JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Luar Negeri RI Sugiono kembali menegaskan dukungan pemerintah Indonesia terhadap Palestina dan memandang konflik tersebut tak sekadar masalah kemanusiaan.
"Bagi Indonesia, Palestina bukan hanya persoalan kemanusiaan. Ini adalah persoalan keadilan, martabat, dan hak rakyat Palestina untuk membangun kembali masa depannya," ucapnya dalam Pertemuan ASEAN-Japan Post-Ministerial Conference, di Manila, Filipina, Rabu (22/7/2026).
Sebab itu, ia berharap kontribusi nyata ASEAN dan Jepang bagi pemulihan dan pembangunan Palestina melalui Conference on Cooperation among East Asian Countries for Palestinian Development (CEAPAD).
Baca juga: Pidato Menlu Sugiono untuk AS dan China, Singgun Isu Laut China Selatan dan Palestina
CEAPAD, lanjutnya, harus mampu menerjemahkan solidaritas menjadi pemulihan dan pembangunan jangka panjang bagi rakyat Palestina.
“ASEAN dan Jepang memiliki kekuatan masing-masing. Ketika diikat oleh tujuan yang sama, kemitraan ini akan semakin tangguh dalam menjaga perdamaian dan kemakmuran kawasan,” tutur Menlu Sugiono.
Dalam forum yang sama, Sugiono juga menekankan kerja sama ASEAN-Jepang yang bisa difokuskan untuk investasi berkualitas, infrastruktur tangguh, dan energi bersih.
Baca juga: Kemenlu: Deportasi WN Palestina Murni Kasus Pidana, Tak Terkait Hubungan Diplomatik
"Kemitraan ASEAN-Jepang harus memiliki arah yang jelas dan menghasilkan kerja sama konkret bagi perdamaian, ketahanan, dan kemakmuran kawasan," ujarnya.
Indonesia menyambut penguatan komplementaritas antara ASEAN Outlook on the Indo-Pacific (AOIP) dan Free and Open Indo-Pacific (FOIP) Jepang agar dapat diterjemahkan menjadi kerja sama konkret, dengan Sentralitas ASEAN tetap sebagai landasan.
Dukungan Jepang terhadap AOIP tecermin dalam Pernyataan Bersama yang diadopsi pada Oktober tahun lalu serta tambahan kontribusi bagi pelaksanaan berbagai kegiatan bertema AOIP.
Baca juga: Kasus Febrie Adriansyah, Abraham Samad Singgung Peran SBY Turun Tangan dalam Kasus Cicak vs Buaya
Sugiono secara khusus menyoroti pentingnya jalur laut yang aman dan terbuka bagi kelancaran pasokan energi, pangan, perdagangan, dan rantai pasok kawasan.
“Kerja sama maritim harus tetap menjadi pilar utama kemitraan ASEAN-Jepang, melalui penguatan kapasitas, konektivitas, dan maritime domain awareness,” tegasnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang





Komentar (0)