Kim Jong Un Bertemu Wang Huning dengan Cara yang Dianggap Merendahkan? Analis: Hubungan Tiongkok–Korea Utara Sedang Berubah

erabaru.net
5 jam lalu
Cover Berita

Baru-baru ini, saat Wang Huning, yang dijuluki sebagai “penasihat utama tiga generasi pemimpin Partai Komunis Tiongkok (PKT)”, melakukan kunjungan ke Korea Utara, cara Kim Jong Un menerimanya menarik perhatian publik. Kim hanya didampingi seorang penerjemah ketika bertemu dengan Wang Huning dan rombongan pejabat PKT. 

Pemandangan tersebut ditafsirkan oleh sebagian pengamat sebagai upaya sengaja untuk menonjolkan posisi dominan Korea Utara. Sejumlah analis menilai bahwa pertemuan ini mencerminkan Korea Utara yang semakin melepaskan diri dari pengaruh Beijing.

EtIndonesia.com Hubungan Tiongkok–Korea Utara dinilai tidak lagi sekadar hubungan “kakak dan adik”, melainkan hubungan yang memadukan kerja sama dengan sikap saling mewaspadai.

Dalam rekaman yang beredar, Kim Jong Un hanya didampingi seorang penerjemah ketika menerima delegasi PKT yang dipimpin Wang Huning. Kedua pihak duduk berhadapan di meja panjang. Sembilan pejabat PKT duduk di seberang Kim sambil mendengarkan dan mencatat, sehingga tercipta kontras yang mencolok: satu orang berbicara, banyak orang mendengarkan.

Banyak warganet menyindir bahwa suasana tersebut lebih menyerupai penyampaian laporan kerja kepada atasan. Ada pula yang berkomentar bahwa PKT tampak dipermalukan, bahkan stasiun televisi pemerintah Tiongkok, CCTV, disebut tidak berani menayangkan gambar keseluruhan ruangan.

“Situasinya sangat mirip dengan ketika Partai Komunis Tiongkok berbicara kepada tamu asing… Kim Jong Un tampak seperti sedang memberikan instruksi,” ujar peneliti Institute for National Defense and Security Research (INDSR) Taiwan, Shen Ming-shih. 

Sementara itu, penasihat khusus Indo-Pacific Strategic Think Tank, Chen Wenjia, mengatakan: “Ketidakseimbangan jumlah peserta, ditambah pengaturan ruang pertemuan, lebih mencerminkan kontrol simbolis yang dilakukan Korea Utara. Di satu sisi, Pyongyang tetap mempertahankan hubungan yang diperlukan dengan PKT, tetapi di sisi lain menggunakan bahasa visual untuk menonjolkan posisi sentral pemimpinnya dan kedaulatan negaranya.”

Dalam beberapa tahun terakhir, seiring semakin eratnya kerja sama antara Korea Utara dan Rusia, ruang gerak diplomatik Kim Jong Un dinilai semakin luas. Para pengamat menilai bahwa bahkan ketika menerima pejabat tinggi PKT, Korea Utara tidak lagi menunjukkan sikap sebagai “adik” yang bergantung pada Beijing, melainkan mengirimkan sinyal bahwa mereka tidak lagi ingin berada di bawah kendali Tiongkok.

Shen Ming-shih mengatakan: “Hubungan Korea Utara dengan Rusia semakin erat. Mereka bahkan memperoleh lebih banyak kerja sama militer dan teknologi dari Rusia. Keinginan Korea Utara untuk membangun kekuatan militer dan persenjataan sebagai negara besar terlihat sangat jelas.”

“Dulu Tiongkok masih dapat membatasi program nuklir Korea Utara atau mendukung sanksi terhadapnya. Namun sekarang, jika Beijing ingin menentangnya, kemungkinan sudah terlambat. Jika suatu hari Korea Utara dan Rusia bekerja sama untuk memberikan tekanan terhadap Tiongkok, Beijing tentu akan menghadapi situasi yang sulit,” jelasnya. 

“Karena itu, Tiongkok mungkin sudah mulai mengantisipasi kemungkinan tersebut. Hal ini juga diperkirakan menjadi salah satu tujuan kunjungan Xi Jinping ke Korea Utara sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa kedua negara memang bekerja sama, tetapi pada saat yang sama juga saling bersaing dan saling mewaspadai,” katanya. 

Para analis menilai bahwa hubungan Tiongkok–Korea Utara saat ini telah berubah. Hubungan tersebut bukan lagi sekadar hubungan antara “kakak dan adik”, melainkan hubungan yang diwarnai kerja sama sekaligus kewaspadaan.

Chen Wenjia mengatakan : “Selama ini PKT dipandang sebagai pendukung diplomatik terpenting Korea Utara. Namun dalam isu senjata nuklir maupun strategi luar negeri, pemerintahan Kim Jong Un selalu menekankan jalur yang independen dan menghindari masuk ke dalam kerangka strategi Beijing.” 

“Sebaliknya, PKT ingin menjaga stabilitas di Semenanjung Korea, tetapi tidak ingin menanggung terlalu banyak risiko akibat Korea Utara. Karena itu, meskipun kedua negara masih mempertahankan retorika persahabatan tradisional di depan publik, interaksi nyata mereka lebih merupakan pertukaran kepentingan dan pengelolaan risiko.” 

“Kunjungan tingkat tinggi kali ini, yang disertai dengan bentuk pertemuan yang terkesan dingin, justru menunjukkan bahwa hubungan kedua negara bukan sedang menghangat, melainkan berada dalam keseimbangan yang rumit antara kerja sama dan saling mewaspadai.”

Laporan oleh Chen Yue dan Chang Chun, NTD Television.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Musim Kemarau Picu Lonjakan Pneumonia di Jombang, RSUD Rawat 617 Pasien, 52 Meninggal Dunia
• 6 jam lalu
0
thumb
IHSG Berpotensi Sideways, Pasar Tunggu Keputusan BI Rate Hari Ini
• 6 jam lalu
0
thumb
Heboh Isu Babinsa Ikut Urus Pajak, Dirjen Pajak: Jangan Digoreng, Itu Aturan Lama
• 23 jam lalu
0
thumb
UB Kirim 25 Dosen Terbaik ke Papua dan Sulawesi Barat, Siap Sukseskan Ekspedisi Patriot 2026
• 1 jam lalu
0
thumb
Liverpool Banting Setir Kejar Pencetak Gol Spanyol di Final Piala Dunia yang Ingin Dibuang Barcelona
• 4 jam lalu
0
Berhasil disimpan.