Malang (beritajatim.com) – Universitas Brawijaya (UB) Malang resmi melepas akademisi terbaiknya untuk bertugas dalam program Ekspedisi Patriot 2026. Acara pembekalan dan pelepasan berlangsung di Ruang Jamuan Lantai 6 Gedung Rektorat UB, Rabu (22/7/2026).
Sebanyak 25 dosen peneliti UB dipastikan terjun langsung ke kawasan transmigrasi di Indonesia Timur. Dari total tersebut, 20 dosen ditempatkan di Klamono Segun, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, sedangkan lima dosen lainnya disebar di lima titik wilayah Sulawesi Barat.
Ketua Tim UB untuk Ekspedisi Patriot 2026, Taufiq Ismail, S.S., S.E., M.M., Ph.D., mengungkapkan bahwa seluruh peserta merupakan hasil seleksi nasional yang sangat ketat. Proses tersebut melibatkan tim penilai independen, mulai dari seleksi proposal abstrak hingga evaluasi komprehensif bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta jajaran perguruan tinggi negeri (PTN) mitra.
“Dosen yang lolos sebanyak 25 orang. Mereka telah melalui proses seleksi ketat mulai dari abstrak hingga evaluasi tingkat nasional,” ujar Taufiq di sela kegiatan pelepasan.
Ia menambahkan, para peneliti yang berangkat dibekali kualifikasi khusus sesuai kriteria Kementerian Transmigrasi. Keberagaman latar belakang keilmuan dosen UB menjadi fondasi kuat untuk membedah persoalan pembangunan transmigrasi yang kompleks dan multidimensional.
Adapun jajaran akademisi yang terlibat berasal dari berbagai disiplin ilmu, seperti Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem (FTAB), Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK), Fakultas Peternakan, Fakultas Teknik, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), hingga Fakultas Ilmu Budaya (FIB). Selain itu, fakultas lain seperti Fakultas Kedokteran, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), serta Fakultas Pertanian juga turut mendukung ekosistem riset ini.
“Dalam pelaksanaan di lapangan, kami tidak berjalan sendiri. Program ini melibatkan 25 peneliti UB dan 125 alumni lintas universitas. Kami akan mengerjakan beberapa aspek rantai nilai (value chain), meliputi ketahanan pangan, pengolahan hasil, kesehatan, hingga pendidikan,” terangnya.
Dalam aspek pangan dan pengolahan, UB menurunkan kepakaran dari bidang peternakan, pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian (FTP), FTAB, hingga FPIK. Pengiriman tim lintas disiplin ini sengaja dirancang agar solusi yang dihadirkan di lokasi penugasan bersifat menyeluruh dari hulu hingga hilir.
Penentuan lokasi penugasan di Papua Barat Daya dan Sulawesi Barat sepenuhnya disesuaikan dengan peta prioritas pemerintah pusat. Program pengabdian intensif ini dijadwalkan berlangsung hingga akhir November 2026.
“Lokasi ini ditentukan langsung oleh Kementerian Transmigrasi untuk mengintervensi titik-titik fokus pembangunan. Keterlibatan ini menjadi bukti nyata rekognisi pemerintah terhadap kepakaran UB. Ilmu yang kami kembangkan di kampus dinilai mampu memberikan kontribusi riil bagi masyarakat,” kata Taufiq.
Taufiq menegaskan, fokus utama pengabdian UB pada Ekspedisi Patriot 2026 menitikberatkan pada pemberdayaan ekonomi kerakyatan. Namun, strategi peningkatan ekonomi tidak bisa hanya berdiri sendiri pada sektor produksi.
“Pemberdayaan ekonomi tidak dapat berdiri sendiri. Harus didukung oleh produksi yang presisi, pengolahan pascapanen yang baik, serta peningkatan kapasitas literasi, edukasi, dan kesehatan masyarakat. Semua lini saling menguatkan,” tegasnya.
Sebelum diturunkan ke lapangan, para akademisi UB dijadwalkan mengikuti pembekalan nasional bersama Kementerian Transmigrasi dan sembilan PTN mitra lainnya. Secara internal, UB juga membekali tim dengan mitigasi risiko, manajemen komunikasi masyarakat, tata kelola pelaporan, hingga pemetaan strategi program agar tepat sasaran.
Setibanya di lokasi, para dosen akan melakukan pemetaan kebutuhan bersama masyarakat lokal. Langkah ini diambil untuk memastikan program intervensi tepat guna serta memiliki indikator evaluasi yang terukur.
“Kami ingin memastikan apa yang dikerjakan benar-benar menjawab kebutuhan riil warga di lapangan. Kami berharap para dosen hadir membawa integritas dan kepakaran terbaik, sekaligus mau belajar bersama warga setempat,” tambahnya.
Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan UB, Dr. Setiawan Noerdajasakti, S.H., M.H., menegaskan keterlibatan kampus dalam Ekspedisi Patriot 2026 merupakan pembuktian UB sebagai impactful university atau perguruan tinggi yang memberikan dampak nyata.
Ia menilai, aksi nyata di tengah masyarakat transmigrasi dapat mengikis persepsi publik yang selama ini menganggap perguruan tinggi sebagai menara gading yang eksklusif.
“Melalui kegiatan ini, keterdampakan Universitas Brawijaya makin dirasakan langsung oleh masyarakat luas. Kesan bahwa universitas itu eksklusif atau jauh dari realitas sosial dapat kita tepis,” tutur Setiawan.
Ia juga berpesan kepada para dosen pembimbing lapangan agar tidak hanya mengawal teknis pelaksanaan program kerja, tetapi juga mendampingi kondisi psikologis dan adaptasi para peserta di daerah penugasan.
“Para dosen pembimbing harus membimbing tim dengan sebaik-baiknya. Selain fokus pada pencapaian target program kerja, aspek kesiapan mental dan kenyamanan anggota di daerah penugasan harus betul-betul diperhatikan,” pesan Setiawan menutup. (dan/kun)





Komentar (0)