Banyak area kota sampai perdesaan memperlakukan air hujan sebagai persoalan yang harus segera disingkirkan. Atap, talang, dan saluran drainase bekerja secepat mungkin mengalirkannya ke selokan, lalu ke sungai, sebelum akhirnya menghilang. Pada saat yang sama, sumur-sumur air tanah terus dipompa untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Hujan datang, tetapi cadangan air justru terus menyusut, apalagi ketika kemarau.
Sekolah Vokasi (SV) Universitas Diponegoro, Kota Semarang, memandang air hujan dengan cara berbeda. Air yang jatuh di atap kampus tidak dibiarkan menjadi limpasan. Sebagian air itu ditampung, disaring, lalu dimurnikan melalui rangkaian teknologi reverse osmosis dan ion exchange hingga tingkat kemurnian tinggi untuk kebutuhan praktikum dan penelitian.
Pagi itu, seorang petugas mencelupkan TDS meter ke dalam gelas berisi air hasil olahan. Angka pada layar menunjukkan 0 ppm, menandakan nyaris tidak ada zat terlarut yang tersisa. Abdullah Malik Filardli, dosen Program Studi Teknologi Rekayasa Kimia Industri SV Undip, turut mengamati proses itu dari dekat, Kamis (23/7/2026).
Ia menuturkan soal inovasi tersebut menjadi bagian dari program SV Zero Discharge. Konsep pengelolaan air yang berupaya memastikan setiap tetes air dimanfaatkan semaksimal mungkin. Air hujan menjadi sumber utama untuk menghasilkan air laboratorium, sementara kelebihan air dialirkan ke sumur resapan agar kembali mengisi cadangan air tanah, bukan sekadar mengalir ke drainase.
Proses pengujan air kualitas untuk memeriksa kandungan zat terlarut di Unit Pemurnian Air. KOMPAS/RADITYA MAHENDRA YASA
Instalasi dan filter pengolahan air hujan hingga menjadi air berkualitas laboratorium. KOMPAS/RADITYA MAHENDRA YASA
Proses pengujian air hujan untuk memeriksa kandungan zat terlarut. KOMPAS/RADITYA MAHENDRA YASA
Sebuah pipa yang tersambung ke dalam tanki tandon untuk menampung air hujan. KOMPAS/RADITYA MAHENDRA YASA
Pendekatan ini menawarkan cara pandang baru terhadap air hujan. Selama ini, pembangunan kota lebih banyak berfokus mempercepat aliran air menuju saluran pembuangan. ”Banyak wilayah perkotaan, eksploitasi air tanah terus berlangsung dan memicu penurunan muka tanah ataupun meningkatnya kerentanan terhadap krisis air pada masa depan,” jelasnya.
Air hujan juga tidak dilihat sekadar siklus peristiwa musiman. Dengan teknologi yang tepat, menurut dia, menjadi sumber daya alternatif yang mengurangi ketergantungan pada air tanah sekaligus meningkatkan efisiensi penggunaan air bersih. Keberadaan unit pemurnian air dengan instalasi mesinnya tersebut berperan sebagai laboratorium bagi mahasiswa untuk berinovasi.
Proses tersebut dari siklus sederhana yang memperlihatkan setiap tetes hujan memiliki nilai ketika dikelola dengan pengetahuan dan teknologi. Apalagi ketika kemarau panjang yang sudah mengiringi, mereka pun mulai memanen air hujan dari kampus.






Komentar (0)