Pantau - Iran menuding Amerika Serikat memanfaatkan isu program nuklir sebagai dalih untuk melakukan agresi dan menghancurkan negara tersebut di tengah meningkatnya ketegangan kedua negara.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menyatakan serangan dan ancaman berulang Amerika Serikat terhadap fasilitas nuklir Iran mencerminkan permusuhan terhadap kemajuan ilmiah dan teknologi negaranya.
Baghaei mengatakan serangan dan ancaman tersebut melanggar Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, hukum internasional, serta resolusi Dewan Gubernur Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA), Konferensi Umum IAEA, dan Dewan Keamanan PBB.
Ia mengatakan, "Serangan-serangan itu menunjukkan permusuhan yang mendalam dari AS terhadap kemajuan ilmiah dan perkembangan teknologi Iran."
Iran Bantah Klaim Kompleks Nuklir RahasiaBaghaei menegaskan seluruh kegiatan nuklir Iran telah dilaporkan kepada IAEA sesuai kewajiban jaminan dan keamanan nuklir yang berlaku.
Ia juga membantah tuduhan Amerika Serikat mengenai keberadaan kompleks nuklir rahasia di Kolang Kouh atau Pickaxe Mountain.
Baghaei menilai tuduhan tersebut merupakan dalih yang direkayasa untuk melakukan agresi, penghancuran, dan sabotase terhadap Iran.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya menyatakan negaranya akan segera menyerang kawasan Pickaxe Mountain yang berada di dekat fasilitas pengayaan uranium Natanz di Iran tengah.
Baghaei mengatakan, "Rakyat Iran berdiri teguh dan bersatu, siap menghadapi dengan segenap kekuatan setiap tindakan permusuhan AS atau pelanggaran terhadap kedaulatan dan keamanan nasional negara mereka."
Ketegangan AS dan Iran Terus BerlanjutAmerika Serikat telah melancarkan serangkaian serangan ke berbagai wilayah Iran sejak pekan lalu.
Iran kemudian membalas dengan menyerang fasilitas dan pangkalan militer Amerika Serikat di sejumlah negara di kawasan.
Aksi saling serang tersebut terus berlanjut meski kedua negara telah menandatangani kerangka kesepakatan yang dimediasi Pakistan pada Juni lalu untuk mengakhiri perang yang berlangsung sejak Februari serta membuka jalan menuju perjanjian damai yang lebih permanen.





Komentar (0)