Intervensi Pasar NDF hingga Dongkrak Suku Bunga SRBI, Begini Strategi Bos BI Perkuat Rupiah

viva.co.id
3 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo memastikan, pihaknya bakal terus memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah, melalui upaya optimalisasi berbagai instrumen.

Diketahui, nilai tukar rupiah kembali menguat ke Rp 17.885 per dolar AS pada 21 Juli 2026, setelah sempat melemah sejak akhir Juni 2026 akibat kembali meningkatnya konflik di Timur Tengah dan menguatnya ekspektasi pasar terhadap kenaikan FFR.

Baca Juga :
Bank Indonesia Tahan BI Rate di 5,75 Persen, Simak Penjelasan Lengkapnya
Rupiah Melemah ke Rp 17.931 saat Pasar Antisipasi Kenaikan BI Rate di Pengumuman RDG BI Hari ini

"Dengan perkembangan tersebut, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS relatif stabil dibandingkan dengan level pada akhir Juni 2026 yang sebesar Rp 17.880 per dolar AS," kata Perry dalam telekonferensi pers, Rabu, 22 Juli 2026.

Gubernur BI, Perry Warjiyo
Photo :
  • [tangkapan layar]

Guna tetap menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, BI juga akan terus mengoptimalkan intervensi baik di pasar NDF luar negeri (off-shore) maupun transaksi spot dan DNDF di pasar dalam negeri.

"Hal itu seiring upaya menaikkan suku bunga SRBI, untuk menarik aliran masuk investasi portofolio asing dan memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah," ujarnya.

Perry menambahkan, kepemilikan non-residen di SRBI juga tercatat meningkat dari Rp 238,09 triliun pada 15 Juni 2026, menjadi Rp 288,65 triliun pada 20 Juli 2026 atau 27,11 persen dari total posisi SRBI.

Selain itu, BI juga mengoptimalkan seluruh instrumen moneter dan memberikan insentif penurunan tingkat swap lindung nilai (hedging swap) sebesar 10 persen bagi investor asing. Tujuannya yakni untuk semakin meningkatkan daya tarik masuknya investor asing, serta mengompensasi kewajiban yang selama ini ditanggung investor.

Di sisi lain, lanjut Perry, BI juga memperluas instrumen operasi moneter valuta asing dengan instrumen spot dan swap, dalam valuta offshore Chinese Renminbi (CNH) terhadap Rupiah. Hal itu sejalan dengan meluasnya penggunaan mata uang lokal alias Local Currency Transaction (LCT), baik untuk penyelesaian transaksi perdagangan maupun investasi.

Ke depan, Perry memastikan bahwa pihaknya juga akan terus memperluas pemberian insentif, untuk tetap menarik aliran masuk modal asing dan memperkuat stabilitas nilai tukar Rupiah.

"Bank Indonesia meyakini, nilai tukar Rupiah akan stabil dan cenderung menguat, didukung oleh komitmen Bank Indonesia melalui berbagai penguatan stabilisasi nilai tukar Rupiah, imbal hasil yang menarik, serta prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap baik," ujarnya.

Baca Juga :
Rupiah Menguat ke Rp 17.938, Lesunya Investasi Domestik Dinilai Bisa Memperlambat Pertumbuhan Ekonomi RI
Rupiah Melemah ke Rp 17.994 Meskipun Kegiatan Usaha Kuartal II-2026 Dilaporkan Melonjak
Jaga Pertumbuhan Ekonomi dan Perkuat UMKM, Purbaya Pede Rupiah Bakal Ikut Menguat

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Felicia dan Vedra Lolos Grand Final The Icon Indonesia, Sheera Terhenti di Top 3
• 11 jam lalu
0
thumb
Cara Mengenali Orang yang Sedang Lelah Mental dari Ucapannya Sehari-hari
• 3 jam lalu
0
thumb
Profil Sudaryono: Dari Wamentan Hingga Ditunjuk Jadi Kepala BGN
• 6 jam lalu
0
thumb
KPK: Bupati Lombok Barat Punya 55 Aset Tanah, Banyak Tak Dilaporkan
• 13 jam lalu
0
thumb
APHI Dorong Multiusaha Kehutanan Perkuat Ekonomi Maluku Utara
• 7 jam lalu
0
Berhasil disimpan.