AI Bisa Memberi Jawaban, Manusia Jangan Kehilangan Kedaulatan Pikiran

kompas.id
6 jam lalu
Cover Berita

Teknologi kecerdasan buatan atau akal imitasi (AI) terus berkembang hingga mampu membantu manusia melakukan beragam pekerjaan. Di tengah kondisi itu, penting untuk diingatkan bahwa manusia jangan terlalu bergantung pada AI agar tak kehilangan kedaulatan pikiran.  

Pesan itu terungkap dalam acara peresmian Rumah Studi di Laboratorium Alam SMA Kolese De Britto, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Jumat (24/7/2026). Acara itu dihadiri Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono X, Bupati Sleman Harda Kiswaya, Rektor Yayasan De Britto Agustinus Sugiyo Pitoyo, dan sejumlah tokoh lain.

Dalam rangkaian acara peresmian tersebut, juga digelar diskusi bertema ”Pinter Ora Cukup” yang dipandu Wakil Pemimpin Umum Harian Kompas Tri Agung Kristanto.

Diskusi itu menghadirkan sejumlah pembicara, seperti Agustinus Sugiyo Pitoyo, Sekretaris Jenderal Kementerian Komunikasi dan Digital Ismail, Profesor Riset Badan Riset dan Inovasi Nasional Bidhari Pidhatika, Ketua Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama) AI Ajar Edi, dan aktivis merek lokal Arto Biantoro.

Dalam pidatonya, Sultan HB X mengatakan, saat ini AI mampu membantu manusia menghitung, menulis, membuat gambar, menciptakan musik, dan meniru suara manusia. Teknologi AI juga diperkirakan bakal memberi kontribusi sebesar 15,7 triliun dolar AS untuk perekonomian global pada tahun 2030.

Kondisi itu menunjukkan potensi besar pemanfaatan AI dalam kehidupan manusia. Namun, Sultan menyebut, kecanggihan AI juga meninggalkan pertanyaan yang tidak sederhana.

”Ketika mesin mampu menghitung, menulis, membaca pola, dan menawarkan keputusan berbasis data, apa yang harus tetap menjadi milik manusia? Bisa jadi, banyak yang merasakan kegundahan itu,” ujar Raja Keraton Yogyakarta.

Baca JugaDukung Mahasiswa agar Tidak Ketinggalan dari Kecerdasan Buatan

Sultan menuturkan, teknologi memang merupakan bagian dari ikhtiar manusia memperbaiki kehidupan. Di sisi lain, Sultan juga mengaku prihatin melihat sebuah generasi yang tumbuh dengan kemudahan memperoleh jawaban, tetapi semakin jarang berlatih menghadapi pertanyaan.

”Kita mendapatkan jawaban dalam hitungan detik. Namun, kita belum tentu memiliki kesabaran untuk berpikir. Kita dapat meminta mesin menyusun jalan keluar. Namun, kita belum tentu terlatih menghadapi ketidakpastian, kegagalan, dan kegelisahan yang menyertai proses berpikir,” ungkapnya. 

Sultan juga mengingatkan, berdasarkan sejumlah kajian, ketergantungan berlebihan pada teknologi berpotensi mengikis kemampuan berpikir kritis, kreativitas, pemecahan masalah, dan kemandirian dalam mengambil keputusan. Dia menyebut, kekhawatiran itu bukan wujud sikap takut terhadap perkembangan zaman.

”Ini adalah pengingat agar manusia tidak kehilangan kedaulatan atas pikirannya sendiri,” ungkapnya.

Baca JugaApakah Akal Imitasi Membuat Kita Bodoh?

Menurut Sultan, AI memang bisa membantu manusia memperoleh jawaban. Namun, manusialah yang menentukan untuk apa jawaban itu digunakan. Oleh karena itu, dia menyebut, kemanusiaan tetap harus diletakkan di atas kemajuan teknologi.

”Kecerdasan buatan dapat mengolah data. Namun, manusialah yang harus menjaga satya wacana, kesatuan antara kata, sikap, dan perbuatan. Karena itu, pesan yang ingin saya tinggalkan hari ini sederhana: kemanusiaan harus tetap berada di atas teknologi,” tuturnya.

Tak bisa dibendung

Ismail mengatakan, teknologi AI berpotensi menghadirkan perubahan dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Dalam bidang pendidikan, misalnya, banyak mahasiswa saat ini yang memanfaatkan AI untuk mengerjakan tugas kuliah secara cepat.

”Ada sebuah behaviour (perilaku), business process (proses bisnis), dan pola yang akan berubah dengan hadirnya AI ini. Dan itu bukan di depan mata lagi, tetapi sudah terjadi,” katanya.

Baca JugaAI Belum Picu PHK Massal, tetapi Karakter Pekerjaan Mulai Berubah

Ismail menyebut, perkembangan teknologi AI tidak bisa dibendung. Oleh karena itu, cepat atau lambat, perubahan akibat teknologi tersebut pasti akan terjadi. Di tengah kondisi itu, manusia harus beradaptasi agar bisa memanfaatkan AI untuk mempermudah pekerjaannya.

Menurut Ismail, manusia tidak akan digantikan AI. Namun, manusia yang tak bisa menggunakan AI akan digantikan oleh manusia yang bisa memaksimalkan pemanfaatan AI.

”Desainer, arsitek, dokter, dan sebagainya, kalau enggak bisa memanfaatkan AI, akan segera digantikan,” ujarnya.

Ajar Edi mengatakan, Indonesia harus bisa menempatkan diri di tengah dinamika perkembangan AI secara global. Dalam perkembangan teknologi AI beberapa tahun terakhir, terdapat sejumlah negara yang memainkan peran penting, seperti AS, China, dan beberapa negara Eropa.

Di tengah dominasi sejumlah negara itu, Indonesia seharusnya tidak pasrah begitu saja menjadi pasar bagi negara-negara produsen teknologi AI. ”Apakah Indonesia akan memasrahkan diri untuk jadi pasar atau punya critical role yang ikut memengaruhi dinamika global terkait pertarungan AI ini,” ujar Ajar.  

Menurut Ajar, pemerintah bisa memperkuat infrastruktur AI dengan memberikan fasilitas dan insentif kepada perusahaan AI, baik dari lokal maupun global, agar mereka bisa menghadirkan infrastruktur kecerdasan buatan di Indonesia.

Kita dapat meminta mesin menyusun jalan keluar. Namun, kita belum tentu terlatih menghadapi ketidakpastian, kegagalan, dan kegelisahan yang menyertai proses berpikir.

Langkah lain yang bisa dilakukan adalah mengembangkan aplikasi atau solusi berbasis AI dengan memanfaatkan data yang dimiliki Indonesia. Selain itu, sumber daya manusia di Indonesia juga harus mendapat pendidikan dan pelatihan agar mampu menguasai dan mengembangkan teknologi AI.

”Ketika produk dan solusi AI itu dibangun talenta-talenta Indonesia, dia seharusnya lebih Indonesia banget dibanding solusi AI yang dibangun oleh developer dari luar,” ucap Ajar.

Dia menambahkan, pemerintah juga bisa menerbitkan regulasi yang mendorong perusahaan AI global untuk menghadirkan infrastruktur dan pengolahan data di Indonesia. ”Dengan demikian, kita bisa memanen apa yang disebut hilirisasi AI,” katanya.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
AKRA Bagikan Dividen Interim Rp 1 Triliun, Seperti Apa Pundi-Pundi Hartanya?
• 11 jam lalu
0
thumb
Dari “Tolol” hingga “Lu Punya Otak Nggak?”: Membaca Umpatan di Ruang Publik
• 5 jam lalu
0
thumb
Mensos Gus Ipul Ultimatum Lembaga Sosial: Jangan Cari Untung di Atas Penderitaan
• 5 jam lalu
0
thumb
Perbedaan Background Merah dan Biru Pada KTP serta Cara Ganti di Pas Foto
• 4 jam lalu
0
thumb
Bikin Bangga! Kris Dayanti Sabet Dua Emas di Kejurnas Wushu 2026
• 4 jam lalu
0
Berhasil disimpan.