Washington: Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menjelaskan alasan Amerika Serikat menjalin kesepakatan pengembangan program nuklir sipil dengan Arab Saudi, sementara tidak melakukan hal serupa dengan Iran.
Dalam konferensi pers di Washington DC pada Kamis, 23 Juli 2026, Leavitt mengatakan, kesepakatan tersebut masih dalam tahap finalisasi dan diharapkan dapat segera diselesaikan sesuai syarat yang sebelumnya disampaikan Presiden Donald Trump.
"Kesepakatan ini masih sedang disusun dan diharapkan pada akhirnya dapat difinalisasi dengan syarat yang disampaikan presiden pagi ini,” kata Leavitt, dikutip dari Viory.
Baca Juga :
AS Sepakat Bantu Arab Saudi untuk Pengayaan Nuklir Buat Pengembangan ReaktorIa juga ditanya apakah Trump telah berbicara dengan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) mengenai syarat baru yang menyebut kesepakatan tersebut sepenuhnya bergantung pada kesediaan Arab Saudi bergabung dalam Abraham Accords.
"Seperti yang Anda ketahui, presiden baru saja mengeluarkan pernyataan beberapa jam yang lalu. Saya rasa beliau belum berbicara dengan MBS dalam beberapa jam terakhir. Namun, ini merupakan isu yang pernah diangkat dalam percakapan-percakapan sebelumnya dan juga telah beberapa kali beliau sampaikan di masa lalu," ujar Leavitt.
Baca Juga :
Trump: Kesepakatan Nuklir Bergantung Jika Saudi Gabung dalam Abraham AccordsHingga kini, Arab Saudi belum memberikan komentar mengenai syarat tersebut. Sebelumnya, Riyadh menyatakan tidak akan bergabung dalam Abraham Accords tanpa pembentukan negara Palestina.
Amerika Serikat dan Arab Saudi menandatangani kesepakatan yang memungkinkan kerajaan tersebut mengembangkan program nuklir sipil pada pekan ini. Washington mengatakan kesepakatan itu akan memberikan akses yang luas bagi perusahaan-perusahaan Amerika Serikat.





Komentar (0)