Plt Ketua Dewan Syuro DPP PKB KH Manarul Hidayah menyebut partainya sebagai 'anak kandung' Nahdlatul Ulama (NU). Ia pun menyebut PKB tetap mengambil peran mengumpulkan ulama di tengah kesibukan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mempersiapkan muktamar.
Hal itu disampaikan Manarul saat membuka Ijtima’ Ulama Indonesia yang digelar DPP PKB di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, Kamis (23/7).
Dalam sambutannya, ia menyoroti beberapa hal. Salah satunya fenomena penurunan jumlah santri di pondok pesantren.
“Kita baca sekarang di medsos, berapa penurunan jumlah santri-santri di pondok pesantren? Dulu santri menolak, sekarang santri turun sekian puluh persen,” kata Manarul.
“Di sini kehadiran PKB, karena PKB adalah anak kandung Nahdlatul Ulama. Karena PBNU sedang sibuk mengadakan muktamar, makanya kita DPP PKB mengadakan acara ini,” lanjutnya.
Ia menyinggung PBNU yang kini tengah fokus mempersiapkan muktamar sehingga belum sempat membahas berbagai persoalan yang dihadapi pesantren. Karena itu, PKB merasa perlu mengambil inisiatif menghimpun para ulama dan pengasuh pesantren.
“Karena tidak sempat untuk membahas bagaimana santri kok turun? Itu PBNU sekarang, karena sedang mempersiapkan muktamar,” ujar Manarul.
“Kami sebagai anak kandung yang sah, orang tua sedang sibuk. Kami anak, jadi anak saleh, bagaimana mengumpulkan para ulama, para pengasuh pesantren, untuk menangani kemasyarakatan, keagamaan, bangsa dan negara,” tambah dia.
Manarul menjelaskan Ijtima’ Ulama digelar dengan tema kesejahteraan rakyat dan ketahanan bangsa karena peran ulama dinilai sangat penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Kenapa DPP PKB mengadakan acara Ijtima’ Ulama untuk kesejahteraan rakyat dan ketahanan bangsa? Yang pertama, peranan ulama sangat penting. ‘Al-Ulama warosatul Anbiya’. Tugas sangat berat,” ucapnya.
Ia kemudian mengutip sebuah hadis yang menurutnya menggambarkan empat pilar tegaknya sebuah bangsa. Menurutnya, bangsa akan berdiri kokoh jika ilmu ulama diamalkan, pemimpin berlaku adil, orang kaya dermawan, dan doa kaum fakir miskin terus mengiringi.
“Di samping Rasul bersabda, tegaknya bangsa. Empat poin menurut hadis ini. Yang pertama, peranan ilmu ulama. Kalau ilmu ulama sudah diamalkan insya Allah ‘bi adlil umaro’. Para umara akan adil, tidak ada yang korupsi dan sebagainya,” tutur Manarul.
“Yang ketiga, tidak cukup ada ulama, tidak cukup ada orang pejabat yang arif, ada juga ‘bisoqotil aghniya’. Orang kaya yang dermawan, Utsman bin Affan. Ada lagi yang keempat, ‘bi du’ail fuqoro’. Doanya orang-orang fakir miskin,” sambungnya.
Manarul juga mengaitkan nilai-nilai tersebut dengan dasar negara Pancasila. Menurut dia, sila Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi fondasi agar seluruh sila lainnya dapat dijalankan dengan baik.
“Semua ini sesuai dengan kitab suci bangsa Indonesia, yaitu Ketuhanan yang Maha Esa. Empat sila yang di bawah ini, akan terlaksana dengan baik apabila ketuhanan yang maha esanya diamalkan. Salah satu penyebab gonjang-ganjing di negara yang kita cintai ini, karena ketuhanannya kurang dimaksimalkan dengan sebaik-baiknya,” katanya.
Ia pun berharap forum Ijtima’ Ulama tersebut menghasilkan rekomendasi yang dapat menjadi pedoman bagi PKB maupun masyarakat dalam menangani berbagai persoalan bangsa.
“Mudah-mudahan dari pertemuan ini, akan menghasilkan poin-poin yang akan kita laksanakan ke depan, dengan sebaik-baiknya sesuai dengan amanah dari Allah, dari Nabi, Al-Ulama Warosatul Anbiya,” ucapnya.
“Oleh karena itu yang pertama, atas nama Ketua Umum (Muhaimin Iskandar), menghaturkan ribuan terima kasih. Kepada para ulama, para kyai, para bunyai, yang telah meluangkan waktunya untuk hadir, di acara Ijtima’ Ulama Indonesia. Karena kita punya tanggung jawab walaupun kesibukan sehari-hari sangat luar biasa, tapi karena cinta kepada ulama, cinta kepada bangsa, terutama cinta kepada Partai Kebangkitan Bangsa, hari ini kita bisa hadir,” lanjutnya.
Menutup sambutannya, ia secara resmi membuka Ijtima’ Ulama Indonesia dan berharap kegiatan tersebut berjalan lancar serta menghasilkan rekomendasi yang bermanfaat bagi bangsa.
“Dengan mengucap bersama-sama, Alfatihah, saya nyatakan yaitu Ijtima’ Ulama Indonesia saya buka, Alfatihah. Dengan lancar dan menghasilkan yang positif,” tutupnya.






Komentar (0)