Rumah milik salah seorang warga bernama Yusuf Wahyudi (37) di Jeblog, Kelurahan Tirtonirmolo, Kapanewon Kasihan, Kabupaten Bantul, dirusak oleh sejumlah orang yang diduga merupakan penagih utang atau debt collector (DC), Selasa (21/7) malam.
Belasan orang datang dengan empat mobil dan beberapa sepeda motor. Yusuf mengatakan di antara dari mereka bahkan membawa senjata tajam. Akibat peristiwa ini lemari etalase milik ibu Yusuf yang digunakan untuk berjualan dan dua lemari rusak.
Pantauan kumparan di lokasi, sejumlah batu sisa keributan juga masih ada di dalam rumah dan di dalam lemari etalase yang pecah.
Yusuf bercerita peristiwa ini bermula pada Selasa (21/7) siang. Saat itu, dia menerima telepon dari kakak perempuannya yang mengaku dibentak-bentak DC di rumahnya di Gamping, Kabupaten Sleman.
"Kakak saya kan bilang dibentak-bentak gitu. Nah, saya kan langsung ke sana. Ke sana, nggak tahu itu urusannya itu mobil telatnya berapa saya kan nggak tahu. Yang penting kan saya, ya masa kakak saya wanita digetak-getak saya kan ya juga emosi gitu kan," kata Yusuf.
Yusuf kemudian ke rumah kakaknya. Lalu, mobil Toyota Rush milik kakaknya dibawa saudara ke tempat yang aman.
Yusuf mengatakan, mobil itu tidak dibawa lari tetapi semata-mata dirinya takut mobil yang diketahui telat dibayar delapan bulan itu ditarik DC. Menurut Yusuf, kakaknya juga telah berkomitmen menyelesaikan tunggakan esok hari. Terlebih uang muka mobil itu mencapai Rp 50 juta dan sudah diangsur sekitar 15 kali.
"Maksudnya dibawa itu tidak bawa lari. Takutnya ditarik gitu toh. Wong besok kan mau diurus gitu (tunggakannya)" katanya.
Setelah itu, Yusuf pulang ke rumahnya di Kasihan. Namun, sekitar waktu Magrib, sejumlah orang mendatangi rumahnya.
"Nantang-nantang saya. Dikira saya yang backup dikira saya yang gimana," katanya.
Saat itu menurut Yusuf telah terjadi mediasi. Rombongan ini meminta "BT" atau uang makan sebesar Rp 25 juta. Saat mediasi itu Yusuf juga ditemani sejumlah rekannya, dan menyarankan untuk negosiasi.
"Dinego tetapi baru nego-negoan saya diserang," katanya.
Yusuf mengatakan salah satu di antara orang tersebut membawa celurit. Yusuf pun takut dan lari ke dalam rumah. Saat itu, di rumah juga tengah ada orang tua dan anak Yusuf yang masih berusia empat tahun.
"Ngoyak (kejar saya). Mamak (ibu saya) semaput (pingsan). Anak saya gendong, saya lewat belakang (rumah kabur). Tapi saya dengar 'dar der dar der, pyar pyar' (suara kaca pecah)," katanya.
Ketika Yusuf kembali ke rumah pagi harinya, dia menjumpai sudah ada beberapa kerusakan. Sebuah sepeda motor Vario juga sempat dibawa paksa rombongan ini, tetapi dikembalikan. Rombongan diduga DC itu membubarkan diri sekitar pukul 02.00 WIB.
Akibat peristiwa ini anaknya dan orang tua juga mengalami trauma. Sang anak bahkan tidak mau sekolah.
"Trauma tidak mau sekolah," kata Yusuf.
Belum Melapor PolisiYusuf mengatakan sampai saat ini pihaknya belum melaporkan ke polisi peristiwa ini. Selain masih berunding dengan keluarga, Yusuf masih berharap ada itikad baik dari pelaku. Namun apabila tak ada itikad baik, Yusuf berencana melapor ke polisi.
"Kalau ada itikad baiknya ya nggak papa ke sini. Tapi kan kalau nggak ada itikad baiknya kan yang nggak terima kan kakak saya. Saya nggak terimanya ini kan (ibu) nyawa saya sampai pingsan, anak saya juga nyawa saya," ujarnya.
Sementara itu, Kasi Humas Polres Bantul, Iptu Rita Hidayanto, mengatakan pihaknya telah mengecek lokasi kejadian.
"Belum ada laporan. Polisi sudah mendatangi lokasi kejadian. Jika ada perkembangan nanti disampaikan," kata Rita.






Komentar (0)