ENI-Petronas Garap FPSO Terbesar se-ASEAN di Selat Makassar, Nilainya USD 2,9 M

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Pengembangan Kutei North Hub, proyek kerja sama ENI dengan Petronas, memasuki babak baru. Kongsi bisnis itu mulai membangun fasilitas pengolahan dan penyimpanan terapung alias Floating, Production, Storage, and Offloading (FPSO).

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Djoko Siswanto, mengatakan fasilitas tersebut bernama FPSO Bahtera Haluan Lestari untuk Proyek Strategis Nasional (PSN) North Hub Development Project Selat Makassar.

“FPSO ini terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara, juga masuk kategori kelompok besar atau terbesar di dunia,” kata Djoko saat seremoni pemotongan baja perdana FPSO Bahtera Haluan Lestari di Karimun, Kepulauan Riau, Kamis (23/7).

CEO Searah North Ganal, Mirko Araldi, menjelaskan FPSO Bahtera Haluan Lestari memiliki kapasitas pengolahan gas sebesar 1 miliar kaki kubik per hari (BCFD), kapasitas pengolahan cairan hidrokarbon sebesar 80.000 barel per hari, serta kapasitas penyimpanan mencapai 1,4 juta barel.

“FPSO Kutai North merupakan proyek dengan skala dan ambisi yang luar biasa. Memiliki panjang 350 meter, lebar 64 meter, tinggi 32 meter, dan bobot sekitar 147.000 metrik ton, fasilitas ini akan menjadi salah satu FPSO terbesar yang pernah dibangun di dunia,” jelasnya.

Setelah rampung, kata Mirko, FPSO tersebut akan menjadi yang terbesar di Indonesia sekaligus Asia Tenggara (ASEAN). Desainnya dikembangkan dengan pendekatan optimalisasi energi yang diintegrasikan ke dalam proyek melalui analisis sistematis untuk meningkatkan efisiensi energi.

Serap 80 Ribu Tenaga Kerja

Proyek ini akan melibatkan sejumlah kontraktor lokal dengan puncak penyerapan tenaga kerja mencapai lebih dari 80.000 pekerja di Indonesia. Selain itu, sekitar 35 juta jam kerja akan dicurahkan untuk fabrikasi dan integrasi modul topside seberat 41.000 metrik ton, yang akan memanfaatkan hampir seluruh kapasitas fasilitas fabrikasi di Batam dan Pulau Karimun.

Pelaksanaan proyek diperkirakan berdurasi 48 bulan. Meliputi manajemen proyek, rekayasa detail, pengadaan material, fabrikasi, konstruksi dan kegiatan instalasi, serta commissioning dan pengoperasian awal unit FPSO.

Proyek FPSO Kutei merupakan bagian dari pengembangan Kutei North Hub, yang terdiri dari pengembangan bawah laut yang terhubung ke FPSO baru, jalur pipa ekspor gas khusus ke pabrik LNG Bontang dan pengguna gas domestik.

Nilai Investasi USD 2,9 Miliar

Pembangunan FPSO ini dilakukan oleh Saipem, melalui anak perusahaannya PT Saipem Indonesia. Kontrak Rekayasa, Pengadaan, Konstruksi dan Instalasi (EPCI) FPSO tersebut bernilai USD 2,9 miliar oleh Eni North Ganal, perusahaan yang dikendalikan Searah Ltd, perusahaan gabungan bisnis ENI dan Petronas.

Sementara proyek Kutei North Hub sendiri menelan total investasi USD 11,8 miliar. Wilayah Kerja (WK) atau blok migas yang ada di kawasan ini mencakup Blok Ganal, Blok North Ganal, dan Blok Rapak.

Proyek tersebut juga memiliki dua lapangan dengan cadangan gas raksasa, yakni Lapangan Gehem dan Lapangan Gas Raksasa Geng North. Kedua lapangan tersebut berada di perairan ultra-dalam di Selat Makassar, Kalimantan Timur, pada kedalaman sekitar 2.000 meter atau setara 6 kali tinggi Menara Eiffel.

“Kami menargetkan produksi perdana pada 2028. Proyek strategis ini ditargetkan mulai beroperasi dalam waktu kurang dari 3 tahun setelah Keputusan Investasi Final (Final Investment Decision/FID),” jelas Mirko.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Hasil Olah TKP, Ledakan Rumah Mewah di Medan Dipastikan Berasal dari Gas Metana | KOMPAS SIANG
• 9 jam lalu
0
thumb
URI: Membangun Republik dari Kampus
• 14 jam lalu
0
thumb
Pukul Ember-Botol Bekas untuk Lepas Stres di Komunitas Nabuh Bareng Jakarta
• 7 jam lalu
0
thumb
Blokade Laut Memanas, Houthi Gempur 2 Kapal Tanker Arab Saudi di Laut Merah
• 14 jam lalu
0
thumb
Menteri PU Tepis Isu Mutasi Akibat Surat Perjalanan Dinas ke Amerika Serikat Viral, Alasannya Klasik!
• 13 jam lalu
0
Berhasil disimpan.