JAKARTA, KOMPAS.com - Gang-gang sempit di Jakarta tidak hanya menjadi akses berlalu lalangnya warga, tetapi kerap menjadi ruang-ruang bermain anak.
Fenomena ini seringkali terlihat di pemukiman-pemukiman padat Jakarta, salah satunya RW 07, Manggarai, Jakarta Selatan.
Setiap siang, sore, dan malam, anak-anak sekolah dasar (SD) memanfaatkan area gang itu untuk bermain banyak hal, mulai dari sepatu roda, petak umpat, berlari-larian, dan lain sebagainya.
Teriakan dan tawa anak-anak yang sedang bermain kerap kali menembus tembok-tembok rumah warga.
Tak jarang, warga yang keberisikan langsung meminta anak-anak tersebut untuk pindah bermain agar tidak di depan rumahnya.
Sebagian warga ada yang meminta anak-anak pindah secara baik-baik. Namun, sebagian lagi ada yang sambil memarahi.
Ketika dimarahi, sebagian anak ada yang memilih untuk langsung pergi. Namun, ada juga yang bertahan, tak memedulikan protes dari warga tersebut.
Baca juga: Dokter Tifa Belum Sepenuhnya Bebas di Kasus Ijazah Jokowi Meski Eksepsi Dikabulkan
Anak sampai menangisSeorang anak bernama Nadin (8) mengaku seringkali dimarahi saat bermain di lingkungan tempat tinggalnya.
"Sering diomelin, dimarahin 'udahan sono, berisik', gitu," tutur dia ketika diwawancarai Kompas.com di lokasi, Rabu (23/7/2026).
Biasanya, ketika sudah dimarahi warga, Nadin dan teman-teman sebayanya memilih untuk mengakhiri permainannya.
Tak jarang, protes dari warga tersebut kerap kali melukai hatinya hingga menangis.
"Ya, kadang pernah sih sampai menangis kalau diomelin tiba-tiba," sambung dia.
Ketika sudah dilarang bermain di gang, mereka akan pindah ke lapangan satu-satunya di kawasan tersebut.
Lapangan itu berada persis di tengah-tengah antara Masjid Al-Falaah dan juga deretan rumah warga.
Namun, lapangan berukuran 13 x 6 meter tersebut bukan didesain sebagai lahan bermain anak, tapi merupakan lapangan bulu tangkis warga yang kerap difungsikan untuk menampung jamaah masjid ketika hari-hari besar seperti Idul Fitri dan Idul Adha.
Setiap harinya, puluhan anak RW 07 berebut lapangan ini sebagai area bermain mulai dari sepak bola, sepatu roda, galasin, petak umpat, dan lain sebagainya.
Meski sudah berpindah di lapangan, bukan berarti anak-anak tersebut bebas bermain dan mengekspresikan diri.
Tak jarang, mereka tetap kena marah warga apabila terlalu berisik, karena lokasi lapangan yang berada persis di depan rumah-rumah.
"Kadang kalau berisik sering juga disiram lapangannya," ucap Nadin.






Komentar (0)