Studi Ungkap Dampak Istri Berpenghasilan Lebih Tinggi dari Suami, Benarkah Bisa Memengaruhi Hubungan?

tabloidbintang.com
14 jam lalu
Cover Berita

TABLOIDBINTANG.COM - Pandangan bahwa suami harus menjadi pencari nafkah utama kini mulai bergeser. Semakin banyak perempuan yang membangun karier, menduduki posisi penting di perusahaan, hingga menjadi penyumbang penghasilan terbesar dalam keluarga. Bagi banyak pasangan, kondisi tersebut bukan lagi sesuatu yang dianggap tidak biasa.

Namun, meski masyarakat mulai menerima perubahan peran gender, sebuah analisis terbaru yang disorot The Economist menunjukkan bahwa sebagian pasangan masih menghadapi tantangan ketika istri menjadi pencari nafkah utama.

Penelitian tersebut menemukan adanya kaitan antara perempuan yang berpenghasilan lebih tinggi dengan meningkatnya tekanan psikologis pada sebagian pria serta menurunnya kepuasan hubungan yang dirasakan sebagian perempuan.

Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa temuan ini bukan berarti semua pria akan mengalami stres ketika istrinya berpenghasilan lebih besar, atau semua rumah tangga dengan perempuan sebagai pencari nafkah utama pasti tidak bahagia.

Suami Lebih Rentan Mengalami Tekanan Psikologis

Analisis ini menggunakan data selama 17 tahun yang melibatkan pasangan heteroseksual muda yang sama-sama bekerja.

Hasilnya menunjukkan hanya sekitar 30 persen pasangan yang memiliki istri dengan penghasilan lebih tinggi dibanding suami, meskipun kesenjangan upah antara laki-laki dan perempuan terus mengecil dalam beberapa tahun terakhir.

Perbedaannya semakin terlihat ketika istri menyumbang sebagian besar pendapatan keluarga.

Menurut hasil penelitian, suami yang istrinya menyumbang setidaknya 70 persen dari total pendapatan rumah tangga memiliki kemungkinan hampir 2,5 kali lebih besar mengalami tekanan psikologis dibanding pria yang masih menjadi pencari nafkah utama.

Para peneliti menilai kondisi tersebut tidak serta-merta disebabkan oleh penghasilan yang lebih rendah. Ada banyak faktor yang mungkin berperan, mulai dari nilai-nilai yang ditanamkan sejak kecil bahwa laki-laki harus menjadi penyedia utama kebutuhan keluarga, hingga tekanan sosial dari lingkungan sekitar.

Selain itu, ada pula persoalan identitas diri. Sebagian pria mungkin mempertanyakan perannya ketika pasangan justru menjadi penyumbang pendapatan terbesar dalam keluarga.

Tidak Hanya Terjadi pada Pasangan Menikah

Fenomena serupa juga ditemukan pada pasangan yang hidup bersama tanpa ikatan pernikahan.

Ketika perempuan menghasilkan lebih dari 50 persen pendapatan rumah tangga, pria dilaporkan memiliki risiko sekitar 1,5 kali lebih tinggi mengalami tekanan psikologis.

Hubungan tersebut tetap terlihat bahkan setelah peneliti memperhitungkan faktor lain seperti usia, tingkat pendidikan, dan total pendapatan keluarga.

Temuan ini menunjukkan bahwa persoalannya mungkin bukan semata-mata mengenai jumlah uang yang dimiliki keluarga, melainkan makna sosial mengenai siapa yang memperoleh penghasilan tersebut.

Perempuan Berpenghasilan Tinggi Belum Tentu Beban Rumah Berkurang

Penelitian juga menemukan fakta menarik lainnya. Perempuan yang menjadi pencari nafkah utama justru melaporkan tingkat kepuasan hubungan yang lebih rendah dibanding pasangan dengan penghasilan yang lebih seimbang atau ketika suami tetap menjadi pencari nafkah utama.

Salah satu penyebabnya diduga karena perempuan masih memikul sebagian besar pekerjaan domestik meskipun mereka menjadi penyumbang penghasilan terbesar.

Ekonom dari University of Kansas, Dr. Misty Heggeness, mengatakan perempuan masih menanggung beban pekerjaan rumah tangga dalam porsi yang lebih besar, terlepas dari siapa yang memiliki penghasilan lebih tinggi.

Artinya, seorang perempuan bisa saja bekerja penuh waktu, menjadi penyumbang pendapatan terbesar, tetapi tetap bertanggung jawab atas memasak, membersihkan rumah, mengurus anak, hingga mengatur berbagai kebutuhan keluarga.

Kondisi ini dikenal sebagai double burden atau beban ganda.

Dalam situasi seperti itu, memiliki penghasilan lebih tinggi tidak selalu berarti memiliki lebih banyak kekuasaan atau kebebasan. Sebaliknya, perempuan justru bisa memikul tanggung jawab yang semakin besar.

Penelitian Sebelumnya Menunjukkan Pola Serupa

Temuan ini sejalan dengan sejumlah penelitian terdahulu.

Riset yang dilakukan ekonom University of Chicago, Marianne Bertrand, pada 2015 menemukan adanya kecenderungan penghasilan istri berada tepat di bawah 50 persen dari total pendapatan rumah tangga. Hal ini memunculkan dugaan bahwa sebagian pasangan masih merasa tidak nyaman ketika istri memiliki penghasilan lebih tinggi dibanding suami.

Sementara itu, penelitian lain di Prancis menemukan pasangan yang istri menyumbang sekitar 75 persen pendapatan keluarga memiliki kemungkinan sekitar 30 persen lebih tinggi untuk berpisah dibanding pasangan dengan penghasilan yang lebih seimbang.

Meski begitu, para peneliti menegaskan bahwa hasil tersebut tidak membuktikan penghasilan perempuan yang lebih tinggi menjadi penyebab utama keretakan hubungan. Dinamika rumah tangga dipengaruhi banyak faktor yang jauh lebih kompleks.

Masyarakat Lebih Menerima, Hubungan Pribadi Belum Tentu

Menariknya, sikap masyarakat terhadap perempuan yang menjadi pencari nafkah utama terus berubah.

Analisis yang dikutip The Economist menunjukkan hanya 10 persen responden di Amerika Serikat pada 2022 yang menganggap perempuan berpenghasilan lebih tinggi dari suami sebagai sesuatu yang bermasalah. Angka ini jauh menurun dibanding 1998, ketika lebih dari sepertiga responden masih memiliki pandangan tersebut.

Hal ini menunjukkan masyarakat semakin menerima perempuan sebagai pencari nafkah utama.

Namun, perubahan dalam kehidupan rumah tangga tampaknya membutuhkan waktu lebih lama.

Pada akhirnya, para peneliti menilai hubungan yang sehat bukan ditentukan oleh siapa yang memiliki gaji lebih besar, melainkan apakah kedua pasangan merasa dihargai, didukung, dan berbagi tanggung jawab secara adil.

Uang memang dapat memengaruhi dinamika hubungan, tetapi tidak seharusnya menjadi ukuran nilai seseorang dalam sebuah pernikahan. Tantangan terbesar justru terletak pada kemampuan pasangan meninggalkan pandangan lama bahwa harga diri laki-laki ditentukan oleh besarnya penghasilan atau bahwa kesuksesan perempuan harus dibayar dengan ketimpangan dalam kehidupan rumah tangga.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Kapolri Cup 2026 Siap Digelar, Libatkan Atlet Muda hingga Penyandang Disabilitas
• 18 menit lalu
0
thumb
Amerika Tiba-Tiba Kurangi Jumlah Tentara AS yang Tewas di Perang Iran
• 7 jam lalu
0
thumb
Tak Cuma AS, China-Australia-Kanada Dikecualikan dari Aturan DHE
• 10 jam lalu
0
thumb
RI-China Kantongi Kesepakatan Bisnis Senilai USD 2 M, Didominasi Energi dan AI
• 19 jam lalu
0
thumb
Partai Gerakan Rakyat Daftarkan Diri ke Kemenkum, Target Ikut Pemilu 2029
• 21 jam lalu
0
Berhasil disimpan.