Jakarta, CNBC Indonesia - Gelombang panas yang memecahkan rekor di Eropa mulai memukul sektor pangan.
Produksi serealia diperkirakan menyusut sekitar 9 juta ton, sementara nilai hasil panen yang hilang mencapai sekitar €2 miliar atau lebih dari Rp37 triliun berdasarkan harga saat ini.
Berkurangnya pasokan tersebut bukan hanya memangkas pendapatan petani. Di tengah pasokan global yang mulai mengetat, produksi yang hilang berpotensi mendorong kenaikan harga komoditas pangan sekaligus meningkatkan ketergantungan Eropa terhadap impor biji-bijian.
Estimasi tersebut dihitung oleh Energy and Climate Intelligence Unit (ECIU) berdasarkan proyeksi panen terbaru dari asosiasi perdagangan serealia dan minyak nabati Eropa, Coceral. Nilai itu juga belum memasukkan kerugian pada komoditas lain seperti sayuran maupun peternakan.
Panen Eropa MenyusutProyeksi terbaru Coceral menunjukkan produksi gandum, barley, jagung, dan oat di 27 negara Uni Eropa serta Inggris akan menjadi yang terendah sejak 2018. Revisi ini muncul setelah kawasan tersebut mengalami Juni terpanas yang pernah tercatat di Eropa Barat.
Secara keseluruhan, hasil panen diperkirakan berkurang sekitar 9 juta ton dibanding proyeksi sebelumnya. Bagi pasar, angka itu jauh melampaui penurunan produksi di satu negara atau satu komoditas.
Skalanya juga tidak kecil. Produksi yang hilang bahkan lebih besar dibanding gabungan total produksi serealia yang diperkirakan berasal dari Austria, Irlandia, dan Belanda pada musim panen tahun ini.
Datang di Saat yang KrusialMasalahnya bukan hanya suhu yang lebih tinggi. Gelombang panas datang ketika tanaman memasuki fase paling menentukan bagi hasil panen.
Menurut Coceral, jagung terdampak saat memasuki masa pollination atau penyerbukan, ketika pembentukan biji sangat bergantung pada kondisi cuaca. Sementara itu, gandum mengalami tekanan pada fase grain fill, yaitu periode ketika biji membutuhkan cukup air untuk berkembang optimal.
Ketika suhu terus meningkat dan kelembapan tanah menurun, proses tersebut terganggu. Dampaknya baru terlihat beberapa minggu kemudian, yakni hasil panen yang lebih rendah.
Dampaknya Terasa di LapanganPrancis diperkirakan menjadi negara yang mengalami kehilangan produksi terbesar. Coceral memperkirakan sekitar 3,4 juta ton jagung hilang, dengan nilai ekonomi mencapai sekitar €891 juta.
Setelah Prancis, penurunan produksi terbesar diperkirakan terjadi di Hungaria yang kehilangan sekitar 2,4 juta ton, disusul Spanyol sekitar 1,4 juta ton.
Bagi petani, dampaknya sudah terasa jauh sebelum musim panen selesai. Benoît Merlo, petani di wilayah Auvergne-Rhône-Alpes, Prancis, mengatakan suhu yang bertahan di atas 38 derajat Celsius selama berminggu-minggu membuat tanaman sulit bertahan.
Merlo memperkirakan hasil panen sejumlah komoditas, termasuk kedelai, dapat turun 50% hingga 70% tahun ini. Bagi banyak petani, gelombang panas kali ini menjadi ujian terberat meski mereka telah bertahun-tahun beradaptasi dengan cuaca yang semakin panas dan kering.
Bukan Cuma Masalah Petani EropaDampak gelombang panas juga mulai dirasakan di Inggris. Setelah musim semi yang kering dan gelombang panas pada Juni, banyak petani melaporkan kondisi lahan semakin kehilangan kelembapan, terutama di East Anglia dan wilayah tenggara Inggris.
Helen Plant, analis serealia dan biji-bijian minyak di Agriculture and Horticulture Development Board (AHDB), mengatakan minimnya curah hujan sepanjang April hingga sebagian besar Mei telah menghambat perkembangan tanaman, terutama tanaman musim semi dan serealia musim dingin yang memiliki cadangan air terbatas.
AHDB juga menyebut hasil panen tahun ini masih sulit dipastikan karena banyak petani terpaksa memanen lebih awal akibat cuaca yang panas dan kering.
Tekanan itu tidak hanya dirasakan petani tanaman pangan.
Wakil Presiden National Farmers' Union (NFU) Paul Tompkins mengatakan petani di berbagai wilayah Inggris kini harus bekerja hampir tanpa henti untuk menyelamatkan hasil panen.
"Farmers and growers across the country are working around the clock to harvest crops which have come early, keep fruit and vegetables watered, and care for their livestock."
Kondisi tersebut menunjukkan dampak cuaca ekstrem tidak berhenti pada produksi gandum atau jagung. Buah, sayuran, hingga peternakan juga mulai menghadapi tekanan yang sama.
Harga Pangan Berpotensi Ikut BergerakKetika produksi turun, dampaknya tidak hanya dirasakan petani. Pasokan serealia Eropa yang lebih kecil berpotensi membuat kawasan tersebut meningkatkan impor gandum dan komoditas pangan lainnya untuk memenuhi kebutuhan domestik.
Perubahan itu dapat memperketat pasokan di pasar internasional, terutama ketika produksi dari kawasan lain belum sepenuhnya tersedia. Dalam kondisi seperti itu, harga komoditas pangan berpotensi terdorong naik, meski besarnya kenaikan masih akan bergantung pada perkembangan panen di belahan bumi selatan pada akhir 2026 hingga awal 2027.
Risikonya semakin besar karena tekanan terhadap produksi pangan tidak hanya terjadi di Eropa. Guardian melaporkan wilayah selatan dan barat Amerika Serikat juga sedang mengalami kekeringan parah yang memengaruhi produksi biji-bijian dan daging.
Artinya, pasar global kini menghadapi tekanan dari lebih dari satu kawasan produsen utama. Jika tambahan pasokan dari negara lain tidak mampu menutup kekurangan tersebut, gejolak cuaca yang terjadi di satu benua dapat merambat menjadi tekanan baru bagi harga pangan dunia.
Peringatan juga datang dari laporan terbaru Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia atau FAO bersama Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) Extreme Heat and Agriculture yang dirilis 22 April 2026 di mana sistem pangan global sedang berada di garis depan krisis panas.
FAO mencatat lebih dari 1 miliar orang saat ini terpapar ancaman panas ekstrem. Dampaknya langsung terasa pada produktivitas tenaga kerja. Sekitar 500 miliar jam kerja hilang setiap tahun karena suhu terlalu tinggi untuk bekerja dengan aman.
Sektor pertanian memikul beban terbesar karena sebagian besar aktivitasnya berlangsung di ruang terbuka, di bawah matahari, dengan perlindungan terbatas.
FAO juga mencatat Harga pangan terus melonjak.
(mae/mae) Add as a preferred
source on Google





Komentar (0)