Rupiah Melemah ke Rp17.979 per Dolar AS akibat Lonjakan Harga Minyak dan Ketegangan Geopolitik

pantau.com
4 jam lalu
Cover Berita

Pantau - Nilai tukar rupiah pada Jumat pagi melemah 43 poin atau 0,24 persen menjadi Rp17.979 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.936 per dolar AS akibat kenaikan harga minyak mentah yang dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Harga Minyak Tekan Nilai Tukar Rupiah

Kepala Ekonom PermataBank Josua Pardede menyatakan kenaikan harga minyak mentah menjadi salah satu faktor utama yang memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Ia mengungkapkan, “Harga minyak mentah Brent juga sempat menembus 95 dolar AS per barel, sehingga memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.”

Lonjakan harga minyak memunculkan kekhawatiran terhadap risiko twin deficit, yakni defisit fiskal dan defisit neraca transaksi berjalan yang terjadi secara bersamaan, sehingga melemahkan sentimen investor terhadap mata uang domestik.

Kenaikan harga minyak dipicu meningkatnya ketegangan di Timur Tengah setelah terjadi serangan di dekat Selat Bab el-Mandeb yang merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling strategis di dunia.

Gangguan di kawasan tersebut memicu kekhawatiran kapal tanker minyak harus mengalihkan rute melalui Afrika bagian selatan yang berpotensi mengganggu perdagangan global dan rantai pasok energi.

Ketegangan Timur Tengah Dorong Permintaan Dolar AS

Peningkatan ketidakpastian geopolitik dan lonjakan harga minyak memicu sentimen risk-off di pasar keuangan global sehingga mendorong permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven.

Josua mengatakan, “Untuk hari ini, kami memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp17.900–Rp18.025 per dolar AS, seiring meningkatnya ketegangan geopolitik yang masih menopang permintaan terhadap aset-aset safe haven.”

Ketegangan meningkat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan Washington akan meminta pertanggungjawaban Teheran apabila kelompok Houthi Yaman menyerang kapal-kapal komersial.

Pernyataan tersebut muncul setelah kelompok Houthi mengklaim melakukan operasi militer yang menargetkan dua kapal tanker minyak Saudi menggunakan rudal balistik, rudal jelajah, dan drone.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio mengatakan Houthi harus “menjauh” dari konflik Iran dan mengklaim kelompok tersebut “terjebak” dalam perang di Timur Tengah oleh Teheran.

Situasi semakin memanas setelah militer Iran memperingatkan dapat menargetkan fasilitas energi di kawasan apabila serangan Amerika Serikat terhadap infrastruktur Iran terus berlanjut.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) juga menyatakan telah menyerang pangkalan militer Amerika Serikat di Kuwait dan Yordania, sementara sebuah kapal tanker minyak dilaporkan terkena ledakan ranjau di Selat Hormuz yang menyebabkan dua kapal lain meninggalkan jalur pelayaran selatan.

Perkembangan tersebut menambah kekhawatiran terhadap keamanan Selat Hormuz yang menjadi jalur pelayaran sekitar seperlima konsumsi minyak global.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Mahasiswa Indonesia apresiasi upaya pelestarian warisan budaya China
• 22 jam lalu
0
thumb
DWP Kemendagri Asah Kreativitas Anggota Lewat Pelatihan Decoupage
• 20 jam lalu
0
thumb
Baru Mulai Trading? Perhatikan 5 Hal Ini Dalam Memilih Broker
• 17 jam lalu
0
thumb
10 Tahun Tak Tampil di Televisi, Saipul Jamil Akui Rindu Dunia Hiburan
• 20 jam lalu
0
thumb
Shin Tae-yong Dilarang Melatih Selama 10 Tahun, Buntut Tempeleng Pemain
• 1 jam lalu
0
Berhasil disimpan.