaan tersebut masih berada di bawah perkiraan analis.

Adapun saham American Express merosot lebih dari 4 persen. Investor menyoroti prospek laba yang tidak berubah, meski perusahaan menaikkan proyeksi pendapatan tahun 2026 seiring tetap kuatnya belanja nasabah premium untuk perjalanan, hiburan, dan konsumsi.

Analis JPMorgan memperingatkan potensi perlambatan pertumbuhan laba perusahaan pada 2026 akibat penyempitan margin keuntungan dan tingginya tekanan belanja operasional.

"Peningkatan pendapatan sangat banyak, tetapi tren revisi menunjukkan bahwa bahan bakar mungkin mulai menipis," tulis analis JPMorgan yang dipimpin Khuram Chaudry dalam sebuah catatan.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Tanamkan Disiplin Sejak Dini, Babinsa Pallangga Latih Puluhan Siswa Madrasah Baris-Berbaris
• 22 jam lalu
0
thumb
Akuntan di Jakbar Bikin Laporan Begal Palsu demi Hindari Cicilan Laptop Rp 27 Juta
• 16 jam lalu
0
thumb
Telkomsel Buka Suara Soal Putusan MK Terkait Kuota Internet
• 1 jam lalu
0
thumb
Jonatan Christie Dua Kali Tumbang dari Wakil kanada Victor Lai, Jojo Ungkap Masalah yang Bikin Sulit Menang
• 13 jam lalu
0
thumb
Menhaj Tinjau Lahan Asrama Haji Bali, Percepat Penguatan Layanan Jamaah di Pulau Dewata
• 17 jam lalu
0
Berhasil disimpan.