Mulai dari Rumah, Simak 5 Langkah Keluarga Jaga Anak dari Kekerasan Seksual

metrotvnews.com
9 jam lalu
Cover Berita

Jakarta: Keluarga merupakan ruang interaksi anak untuk kali pertama. Lingkungan keluarga berperan penting dalam tumbuh kembang anak serta jadi dasar bagi anak di lingkungan luar.

Ironi kemudian muncul sebab tak jarang lingkungan keluarga justru menjadi ancaman, termasuk dalam menyikapi kekerasan seksual. Relasi keluarga yang sehat dan aman guna melindungi anak merupakan hal yang penting.

Psikolog dari Mentari Anakku, Anggita H. Panjaitan, memaparkan beberapa cara melindungi anak dari kekerasan seksual di lingkungan keluarga. Berikut cara dan keterangannya. 1. Memberikan Pendidikan Seksual Pendidikan seksual sangat esensial untuk melindungi anak dari kekerasan seksual. Orang tua bertugas mengajarkan anak-anak tentang tubuh mereka, batasan yang sehat, pentingnya hak atas privasi, serta relasi yang sehat.

Anak perlu memahami bahwa tubuh adalah milik pribadi. Dengan demikian, anak memiliki hak penuh untuk mengatakan “tidak” atau bertindak melaporkan perilaku yang dinilai tidak sesuai.

Misalnya, ketika ada orang berusaha untuk menyentuh bagian privasi mereka. Anak harus dilatih agar percaya diri dalam melindungi diri mereka di lingkungan.

Pendidikan seksual penting untuk diberikan secara bertahap sesuai dengan usia anak. Pada usia yang lebih muda, orang tua bisa mengajarkan nama-nama organ tubuh dengan benar dan mengajarkan konsep privasi, seperti area tubuh yang hanya boleh disentuh oleh mereka sendiri.

Ketika anak-anak mulai beranjak remaja, orang tua bisa lebih terbuka membicarakan tentang hubungan seksual yang sehat, consent (persetujuan), bahaya kekerasan seksual, serta bahaya perilaku berisiko terkait relasi seksual. 2. Membangun Komunikasi Komunikasi yang terbuka dan penuh kepercayaan penting dalam mencegah kekerasan seksual. Jika orang tua bisa membuat anak merasa nyaman bicara, anak akan melaporkan jika mereka merasa tidak nyaman atau mengalami sesuatu yang buruk.

Orang tua juga perlu mendengarkan dengan tenang, mengapresiasi kejujuran, dan memberikan masukan-masukan. Dalam situasi tersebut, penting bagi orang tua tidak kehilangan kendali emosi dan menghindari hukuman. 3. Mengenali Tanda-Tanda Kekerasan Seksual Keluarga, terutama orang tua, perlu memahami tanda-tanda bahaya yang mungkin dialami anak. Beberapa tanda fisik dan psikologis yang perlu diwaspadai meliputi:

  • Perubahan perilaku: Anak menjadi lebih pendiam, menarik diri, atau menunjukkan tanda-tanda kecemasan dan ketakutan yang berlebihan, atau ketidakstabilan emosi yang signifikan
  • Gangguan fisik: Luka atau tanda fisik yang tidak bisa dijelaskan, seperti perdarahan atau rasa sakit di area intim.
  • Perubahan dalam performa sekolah: Penurunan prestasi akademik atau masalah perilaku yang tidak biasa di sekolah, menurunnya motivasi ke sekolah, maupun rasa takut yang berlebihan untuk berkegiatan di luar rumah
  • Perubahan psikologis: Anak menunjukkan tanda-tanda depresi, kecemasan, atau ketakutan yang berlebihan terhadap orang tertentu.

Ilustrasi. Foto: Dok. Medcom.id.
 

Jika ada gejala-gejala ini, orang tua perlu segera melakukan penyelidikan dan mencari bantuan dari ahli profesional untuk memastikan bahwa anak mendapatkan dukungan yang mereka butuhkan. 4. Menjadi Role Model Orang tua harus menjadi contoh yang baik dalam hal menghormati batasan fisik dan emosional orang lain. Mengajarkan anak untuk menghormati tubuh orang lain dan menegaskan pentingnya consent dalam segala bentuk interaksi sosial sangat penting.

Oleh karena itu penting bagi orang tua untuk menampilkan perilaku yang penuh penghormatan terhadap batasan yang dibuat oleh anak-anak. 5. Bertindak Cepat dan Tepat Jika anak menjadi korban kekerasan seksual, penting bagi keluarga untuk memberikan dukungan penuh tanpa menyalahkan anak. Beban psikologis anak korban kekerasan seksual sungguh besar.

Baca Juga :

Bisa Diberikan Sejak Dini, Pendidikan Seksual Terkendala Metode Pengajaran
Segera laporkan kejadian tersebut kepada pihak berwenang. Cari dukungan dari profesional seperti psikolog atau konselor anak untuk membantu pemulihan mental anak.

Proses hukum harus dilakukan dengan penuh perhatian dan menghindari dampak psikologis yang lebih besar pada anak.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Penyebab Baterai Motor Listrik SLA Cepat Drop
• 9 jam lalu
0
thumb
Surya Paloh Soroti Pemerintah: Kalau Sudah Tak Mau Dikoreksi, Gawat
• 2 jam lalu
0
thumb
WN Belanda Ditangkap Usai Ngamuk dan Rusak Fasilitas Hotel di Jaksel
• 6 jam lalu
0
thumb
PWI Serahkan Bukti Tambahan, Tegaskan Laporan ke Hotman Paris Murni Proses Hukum, Bukan Kriminalisasi!
• 13 jam lalu
0
thumb
Spesifikasi dan Harga Samsung Galaxy Z Fold 8, Z Fold 8 Ultra, Z Flip 8 di RI
• 10 jam lalu
0
Berhasil disimpan.