Diskumdag: Dugaan Penjual Ronde Sajikan Sisa Pembeli di Kota Batu Tidak Benar

kumparan.com
5 jam lalu
Cover Berita

Pedagang ronde di Alun-alun Kota Batu mendadak viral setelah dituding menyajikan ulang sisa makanan dari pembeli lain. Narasi tersebut beredar di media sosial (medsos) yang menyebut penjual ronde di kawasan Pasar Laron, Alun-alun Kota Batu, Jalan Sudiro, menyajikan kembali bekas wedang ronde yang sudah makan pembeli ke pembeli lain.

Kabid Perdagangan Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskumdag) Kota Batu Andri Yunanto mengungkapkan Pemerintah Kota (Pemkot) Batu telah mendatangi penjual ronde yang viral di media sosial itu. Dari penjelasan pedagang dan hasil investigasi tim Diskumdag, ditemukan fakta yang berbeda dari narasi yang beredar di media sosial tersebut.

"Didatangi sama Pak Sekda dan Pak Kadis, kami tindaklanjuti sesuai yang sudah diarahkan. Kami sudah membentuk tim untuk satgas gabungan, semalam pun sudah kita konfirmasikan ke pedagangnya yang diduga melakukan hal itu, ternyata kan tidak benar," kata Andri Yunanto saat dikonfirmasi, Rabu (22/7).

Hasil penyelidikan Tim Satgas Gabungan menunjukkan sisa wedang ronde dari pedagang bernama Jarwo itu dimasukkan ke dalam ceret, sedangkan narasi yang beredar di medsos menyebut dimasukkan ke dalam panci.

Setelah dimasukkan ke ceret, sisa wedang ronde itu memang tidak langsung dibuang saat itu juga, tetapi dipastikan terpisah dari wedang ronde baru yang dijual kepada pembeli.

"Pernyataannya penjualnya tidak benar, karena kan tidak menggunakan panci, di beritanya itu kan menggunakan panci, sedangkan di pedagang menggunakan ceret. Jadi kalau misalnya ada sisa langsung dibuang, itu berdasarkan informasi dari pedagangnya," ungkapnya.

Ia menyayangkan tidak adanya bukti berupa foto maupun video yang dilampirkan oleh pengunggah di medsos. Bahkan, pihaknya telah berupaya menghubungi dan mengkonfirmasi pengunggah, tetapi belum mendapat respons.

Meski demikian, sesuai narasi yang diunggah di medsos, unggahan di Threads tersebut memang merujuk pada pedagang ronde di Jalan Sudiro, kawasan Pasar Laron, Alun-alun Kota Wisata Batu. Pedagangnya bernama Pak Jarwo.

"(Penjualnya) Namanya Pak Jarwo. Yang jaga di situ adalah pembantunya," ucapnya.

Pihaknya mengaku sangat berhati-hati. Jika tidak ada bukti konkret berupa foto atau video, dikhawatirkan tuduhan tersebut justru berdampak pada pedagang lain di kawasan yang sama.

"Nggak ada foto atau video yang memang memastikan kalau itu terjadi. Kita sudah menanyakan ke yang diduga," tuturnya.

Menurutnya, selama ini Pemkot Batu telah mengatur dan menerapkan lima standar bagi pedagang kaki lima (PKL) yang berjualan di Kota Batu. Pertama, dari sisi higienitas atau kebersihan pedagang dan produknya melalui sertifikat kelayakan produk yang bekerja sama dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu.

"Masalah kehalalan produk, sudah kita kerja samakan sama Kemenag untuk halal produknya. Kemudian terkait aman pangan, BPOM, kita sudah kerja samakan sama BPOM juga," paparnya.

Pemkot Batu juga telah mewajibkan seluruh pedagang PKL dan UMKM mencantumkan daftar harga produk agar tidak ada wisatawan yang merasa dirugikan akibat ketidaksesuaian harga yang dibayarkan. Berkaca dari pengalaman di sejumlah tempat wisata lain, kerap muncul kasus wisatawan yang terpaksa membayar kuliner dengan harga yang tidak sesuai.

"Kita sudah membuatkan surat edaran bahwasanya seluruh pelaku PKL harus melampirkan daftar harga, tidak terkecuali. Jadi mereka itu kan etalase pariwisata kan gitu, kita sudah edukasi ke teman-teman."

Penataan ruang PKL di Kota Wisata Batu juga melibatkan dinas terkait. Ia mencontohkan sterilisasi dan penataan kawasan PKL dari pengamen serta pengemis melibatkan Dinas Sosial (Dinsos) Kota Batu, sedangkan penertiban PKL keliling bekerja sama dengan Satpol PP.

"Kalau yang PKL-PKL liar yang tidak terdaftar itu kan Satpol PP, kalau di kami di Permendag ini di Diskumdag ini kaitannya sama pembinaan UMKM-nya, pembinaan usahanya, sama penataannya," tuturnya.

Ia khawatir unggahan yang belum tentu kebenarannya tersebut akan berdampak pada pedagang lain di Alun-alun Kota Batu. Apalagi, berdasarkan catatannya terdapat 537 pedagang yang berjualan di kawasan tersebut, termasuk penjual ronde yang viral.

"Saya bisa sampaikan, jangan sampai karena berita yang ini yang mungkin kebenarannya perlu masih kita pertanyakan, kita diskusikan, tapi akhirnya berdampak kepada 537 pedagang yang ada di sana. Terus kemudian juga kasihan, kan gitu, sudah pariwisatanya turun, kan gara-gara kayak gini citranya PKL Alun-Alun yang menjadi sentra wisata kulinernya akhirnya turun juga," tandasnya.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Link Live Streaming Voli Indonesia vs Kamboja di SEA V Cup 2026: Skuad Garuda Siap Balas Dendam
• 9 jam lalu
0
thumb
Jepang Tetapkan Status Hari Panas Ekstrem untuk Pertama Kalinya
• 19 jam lalu
0
thumb
Rupiah Ditutup ke Rp17.917/USD Sore Ini
• 9 jam lalu
0
thumb
Kediri Urban Job Fair 2026 Sediakan 4.500 Lowongan Kerja, Mbak Wali Dorong Pengangguran Terus Turun
• 7 jam lalu
0
thumb
Peringati Hari Jadi Purwakarta, KDM Ajak Warga Jaga Ekosistem Wujudkan "Purwakarta Istimewa"
• 15 jam lalu
0
Berhasil disimpan.