Pantau - Yayasan EcoNusa mendorong petani kakao di Kampung Anus, Kabupaten Sarmi, Papua, menerapkan sistem agroforestri sebagai solusi menghadapi dampak perubahan iklim yang mulai memengaruhi produktivitas kebun kakao.
Program Associate EcoNusa Simon Bonay mengatakan perubahan pola musim, banjir, dan abrasi menjadi tantangan yang dihadapi petani sehingga diperlukan praktik budidaya yang lebih adaptif terhadap kondisi iklim.
Agroforestri Tingkatkan Ketahanan dan Pendapatan PetaniSimon mengatakan, "Agroforestri merupakan praktik yang tahan iklim, pangan, dan ekonomi bagi petani."
Ia menjelaskan sistem agroforestri mengombinasikan tanaman kakao dengan tanaman lain seperti kelapa, pisang, pinang, gamal, dan matoa.
Menurutnya, pola tanam tersebut mampu menjaga kelembapan tanah, meningkatkan keanekaragaman hayati, serta menjadi sumber pendapatan alternatif ketika harga kakao mengalami penurunan.
EcoNusa juga menilai praktik membuka lahan dengan membabat seluruh vegetasi dan membakar sisa tanaman masih dilakukan sebagian petani sehingga berpotensi menurunkan kualitas tanah dan mengganggu keseimbangan ekosistem.
Pelatihan Budidaya Cerdas Iklim Tingkatkan Kapasitas PetaniUntuk meningkatkan kemampuan petani, EcoNusa menggelar Pelatihan Praktik Budidaya Kakao Cerdas Iklim pada 15 hingga 20 Juni 2026 di Kampung Anus yang diikuti sekitar 20 petani kakao.
Pelatihan tersebut mencakup penerapan agroforestri, teknik budidaya, pemangkasan tanaman, pengendalian hama dan penyakit, serta teknik sambung samping dan sambung pucuk guna meningkatkan kualitas tanaman tanpa melakukan penanaman ulang.
Peserta juga memperoleh pelatihan panen dan pascapanen, termasuk proses fermentasi biji kakao, sementara EcoNusa bersama masyarakat membangun dua unit kotak fermentasi untuk meningkatkan mutu dan nilai jual hasil panen.
Salah seorang petani Kampung Anus, John Firtar, mengatakan, "Bahkan sebelum sesi dimulai atau setelah kegiatan selesai, petani langsung bergerak membersihkan kebun masing-masing. Kami langsung tanya ada bibit unggul atau tidak supaya bisa segera ditanam di kebun."
EcoNusa berharap penerapan budidaya kakao cerdas iklim dapat memulihkan produktivitas kakao di Sarmi sekaligus memperkuat perekonomian masyarakat yang bergantung pada komoditas tersebut.
Pengalaman petani kakao di Kampung Anus juga akan menjadi salah satu pembahasan dalam Papeda Summit yang digelar di Sorong pada 2 hingga 4 September 2026 sebagai forum pertukaran gagasan mengenai pembangunan berkelanjutan dan pengelolaan sumber daya alam di Papua.





Komentar (0)