Momentum Hari Anak Nasional menjadi pengingat bahwa membangun masa depan anak bukan hanya soal membantu mereka meraih cita-cita, tetapi juga memastikan perjalanan tersebut tetap berjalan meski keluarga menghadapi risiko kesehatan yang tidak terduga.
Data Profil Statistik Kesehatan 2025 yang diterbitkan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan 40,12 persen anak balita mengalami keluhan kesehatan, menjadikan kelompok usia ini sebagai salah satu yang memiliki proporsi keluhan kesehatan tertinggi.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa risiko kesehatan anak merupakan aspek penting yang perlu dipersiapkan sejak dini.
Hingga semester I 2026, Allianz Indonesia tercatat memberikan perlindungan kepada lebih dari 119 ribu tertanggung berusia 0-21 tahun. Pada periode Januari-Juni 2026, tiga penyakit dengan frekuensi klaim tertinggi adalah Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) sebanyak 6.269 kasus, diare sebanyak 2.536 kasus, dan infeksi tenggorokan sebanyak 1.672 kasus.
Baca juga: Hari Anak Nasional 2026, Titi Kamal Ingatkan Pentingnya Pendidikan dan Nilai Agama
Dalam periode yang sama, Allianz Indonesia membayarkan total klaim kesehatan lebih dari Rp212 miliar untuk kelompok usia tersebut.
“Bagi orang tua, ketika anak sakit, prioritas utama tentu adalah memastikan mereka memperoleh penanganan medis yang terbaik. Karena itu, kesiapan finansial menjadi penting agar perhatian keluarga dapat tetap berfokus pada proses pemulihan anak, tanpa dibayangi kekhawatiran terhadap biaya pengobatan maupun terganggunya berbagai rencana yang telah dipersiapkan untuk masa depan mereka. Perlindungan kesehatan melalui asuransi dapat menjadi salah satu bentuk antisipasi agar keluarga memiliki dukungan finansial ketika menghadapi risiko kesehatan yang tidak terduga," ujar Head of Product Allianz Syariah Indonesia, Rina Triana dalam keterangan tertulis, Kamis, 23 Juli 2026. Risiko Kesehatan Bisa Mengganggu Dana Pendidikan Anak Selain berdampak pada kondisi kesehatan anak, kebutuhan biaya perawatan yang muncul secara tidak terduga juga dapat memengaruhi kondisi keuangan keluarga. Hal ini menjadi semakin relevan mengingat Profil Statistik Kesehatan 2025 menunjukkan bahwa sekitar setengah dari pengeluaran kesehatan di Indonesia masih ditanggung langsung oleh rumah tangga (out-of-pocket expenditure).
Artinya, tanpa persiapan yang memadai, biaya kesehatan berpotensi mengganggu berbagai rencana keuangan keluarga, termasuk dana yang telah dipersiapkan untuk pendidikan maupun kebutuhan masa depan anak.
Dalam kondisi seperti ini, perencanaan keuangan yang menyeluruh tidak hanya mencakup dana pendidikan maupun dana darurat, tetapi juga perlindungan kesehatan yang dapat membantu keluarga saat menghadapi risiko finansial akibat biaya pengobatan yang tidak terduga.
“Perlindungan kesehatan melalui produk asuransi bukan sekadar membantu membiayai
pengobatan ketika risiko terjadi. Lebih dari itu, asuransi membantu menjaga stabilitas keuangan keluarga agar tujuan jangka panjang, seperti pendidikan dan berbagai rencana masa depan anak, tetap dapat diwujudkan,” tambah Rina.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(ANN)






Komentar (0)