Oleh: Fadjar Pratikto
Menjelang peringatan 20 Juli, tanggal yang dikenang oleh praktisi Falun Dafa di berbagai negara sebagai awal dimulainya penindasan terhadap Falun Gong (Falun Dafa) di Tiongkok pada 1999, penyanyi soprano Sastrani Bhandari kembali menghadirkan karya bertema kemanusiaan dan spiritual berjudul “The Courage to Believe” (Keberanian untuk Percaya).
Lagu yang diciptakan Tony Chen dengan lirik karya Kean Wong dan Michael Perlman ini diproduseri bersama Minh Kha sebagai vocal engineer serta Liliana Jap sebagai editor video. Melalui lirik yang menyentuh dan aransemen megah, karya tersebut menjadi penghormatan bagi mereka yang tetap mempertahankan keyakinan, hati nurani, dan harapan di tengah tekanan serta penganiayaan.
Peluncuran lagu di platfotm Ganjing World ini memiliki makna simbolis karena dilakukan menjelang 20 Juli, hari yang menandai dimulainya kampanye penindasan terhadap praktisi Falun Gong di Tiongkok.
Selama lebih dari dua dekade, berbagai organisasi hak asasi manusia, peneliti independen, dan lembaga internasional telah mendokumentasikan tuduhan berbagai pelanggaran HAM terhadap praktisi Falun Gong, mulai dari penahanan sewenang-wenang hingga penyiksaan. Pemerintah Tiongkok sendiri membantah tuduhan tersebut.
Dari “Tale of Spring” Menuju “The Courage to Believe”
“The Courage to Believe” bukanlah karya yang berdiri sendiri. Lagu ini melanjutkan perjalanan artistik sekaligus spiritual Sastrani yang dalam beberapa tahun terakhir banyak melahirkan lagu-lagu bertema harapan, belas kasih, dan pencarian makna hidup.
Tahun sebelumnya, Sastrani merilis mini album “Tale of Spring”, yang berisi lima lagu, yakni A Tale of Spring, Be Saved, Sacred Path of Truth, Children of The Creator, dan Path of Divine. Album tersebut menjadi refleksi perjalanan batinnya setelah mengalami berbagai pergulatan hidup.
Melalui mini album itu, Sastrani menggambarkan “musim semi” sebagai metafora kebangkitan jiwa setelah melewati “musim dingin” berupa kegelisahan, ambisi, dan keputusasaan. Kelima lagu tersebut mengangkat tema pencarian kebenaran, harapan, keselamatan, serta hubungan manusia dengan Sang Pencipta.
Beberapa karya Sastrani juga mendapat perhatian luas. Path of Divine yang dirilis pada 2023 telah memperoleh puluhan ribu penayangan, sementara Sacred Path of Truth diluncurkan bertepatan dengan World Falun Dafa Day. Ia juga berkolaborasi dengan penyanyi Thu Hiền dalam lagu Children of The Creator, serta memenangkan kontes “Kindness is Cool” di platform Gan Jing World bersama April Gunawan.
Kini, melalui The Courage to Believe, Sastrani kembali mengangkat pesan universal mengenai keberanian mempertahankan keyakinan ketika kebohongan dan rasa takut berusaha menguasai kehidupan manusia.
Lagu tersebut dibuka dengan kalimat “Come from our first breath, Freedom calls your name” yang menggambarkan bahwa setiap manusia sejak lahir mendambakan kebebasan. Sementara lirik “Lies turn fear to hate” mengingatkan bagaimana kebohongan dapat mengubah rasa takut menjadi kebencian.
Bagian refrain menjadi inti pesan lagu melalui kalimat “With Courage to Believe be free”, sebuah ajakan agar manusia tetap memiliki keberanian mempercayai kebenaran sekalipun menghadapi tekanan.
Sastrani: Dari Ambisi Menuju Kedamaian
Lahir di Jakarta pada 15 November 1988, Putu Sastrani Titaranti Dewantara, yang dikenal sebagai Sastrani, merupakan penyanyi operatic spinto soprano lulusan Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Sejak kecil ia telah menunjukkan kecintaan terhadap musik klasik, opera, dan seriosa.
Selama menempuh pendidikan di IKJ, Sastrani memperdalam teknik Bel Canto. Berkat kerja keras dan latihan intensif, ia kemudian tampil di berbagai panggung nasional, termasuk Java Jazz Festival, serta berkolaborasi dengan maestro Addie MS bersama Twilight Orchestra dan Indonesia National Orchestra.
Namun perjalanan kariernya tidak selalu mulus. Pandemi COVID-19 menjadi titik balik kehidupannya ketika sejumlah proyek musik, termasuk proyek bersama Eros Djarot, harus tertunda. Dalam berbagai kesempatan, Sastrani mengaku sempat berada pada titik terendah akibat tekanan hidup dan ambisi mengejar kesuksesan.
Perkenalannya dengan latihan Falun Dafa pada masa tersebut menjadi awal perubahan pandangannya terhadap kehidupan. Menurut Sastrani, prinsip Sejati, Baik, Sabar membantunya menemukan ketenangan batin dan menjalani kehidupan dengan perspektif baru.
“Latihan ini membimbing saya untuk menjadi manusia yang sejati dan menuntun saya menjadi lebih baik dari hari ke hari,” ungkap Sastrani dalam sebuah wawancara.
Ia juga mengaku tidak lagi memandang musik semata-mata sebagai sarana mengejar popularitas atau materi, melainkan sebagai media menyampaikan pesan-pesan positif kepada masyarakat.
Pilihan Sastrani merilis banyak karyanya melalui platform Gan Jing World juga sejalan dengan visinya untuk menghadirkan konten yang berorientasi pada nilai-nilai keluarga, kemanusiaan, dan energi positif.
Melalui The Courage to Believe, Sastrani kembali mengajak pendengar merenungkan arti kebebasan, keberanian, dan hati nurani. Lagu ini menjadi penghormatan bagi mereka yang tetap bertahan di tengah penindasan, sekaligus seruan agar masyarakat dunia tidak melupakan pentingnya penghormatan terhadap kebebasan berkeyakinan dan hak asasi manusia.
Dengan karakter vokal soprano yang kuat dan lirik yang penuh makna, karya terbaru ini mempertegas posisi Sastrani sebagai salah satu musisi Indonesia yang konsisten memadukan kualitas artistik dengan pesan-pesan spiritual dan kemanusiaan.






Komentar (0)