Tidak tanggung-tanggung, dari total 145 aktivitas regional yang diagendakan untuk kemajuan pendidikan Asia Tenggara, Indonesia mendominasi dengan memimpin langsung 48 aktivitas. Jumlah ini melesat jauh meninggalkan negara-negara tetangga. Jumlah ini menjadi yg terbanyak dibandingkan dengan negara anggota lainnya.
Sebagai perbandingan, Malaysia berada di urutan kedua dengan 21 aktivitas, disusul Filipina (16 aktivitas), Singapura (12 aktivitas), dan Thailand (9 aktivitas). Suharti dalam paparannya menegaskan bahwa kepemimpinan yang masif ini bukanlah suatu kebetulan, melainkan manifestasi dari keseriusan pemerintah dalam mencetak sumber daya manusia (SDM) yang unggul secara nasional maupun regional.
"Prinsip kita jelas, menyelaraskan komitmen nasional melalui Asta Cita dengan komitmen regional ASEAN. Melalui inisiatif ini, kita ingin mewujudkan pendidikan berkualitas untuk semua yang inklusif, relevan, siap menghadapi masa depan, serta memperkuat pendidikan karakter melalui pendekatan Partisipasi Semesta," kata Suharti di Singapura, 20 Juli 2026.
Pernyataan Suharti secara eksplisit menyoroti integrasi agenda AWPE dengan prioritas pembangunan nasional Asta Cita, khususnya Cita-4 dan Cita-8 yang berfokus pada pengembangan sumber daya manusia strategis. Menurutnya, pendekatan 'A Whole Society Approach to Strengthen Education' menjadi landasan kuat agar inisiatif ini dapat dirasakan langsung oleh masyarakat luas. Dari PAUD Hingga Transformasi AI Berdasarkan cetak biru AWPE 2026-2030, 48 inisiatif yang dipimpin Indonesia tersebar secara komprehensif ke dalam enam sektor strategis. Yakni Pendidikan Anak Usia Dini (ECCE), Pendidikan Dasar, TVET (Pendidikan Vokasi), Pendidikan Tinggi, Tata Kelola dan Kebijakan, serta Kerja Sama Regional.
Salah satu tujuan utamanya sangat relevan dengan kebutuhan anak muda di era digital, yaitu menciptakan sistem pendidikan transformatif dengan lingkungan belajar kondusif yang mengedepankan pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan buatan secara aman serta bertanggung jawab.
"Indonesia berkomitmen penuh memimpin 48 inisiatif dari total 145 aktivitas di AWPE 2026 2030. Ini bukan sekadar angka, melainkan bukti nyata peran aktif kita sebagai motor penggerak transformasi pendidikan di kawasan ASEAN demi mencetak tenaga kerja yang tangguh, sangat terampil, dan kompetitif," terang Suharti. Eksekusi Berjalan Cepat di 2026 Komitmen Indonesia nyatanya langsung dibuktikan dengan aksi konkret. Mengutip laporan perkembangan implementasi AWPE hingga pertengahan 2026, dari total 12 aktivitas yang sudah mulai bergulir (completed and on going) di seluruh ASEAN, Indonesia sukses menjadi pionir pelaksana.
Indonesia sukses menjadi tuan rumah peluncuran ASEAN-SEAMEO Joint Roadmap on ECCE pada 9 April 2026 di Jakarta yang dihadiri oleh 253 partisipan regional. Di samping itu, International Conference on Science Education (SICSE) juga berhasil diselenggarakan di Bandung pada 2 Juni 2026 dengan melibatkan 300 pakar dan partisipan.
Ke depannya, Indonesia bersama kolaborasi apik antara Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi, serta dukungan 7 Pusat SEAMEO di Indonesia, telah menyiapkan deretan program unggulan lanjutan. Ini mencakup pelatihan para guru terkait pedagogi, pembelajaran digital, coding dan AI, serta pendidikan sains skala regional yang diproyeksikan segera berjalan di penghujung tahun ini.
Dengan kecepatan dan visi tajam seperti ini, kepemimpinan Indonesia di AWPE 2026-2030 siap menjadi momentum emas kebangkitan pendidikan Asia Tenggara.
Baca Juga :
Bukan Dikte, Singapura Buka-bukaan Resep Siapkan Kapasitas Guru Hadapi Era AIJadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(CEU)






Komentar (0)