Jakarta: Asian Development Bank (ADB) dan United Nations Industrial Development Organization (UNIDO) menyoroti sektor manufaktur sebagai pendorong utama transformasi ekonomi. Perekonomian yang berhasil memperluas dan meningkatkan sektor manufakturnya cenderung mencapai pertumbuhan produktivitas yang lebih kuat serta menciptakan lebih banyak peluang kerja.
Penelitian ADB menunjukkan bahwa sektor manufaktur dapat memainkan peran yang sangat penting dalam membantu perekonomian negara-negara berkembang. Studi tersebut menyoroti pentingnya kebijakan yang mendukung peningkatan industri, pengembangan keterampilan, dan investasi guna membantu perekonomian beralih ke kegiatan bernilai tambah yang lebih tinggi.
Kepala Perwakilan ADB untuk Indonesia Bobur Alimov mengatakan, pembangunan industri harus berpusat pada manusia. Menurut dia, Indonesia sedang mengalami momentum yang nyata dalam transformasi industrinya, dan penelitian ini menunjukkan sejauh mana momentum tersebut dapat mendorong pertumbuhan produktivitas dengan pilihan kebijakan yang tepat.
“ADB akan terus bekerja sama dengan pemerintah Indonesia untuk membantu mewujudkan potensi tersebut menjadi lapangan kerja yang inklusif dan bernilai tambah tinggi bagi masyarakat Indonesia,” kata dia dalam keterangan tertulis, Kamis, 23 Juli 2026.
Dalam edisi ke-24 Indonesia Development Talks dengan tema 'Masa Depan Industri: Transformasi Asia Tenggara untuk Pembangunan Berkelanjutan', ADB membahas isu-isu pembangunan, mengkaji bagaimana sektor manufaktur dapat membantu perekonomian Asia Tenggara meningkatkan produktivitas, menciptakan lapangan kerja, dan mendukung pembangunan berkelanjutan.
Baca Juga :
Penilaian S&P Jadi Modal Tingkatkan Kepercayaan Pasar(Indonesia Development Talks edisi ke-24 dengan tema 'Masa Depan Industri: Transformasi Asia Tenggara. Foto: Dok ADB) Kebijakan industri yang terarah memperkuat daya saing Dalam Industrial Development Report 2026, UNIDO menekankan perlunya kebijakan industri yang terarah untuk memperkuat daya saing dan mempertahankan pertumbuhan jangka panjang. Laporan tersebut mengutip upaya Indonesia dalam memperluas pengolahan sumber daya mineral di dalam negeri sebagai contoh kebijakan yang bertujuan meningkatkan nilai tambah dan pembangunan industri.
Kedua studi tersebut menekankan bahwa transformasi industri membutuhkan lebih dari sekadar investasi. Kelembagaan yang kuat, tenaga kerja terampil, infrastruktur yang memadai, dan akses terhadap pembiayaan merupakan hal-hal yang esensial untuk membantu perusahaan tumbuh dan bersaing.
Perwakilan Kantor Sub-Regional Indonesia, Filipina, dan Timor Leste UNIDO, Marco Kamiya menyebut, masa depan industrialisasi akan ditentukan oleh mereka yang menguasai pendorong-pendorong baru dalam produksi, yaitu kecerdasan buatan (AI), manufaktur berbasis teknologi bersih, dan bioekonomi.
“Negara-negara di kawasan Asia-Pasifik, khususnya negara-negara di Asia Tenggara, tidak boleh hanya menjadi penonton dalam transformasi ini. Dengan kebijakan, instrumen, dan kemitraan yang tepat, mereka dapat melompat ke industri yang siap menghadapi masa depan yang menciptakan lapangan kerja, mengurangi emisi, dan menutup kesenjangan industri,” kata dia.
Untuk itu, peningkatan produktivitas yang dihasilkan dari peningkatan ketersediaan faktor produksi bergantung pada keselarasan antara kapasitas kelembagaan dan akses terhadap pembiayaan untuk investasi industri, sehingga memperkuat argumen perlunya tindakan terkoordinasi di bidang infrastruktur, keterampilan, dan pembiayaan sejalan dengan ekspansi industri.





Komentar (0)