Jakarta: Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengungkapkan bahwa kendaraan berat (heavy-duty vehicles), khususnya truk, menjadi salah satu penyumbang emisi karbon terbesar di sektor transportasi Indonesia. Maka, percepatan dekarbonisasi armada logistik nasional dinilai menjadi langkah penting untuk mencapai target transisi energi.
Secara umum, AHY menjelaskan penggunaan energi fosil menjadi penyumbang terbanyak emisi, yaitu 50 persen lebih. Dari angka tersebut, sektor transportasi menyumbang 22 persen emisi karbon.
"Dari transportasi tersebut, 89 persennya transportasi darat. Kalau kita bedah lagi, kontribusi kendaraan heavy-duty ini sangat signifikan. Misalnya jumlah truk mungkin hanya sekitar tiga persen, tetapi kontribusinya terhadap emisi karbon bisa mencapai 31 persen," kata AHY melalui keterangan tertulis, Kamis, 23 Juli 2026.
Baca Juga :
Dekarbonisasi Transportasi Kunci Kemandirian Energi dan Menjaga LingkunganPemerintah juga terus mendorong pengembangan industri kendaraan listrik nasional melalui dukungan kebijakan, insentif, dan edukasi kepada masyarakat maupun pelaku usaha.
"Semangatnya adalah bagaimana kita menggunakan energi yang lebih efisien, mempercepat elektrifikasi kendaraan, dan mengembangkan truk listrik maupun bus listrik produksi dalam negeri sebagai bagian dari solusi menuju transportasi rendah karbon," tegas AHY.
Ilustrasi kendaraan besar (truk). Foto: Metro TV.
Selain mendukung target penurunan emisi, langkah tersebut diyakini akan memperkuat ketahanan energi nasional. Yakni melalui pengurangan konsumsi bahan bakar fosil sekaligus mendorong tumbuhnya industri kendaraan listrik dalam negeri yang semakin kompetitif.





Komentar (0)