Fenomena Bediding Saat Musim Kemarau, IPB Jelaskan Penyebab Udara Terasa Lebih Dingin

republika.co.id
10 jam lalu
Cover Berita

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University, Dr Givo Alsepan, menjelaskan suhu udara yang terasa lebih dingin pada malam hingga pagi hari selama musim kemarau merupakan fenomena alam yang dikenal sebagai bediding. Givo dalam keterangannya di Bogor, Rabu (22/7/2026), mengatakan fenomena bediding bukan dampak langsung perubahan iklim, melainkan bagian dari dinamika iklim musiman yang lazim terjadi pada periode Juni hingga September.

"Bediding merupakan fenomena atmosfer yang normal terjadi selama musim kemarau. Fenomena ini merupakan manifestasi dari proses fisik atmosfer. Kondisi tersebut terjadi ketika suhu minimum harian turun cukup signifikan akibat pendinginan radiasi yang berlangsung sangat efektif," katanya.

Baca Juga
  • Peringati Hari Anak Nasional, BNI Perkuat Komitmen Pencegahan Stunting
  • Sprindik Baru Keluar, Eks Jampidsus Febrie tak Hadir Pemeriksaan dengan Alasan Sakit
  • Ini Benturan Hukum yang Membuat Zohran Mamdani Gagal untuk Menangkap Netanyahu

Ia menjelaskan, bediding dipicu oleh kombinasi sejumlah kondisi atmosfer yang umum terjadi pada musim kemarau. Salah satu penyebab utamanya adalah langit yang cenderung cerah pada malam hari sehingga panas yang diserap permukaan bumi pada siang hari lebih mudah dipancarkan kembali ke atmosfer dan luar angkasa.

Selain itu, udara pada musim kemarau umumnya lebih kering dibandingkan saat musim hujan. Berkurangnya kandungan uap air di atmosfer menyebabkan panas tidak banyak tertahan sehingga proses pendinginan berlangsung lebih efektif.

.rec-desc {padding: 7px !important;}

"Ketika udara lebih kering, pelepasan panas dari permukaan bumi berlangsung lebih efektif. Akibatnya, udara pada malam hingga pagi hari terasa jauh lebih dingin," ujarnya.

Menurut Givo, fenomena tersebut lebih terasa di daerah pegunungan dan dataran tinggi karena dipengaruhi elevasi yang lebih tinggi serta aliran udara dingin yang cenderung berkumpul di lembah. Di kawasan seperti Dataran Tinggi Dieng, kondisi tersebut bahkan dapat memicu terbentuknya embun beku atau embun upas.

Ia menambahkan, angin monsun Australia turut memperkuat fenomena bediding. Pada musim kemarau, Australia sedang mengalami musim dingin sehingga massa udara yang bergerak menuju Indonesia membawa karakter udara yang lebih sejuk dan kering, terutama ke wilayah selatan khatulistiwa seperti Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.

 

 

 

 

Loading...
.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;}
sumber : ANTARA
@font-face { font-family: "LPMQ"; src: url("https://static.republika.co.id/files/alquran/LPMQ-IsepMisbah.ttf") format("truetype"); font-weight: normal; font-style: normal } .arabic-text { font-family: "LPMQ"; font-weight: normal !important; direction: rtl; text-align: right; font-size: 2.5em !important; line-height: 49px !important; }

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Tangani Konflik Papua, Kedepankan Dialog hingga Kebijakan Berbasis Data
• 1 jam lalu
0
thumb
BMKG: Bibit Siklon Tropis 92W Picu Cuaca Signifikan di Sejumlah Wilayah Indonesia
• 10 jam lalu
0
thumb
Daftar Susunan Pemain Timnas Voli Putri Indonesia vs Korea Selatan di Friendly Match Siang Ini
• 6 jam lalu
0
thumb
Berguinho Tancap Gas! Persib Matangkan Persiapan Hadapi Arema di Piala Presiden 2026
• 6 jam lalu
0
thumb
Laba Bank Mandiri (BMRI) Tumbuh 25% Jadi Rp 28,5 T, Ditopang Kredit dan DPK
• 2 jam lalu
0
Berhasil disimpan.