SIKKA, iNews.id - Puluhan tahun warga Dusun Rotat, Desa Ladogahar, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), hidup dalam krisis air bersih. Harapan menghadirkan jaringan air minum sempat diperjuangkan melalui Pokok Pikiran (Pokir) DPRD, namun kandas akibat keterbatasan fiskal daerah.
Alih-alih berhenti pada alasan anggaran, anggota DPRD Kabupaten Sikka dari Partai Perindo Yuslin Nursivin Dua Botha menginisiasi gerakan swadaya bersama tokoh masyarakat hingga air bersih akhirnya mengalir ke permukiman.
"Daerah kita memang sedang mengalami keterbatasan fiskal yang luar biasa. Tetapi bagi saya, itu bukan alasan untuk tidak melayani masyarakat. Berkat orang-orang baik dan gerakan swadaya, apa yang dirindukan warga sekian lama akhirnya terwujud," ujar Yuslin, Jumat (24/7/2026).
Baca Juga:Viral Emak-Emak Seorang Diri Berani Rekam Lapak Diduga Bandar Sabu di LaburaSebanyak 90 kepala keluarga di Dusun Rotat kini bisa menikmati air bersih yang dialirkan dari 11 titik mata air Koja di kebun milik tokoh masyarakat Suitbertus Amandus di Nilo, Desa Wuliwutik. Air dialirkan melalui jaringan pipa sepanjang sekitar tiga kilometer dan mulai mengalir ke permukiman warga sejak kemarin.
Seluruh proyek tersebut dibangun tanpa menggunakan dana APBD Kabupaten Sikka. Pembelian pipa dilakukan secara gotong royong oleh masyarakat, didukung tokoh masyarakat Yakobus Jano, serta Yuslin yang sejak awal mendampingi proses penarikan pipa hingga air benar-benar mengalir ke Dusun Rotat.
Perjuangan menghadirkan air bersih itu bermula dari kegiatan reses pertama Yuslin pada Desember 2024. Saat itu, warga menyampaikan keresahan karena sudah bertahun-tahun belum menikmati air bersih, padahal Dusun Rotat berada di kawasan penyangga mata air Wair Puan yang selama ini menyuplai kebutuhan masyarakat Kota Maumere.
"Masyarakat mengungkapkan kerinduan mereka untuk menikmati air bersih yang adil seperti warga Sikka lainnya. Rotat ini penjaga Wair Puan, mata air yang dialirkan untuk masyarakat wilayah Kota Maumere," ucap Sarjana Ilmu Pemerintahan lulusan Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta ini.
Baca Juga:BNPP Telusuri Jalur Ilegal RI-Timor Leste, Perkuat Pengawasan PerbatasanAspirasi tersebut kemudian diperjuangkannya melalui Pokir DPRD untuk dianggarkan pada APBD 2026. Namun, rencana itu belum dapat direalisasikan karena pemerintah daerah sedang menghadapi defisit anggaran.
“Karena Pokir tidak bisa direalisasikan, saya mencari cara lain, dan mendapatkan 11 mata air dari Bapak Suitbertus Amandus. Beliau ikhlas mengalirkan air demi warga Dusun Rotat. Ini akan menjadi warisan indah untuk generasi-generasi Rotat yang akan datang," kata Yuslin.
Dia juga memberikan penghormatan kepada warga yang bergotong royong membangun jaringan air bersih, terutama kaum perempuan yang ikut memikul pipa besi melewati bukit dan sungai.
"Kisah air minum Rotat ini membuktikan semangat gotong royong itu nyata. Mama-mama turun dengan segenap kekuatan mereka. Kerja keras ini adalah bukti cinta untuk keluarga," ujar legislator berusia 42 tahun ini.
Kehadiran air bersih disambut haru oleh warga. Mama Maria, salah seorang warga bersyukur karena tak lagi bergantung pada air tangki yang selama ini membebani pengeluaran rumah tangga. Sebelumnya, tiap bulannya dia harus membayar Rp 400 ribu untuk dua tangki air.
Baca Juga:KPK Dalami Peran Eks Dirjen PHU Hilman dalam Pengelolaan Kuota Haji Khusus"Kami sangat berterima kasih kepada Bapak Amandus yang sudah merelakan kami menarik air dari Nilo secara gratis dan Ibu Yuslin yang sudah berjuang bersama kami hingga air bersih bisa masuk Rotat hari ini. Sekarang kami sudah merdeka dari krisis air," katanya.
#regional





Komentar (0)