JAKARTA, KOMPAS.com - Psikolog anak, Gloria Siagian, menyebut anak-anak yang harus bekerja sejak usia dini berpotensi memikul tanggung jawab orang dewasa sebelum waktunya, yang mana ini dapat menghambat proses tumbuh kembang.
Ia mengibaratkan kondisi tersebut seperti "buah yang dipaksa matang" sebelum waktunya.
"Ibaratnya seperti buah yang dikarbitkan. Rasanya tentu berbeda dengan buah yang matang secara alami pada waktunya," ujar Gloria saat dihubungi Kompas.com melalui WhatsApp, Kamis (23/7/2026).
Baca juga: Saat Masa Kecil Terampas: Kisah Anak-anak yang Bekerja di Jalanan Jakarta demi Keluarga
Menurut Gloria, masa kanak-kanak merupakan fase penting bagi anak untuk belajar melalui bermain, berinteraksi dengan teman sebaya, serta mengembangkan kemampuan sosial, emosional, dan kognitif.
"Jadi kebayang kalau dia diharuskan bekerja. Berarti ada tugas dan tanggung jawab yang harus dia tanggung sebelum waktunya. Hal itu kemudian membatasi ruang berekspresinya," ujar Gloria.
Ia menjelaskan, ketika anak lebih banyak menghabiskan waktunya untuk bekerja, kesempatan bersosialisasi dengan teman sebaya menjadi jauh berkurang.
Akibatnya, kemampuan sosial dan emosional mereka tidak berkembang secara optimal.
"Secara sosial, karena dia harus bekerja, dia tidak punya ruang untuk bermain dan mengembangkan kemampuannya dalam bersosialisasi maupun bertemu dengan anak-anak sebayanya," kata dia.
Tak hanya itu, anak yang bekerja juga lebih banyak mencontoh perilaku orang dewasa dibandingkan belajar dari lingkungan yang sesuai dengan usianya.
"Karena dia bekerja, role model yang dia lihat adalah orang-orang dewasa, yang kadang-kadang belum tentu menjadi teladan yang baik untuk anak seusianya," ujarnya.
Gloria menjelaskan, dampak lain yang muncul adalah terganggunya perkembangan akademik anak.
Ketika sebagian besar waktunya dihabiskan untuk bekerja, kesempatan belajar menjadi semakin sempit.
"Misalnya dia seharusnya belajar membaca dan menulis, tetapi tidak punya kesempatan. Akibatnya kemampuan membaca dan menulisnya menjadi terlambat berkembang," ujarnya.
Baca juga: Sempat Cekcok, Satpam Bunderan HI Pastikan Sudah Damai dengan Pengendara Mobil Alphard
Selain itu, cara anak bergaul juga dapat berubah karena lebih sering berada di lingkungan orang dewasa.
"Kalau dia tidak punya kesempatan berinteraksi dengan teman-teman sebayanya, kemampuan bersosialisasinya akan terhambat. Cara bergaulnya bahkan bisa menjadi seperti orang yang lebih tua," kata Gloria.
Meski demikian, Gloria menegaskan bahwa membantu orangtua bukan berarti tidak boleh.
Ia menilai anak boleh dilibatkan membantu keluarga selama porsinya sesuai usia dan tidak menghilangkan hak-haknya sebagai anak.
"Anak ingin membantu ekonomi keluarga sebenarnya boleh, dalam arti sesuai kapasitasnya dan dia tetap mendapatkan haknya sebagai anak. Hak anak itu apa? Bermain dan belajar. Itu hak anak," ujar Gloria.
Ia mengingatkan, persoalan muncul ketika anak justru memikul tanggung jawab utama mencari nafkah.
"Kadang-kadang yang terjadi justru anak mendapatkan beban yang jauh lebih besar. Beban bekerjanya jauh lebih besar sehingga haknya untuk menjadi anak berkurang," tutur dia.
Gloria juga mengingatkan sejumlah tanda yang perlu diwaspadai apabila anak terlalu dini bekerja, mulai dari ledakan emosi, menjadi pribadi yang tertutup atau agresif, hingga meningkatnya risiko gangguan kesehatan mental.
"Apalagi kalau anak bekerja di jalan dan harus mencari uang. Jalanan itu cukup keras dan bukan tempat anak untuk bertumbuh," tutur Gloria.






Komentar (0)