Jakarta: Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Sugiono mendorong negara-negara ASEAN Plus Three (APT) memperkuat ketahanan kawasan melalui inovasi agar mampu mengantisipasi berbagai krisis di masa depan, di tengah disrupsi global yang semakin memengaruhi sektor energi, pangan, hingga rantai pasok.
Pesan tersebut disampaikan Sugiono dalam Pertemuan ke-27 Menteri Luar Negeri ASEAN Plus Three (APT) yang berlangsung di Manila, Filipina, Kamis, 23 Juli 2026. Menurutnya, mekanisme kerja sama yang telah berjalan hampir tiga dekade itu perlu terus menghasilkan manfaat nyata bagi seluruh negara anggotanya.
"APT lahir dari krisis. Masa depannya harus ditentukan oleh ketahanan yang kita bangun sebelum krisis terjadi," ujar Menlu Sugiono dalam pertemuan tersebut.
Menlu Sugiono menilai tantangan global yang berkembang pesat menuntut ASEAN Plus Three untuk tidak hanya meningkatkan kemampuan merespons krisis, tetapi juga membangun ketahanan kawasan secara lebih kuat melalui berbagai inovasi dan kerja sama konkret.
Di sektor pangan, Indonesia mendorong pengembangan ASEAN Plus Three Emergency Rice Reserve (APTERR) menjadi platform regional yang lebih luas. Menurut Menlu Sugiono, penguatan kerja sama tersebut perlu mencakup inovasi di bidang pertanian, penguatan rantai pasok pangan, serta diversifikasi cadangan pangan kawasan guna meningkatkan ketahanan pangan negara-negara anggota.
APTERR merupakan mekanisme cadangan beras darurat ASEAN Plus Three yang dibentuk untuk membantu negara anggota menghadapi gangguan pasokan pangan akibat bencana maupun kondisi darurat lainnya.
Sementara di sektor keuangan, Menlu Sugiono menekankan pentingnya mengoptimalkan berbagai hasil kerja sama yang telah dibangun ASEAN Plus Three, termasuk Chiang Mai Initiative Multilateralization (CMIM) sebagai skema jaring pengaman finansial kawasan.
"Indonesia menyambut baik perkembangan CMIM untuk mengimplementasikan Rapid Financing Facility (RFF) dan pengesahan roadmap menuju mekanisme penggunaan yang lebih efektif," kata Menlu Sugiono.
CMIM merupakan mekanisme kerja sama keuangan yang dibentuk setelah krisis finansial Asia 1997-1998 untuk menyediakan dukungan likuiditas bagi negara-negara anggota ketika menghadapi gejolak ekonomi.
Selain kerja sama di bidang pangan dan keuangan, Indonesia juga menekankan pentingnya memperkuat arsitektur kawasan yang berlandaskan Treaty on Amity and Cooperation (TAC) serta ASEAN Outlook on Indo-Pacific (AOIP).
Menurut Indonesia, penguatan Sentralitas ASEAN akan memperkokoh kepercayaan terhadap ASEAN Plus Three sekaligus meningkatkan kontribusinya dalam menjaga perdamaian, stabilitas, dan kemakmuran kawasan.
ASEAN Plus Three dibentuk pada 1997 dan mempertemukan 10 negara anggota ASEAN dengan Republik Rakyat Tiongkok, Jepang, dan Republik Korea.
Pertemuan ke-27 Menteri Luar Negeri ASEAN Plus Three merupakan bagian dari rangkaian Pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN (AMM) dan Post Ministerial Conferences (PMC) ke-59 di Filipina yang membahas berbagai isu, mulai dari kerja sama politik dan keamanan, ekonomi dan keuangan, ketahanan pangan, energi, kesehatan, hingga hubungan antarmasyarakat.





Komentar (0)